Pemulihan Pariwisata di ASEAN: Indonesia Tertinggal di Tengah Persaingan Regional
Pemulihan sektor pariwisata di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) pasca-pandemi menunjukkan tren positif, namun posisi Indonesia dalam kompetisi regional terlihat semakin tertinggal. Berbeda dengan negara-negara tetangga yang mampu memperkuat daya tarik wisatawan mancanegara, Indonesia justru menghadapi tantangan serius dalam menjaga eksistensinya sebagai destinasi utama.
Sandy Pramuji, Senior Analyst NEXT Indonesia Center, menyampaikan bahwa posisi pariwisata Indonesia kini tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga, terutama Vietnam yang telah berhasil menyalip posisi Indonesia selama dua tahun berturut-turut. Data dari ASEAN Statistics Division (ASEANStats) menunjukkan bahwa jumlah wisatawan mancanegara (wisman) ke ASEAN pada 2024 mencapai lebih dari 127 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 85,70% kunjungan terkonsentrasi di lima negara. Thailand menjadi yang terbesar dengan 35,5 juta wisman, diikuti Malaysia (25 juta), Vietnam (17,6 juta), dan Singapura (16,5 juta). Sementara itu, Indonesia hanya mampu menarik 14,3 juta wisman, berada di urutan kelima.
Vietnam, kata Sandy, menunjukkan agresivitas yang luar biasa dalam membenahi ekosistem pariwisata pascapandemi. Awalnya, jumlah wisman ke Vietnam hanya 4.000 orang pada 2021. Namun, angka ini melonjak menjadi 12,6 juta pada 2023 dan naik lagi menjadi 17,6 juta pada 2024. Capaian ini melampaui Indonesia yang hanya mampu menarik 11,7 juta wisman pada 2023 dan 14,3 juta pada 2024.
“Vietnam bergerak sangat serius dengan pembangunan infrastruktur masif seperti Bandara Long Thanh yang diproyeksikan dapat menampung 100 juta penumpang per tahun, sementara kita masih berkutat pada kendala konektivitas udara yang terbatas,” tambah Sandy.
Ketertinggalan ini menjadi alarm bagi daya saing pariwisata nasional di pasar internasional. Pada 2022, Indonesia menguasai 13,51% pangsa pasar ASEAN, namun angka ini turun menjadi 11,45% pada 2023, dan kembali melemah ke 11,28% pada 2024.
Masalah Struktural dalam Membangun Daya Tarik Wisatawan Tiongkok
Di sisi lain, Indonesia bahkan kalah telak dalam memperebutkan pasar wisatawan dari Tiongkok. Padahal, Tiongkok telah menjadi motor utama pemulihan pariwisata bagi Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura. Namun, masyarakat Tiongkok belum melirik Indonesia sebagai destinasi utama liburan mereka.
Sebagai perbandingan, kunjungan warga Tiongkok ke Indonesia pada 2024 hanya mencapai 1,2 juta orang. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kunjungan warga Tiongkok ke Thailand (6,7 juta), Vietnam (3,7 juta), Malaysia (3,3 juta), dan Singapura (3,1 juta).
“Ketertinggalan dalam merebut hati turis dari raksasa Asia ini mengindikasikan persoalan yang lebih struktural. Mungkin mereka masih enggan datang karena terbatasnya konektivitas langsung ke tujuan wisata, promosi yang belum cukup tersegmentasi, serta kesiapan destinasi non-Bali yang belum konsisten,” ungkap Sandy.
Masalah Ketergantungan pada Bali
Persoalan lain yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah adalah kondisi Pulau Bali yang mulai menunjukkan tanda-tanda jenuh atau overload. Kemacetan parah di titik-titik favorit, masalah tumpukan sampah, hingga bencana lingkungan akibat alih fungsi lahan mulai mengurangi kenyamanan wisatawan di Pulau Dewata tersebut. Ketergantungan yang terlalu sempit pada Bali sebagai magnet tunggal menjadi risiko besar bagi masa depan pariwisata nasional.
Program “Bali Baru” dan Destinasi Superprioritas
Pemerintah sebenarnya telah menginisiasi program “Bali Baru” dan menetapkan lima Destinasi Superprioritas (DSP) untuk mendiversifikasi daya tarik. Namun, pengembangan DSP seperti Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo masih menghadapi hambatan serius pada ekosistem layanan dan kesinambungan investasi. Bahkan, satu destinasi yakni Likupang di Sulawesi Utara, mulai kehilangan gairah setelah tidak lagi masuk dalam daftar kegiatan prioritas utama pada RPJMN 2025-2029.
“Pembangunan DSP seharusnya bukan sekadar proyek fisik, melainkan tolok ukur efektivitas kebijakan nasional. Jika DSP gagal menarik arus wisman internasional secara signifikan, maka seluruh investasi infrastruktur tersebut hanya akan menjadi ‘proyek di atas kertas’ yang sepi pengunjung,” tandasnya.
Keberanian untuk Berbenah
Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara yang memiliki keindahan alam serta keanekaragaman budaya yang tak tertandingi, Indonesia seharusnya menjadi magnet utama wisatawan mancanegara. Namun, potensi tersebut seolah tidak dimaksimalkan sehingga posisi Indonesia selain kalah dari Vietnam tapi juga mudah disalip oleh Singapura, negara terkecil di ASEAN.
Senior Analyst NEXT Indonesia Center itu pun mengatakan, sudah saatnya Indonesia tidak terjebak pada satu destinasi saja. Dibutuhkan keberanian untuk benar-benar berbenah dan kerja sama lintas sektor untuk membenahi masalah mendasar, mulai dari tingginya biaya transportasi domestik, minimnya konektivitas udara internasional langsung ke destinasi superprioritas, hingga peningkatan kualitas layanan di lapangan.
“Bisa dibilang pilihannya hanya dua, yaitu kita berani melakukan perombakan untuk membenahi kualitas pariwisata nasional demi merebut pasar wisatawan mancanegara, atau pasrah melihat devisa pariwisata kita terus mengalir keluar ke negara tetangga,” tutup Sandy Pramuji.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












