Bisnis  

Strategi Emiten Properti BSDE dan MTLA Dorong Kinerja Meski BI Rate Stabil

, JAKARTA —

Sejumlah perusahaan properti seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) dan PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA) tengah merancang strategi untuk meningkatkan kinerja pada tahun 2026 di tengah penurunan daya beli masyarakat. Stabilnya suku bunga acuan serta keberlanjutan insentif PPN DTP dinilai menjadi faktor yang positif bagi sektor properti yang masih dalam fase konsolidasi.

Pertumbuhan Penjualan di Tengah Kondisi Pasar

BSDE melihat bahwa pertumbuhan penjualan pada tahun 2026 masih menjanjikan. Optimisme ini didukung oleh stabilnya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) serta dukungan dari fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang disediakan perbankan. Hal ini dinilai mampu menjaga daya beli konsumen.

Direktur BSDE Hermawan Wijaya mengatakan, sebagai perusahaan yang memiliki porsi pembiayaan KPR cukup besar, tingkat suku bunga menjadi faktor penting dalam mendorong minat beli. Keputusan BI menahan suku bunga di level saat ini memberikan ruang bagi konsumen untuk tetap agresif membeli properti.

“Dengan BI menahan suku bunga di level sekarang, peluang penjualan unit masih terbuka lebar. Ditambah lagi, banyak program bank yang menawarkan bunga KPR menarik, baik fix satu tahun, tiga tahun, hingga lima tahun,” ujarnya.

Hermawan menambahkan bahwa stabilnya suku bunga yang diiringi dengan perpanjangan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga akhir tahun ini menjadi dorongan tambahan bagi permintaan properti.

“Semoga nanti pemerintah bisa melihat efek dari PPN DTP ini bagus dan mendukung bisnis, sehingga itu bisa dilanjutkan pada tahun selanjutnya,” imbuhnya.

Target Marketing Sales yang Masih Terjangkau

Sejauh ini, manajemen BSDE tetap optimistis target marketing sales 2025 senilai Rp10 triliun masih berada di jalur yang tepat. Hingga September 2025, realisasi marketing sales telah mencapai sekitar 72%.

“Kalau melihat marketing sales sampai September 2025 yang sudah mencapai sekitar 72% kemungkinan besar target Rp10 triliun masih bisa tercapai. Kalaupun tidak 100% masih mendekati dan tetap di atas 90%,” katanya.

Selain menjaga momentum suku bunga, BSDE juga memaksimalkan insentif PPN DTP. Saat ini, perseroan memiliki sekitar 1.400 unit ready stock, dengan 80%–90% di antaranya memenuhi kriteria PPN DTP karena harga jual berada di bawah Rp5 miliar.

“PPN DTP ini kan yang berhak adalah harga sampai Rp5 miliar gitu ya, meskipun yang diambil adalah yang Rp2 miliar-nya saja yang pajaknya 100% di-cover oleh pemerintah. Kalau dilihat dari total stok tadi, mungkin sebagian besar masuk ke dalam range tersebut,” imbuh Hermawan.

Strategi Penjualan yang Selektif

Sementara itu, Direktur MTLA Olivia Surodjo menilai stabilitas suku bunga mampu menjaga minat beli masyarakat, khususnya pada segmen hunian yang mengandalkan pembiayaan KPR. Dengan BI Rate yang tetap, bunga KPR dinilai masih berada di level yang cukup menarik bagi konsumen.

Menurutnya, kondisi tersebut membantu menjaga minat beli di tengah proses pemulihan daya beli dan kepercayaan konsumen yang masih berlangsung.

“Meski dampaknya tidak bersifat langsung, kebijakan suku bunga yang stabil dinilai cukup mendukung kinerja penjualan perseroan sepanjang tahun ini,” ujarnya.

Olivia menambahkan bahwa stabilnya suku bunga juga diyakini dapat mempercepat pengambilan keputusan pembelian, terutama pada segmen residensial. Ditambah dengan adanya insentif PPN DTP, peluang terjadinya transaksi di pasar properti dinilai semakin terbuka.

Meski demikian, MTLA tetap menerapkan strategi penjualan yang selektif dengan menghadirkan produk-produk yang sesuai kebutuhan pasar. Perseroan secara khusus menyasar segmen first home buyer yang dinilai masih memiliki potensi permintaan cukup besar.

Peran PPN DTP dalam Meningkatkan Penjualan

Senada, PT Indonesian Paradise Property Tbk. (INPP) memanfaatkan PPN DTP untuk menopang kinerja penjualan, dengan mengandalkan proyek hunian vertikal Antasari Place sebagai motor pertumbuhan tahun ini.

Presiden Direktur INPP Anthony Prabowo Susilo menyampaikan insentif PPN DTP terbukti mendorong penjualan unit di proyek Antasari Place dan 31 Sudirman Suites, dengan sekitar 10%—20% pembeli memanfaatkan fasilitas tersebut. Perpanjangan PPN DTP hingga 31 Desember 2027 dinilai memberikan visibilitas lebih panjang terhadap penyerapan penjualan residensial.

“Proses handover Antasari Place yang masih berlanjut diproyeksikan tetap menjadi kontributor dominan terhadap marketing sales perseroan pada tahun ini,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip, Senin (19/1/2025).

Ke depan, INPP mengandalkan kombinasi proyek eksisting dan pengembangan baru, seraya memperkuat pendapatan berulang dari segmen komersial dan hospitality sebagai penopang kinerja di tengah pemulihan sektor yang bertahap.

Prospek Sektor Properti 2026

Secara umum, sektor properti diperkirakan bergerak relatif stabil pada 2026, seiring kondisi pasar yang masih berada dalam koridor ekspektasi pelaku usaha dan investor.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza, menilai keputusan BI menahan suku bunga acuan di level 4,75% berdampak netral bagi sektor properti. Di satu sisi, cicilan KPR tidak mengalami tekanan tambahan, namun di sisi lain tingkat bunga tersebut belum cukup rendah untuk mendorong lonjakan permintaan.

“Stabilitas suku bunga membantu menjaga sentimen, namun tidak cukup kuat memicu rebound penjualan,” ujarnya.

Liza memperkirakan peluang penurunan suku bunga masih terbuka, tetapi lebih realistis terjadi pada paruh kedua 2026. Dengan demikian, awal 2026 diperkirakan masih menjadi fase stabilisasi, bukan periode akselerasi.

Meski demikian, sejumlah sentimen positif mulai terbentuk, mulai dari insentif PPN DTP, permintaan hunian untuk kebutuhan dasar, tren urbanisasi, hingga potensi dimulainya program pembangunan 3 juta rumah oleh pemerintah.

Selain itu, kontribusi pendapatan berulang dari aset sewaan seperti pusat perbelanjaan, apartemen, hingga properti logistik diperkirakan semakin signifikan dan menjadi penopang baru di tengah melambatnya penjualan unit.

Di sisi lain, tantangan masih membayangi. BI Rate yang belum turun, daya beli yang rapuh, serta overhang stock dari penjualan sebelumnya berpotensi menekan kinerja 2026 akibat efek keterlambatan pengakuan pendapatan.

“Ke depan, kinerja emiten properti akan semakin kurang bergantung pada penjualan unit dan lebih ditopang kestabilan arus kas dari aset sewaan,” terangnya.

Pandangan senada disampaikan Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, Gani. Menurutnya, dalam waktu dekat tidak akan terjadi pergerakan signifikan pada sektor properti.

“Karena pergerakannya masih sesuai ekspektasi, kami memperkirakan tidak akan ada lonjakan atau koreksi yang terlalu besar,” katanya.

Meski demikian, Gani melihat potensi katalis ke depan, mulai dari peningkatan likuiditas dan pertumbuhan uang beredar (M2) hingga peluang penurunan suku bunga KPR. Namun, pemulihan permintaan dinilai masih berlangsung bertahap dan membutuhkan sentimen tambahan.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *