Bisnis  

Visa kuasai pasar pembayaran global lewat integrasi stablecoin di tengah ledakan transaksi aset digital

Visa Memperkuat Perannya dalam Sistem Pembayaran Global

Visa semakin memperkuat posisinya dalam sistem pembayaran global dengan memasukkan stablecoin ke dalam infrastruktur pembayaran yang telah mapan. Integrasi ini dilakukan di tengah lonjakan transaksi aset digital dan perubahan arsitektur keuangan global, yang mendorong perusahaan pembayaran besar untuk beradaptasi tanpa meninggalkan jaringan pedagang yang sudah ada.

Stablecoin, yang nilainya biasanya dipatok pada mata uang fiat seperti dolar AS, tidak dilihat oleh Visa sebagai pengganti sistem pembayaran konvensional, melainkan sebagai teknologi tambahan yang perlu dihubungkan dengan jaringan penerimaan pedagang yang sudah mapan. Dengan pendekatan ini, Visa memposisikan diri sebagai penghubung antara inovasi berbasis blockchain dan aktivitas ekonomi sehari-hari.

Cuy Sheffield, Kepala Divisi Kripto Visa, menegaskan bahwa meskipun teknologi stablecoin memungkinkan sistem pembayaran dibangun secara terpisah dari jaringan lama, koneksi dengan ekosistem pedagang tetap menjadi prasyarat utama adopsi luas. “Anda tetap harus kembali dan terhubung dengan ekosistem penerimaan pedagang yang sudah ada jika ingin produk itu digunakan,” ujar Sheffield.

Hingga saat ini, penggunaan stablecoin secara langsung di tingkat pedagang masih terbatas. Sheffield menyebut belum ada “penerimaan pedagang dalam skala besar” yang memungkinkan pemegang stablecoin membelanjakan aset digital tersebut secara luas dalam transaksi ritel harian. Kondisi ini justru menegaskan peran Visa sebagai infrastruktur penghubung yang masih sangat dibutuhkan.

Inisiatif Baru Visa dalam Integrasi Stablecoin

Sejalan dengan hal itu, Visa meluncurkan sejumlah inisiatif, termasuk kartu pembayaran yang terhubung dengan stablecoin. Pada Desember lalu, perusahaan ini memulai program percontohan yang memungkinkan sejumlah bank di Amerika Serikat melakukan penyelesaian transaksi dengan Visa menggunakan USDC, stablecoin yang diterbitkan oleh Circle.

Dalam fase transisi ini, Sheffield menilai ketergantungan perusahaan kripto terhadap jaringan Visa justru meningkat. “Perusahaan membutuhkan produk dan layanan Visa lebih dari sebelumnya agar benar-benar bisa menghadirkan pengguna nyata,” katanya. Pernyataan ini menegaskan posisi Visa sebagai infrastruktur utama dalam ekosistem pembayaran digital, bukan sekadar penyedia layanan tambahan.

Dari sisi volume, penyelesaian transaksi stablecoin melalui Visa telah mencapai tingkat tahunan sekitar USD 4,5 miliar, setara Rp 76,0 triliun dengan kurs Rp 16.880 per dolar AS. Angka ini masih jauh lebih kecil dibandingkan total volume pembayaran Visa sepanjang tahun lalu yang mencapai USD 14,2 triliun, atau sekitar Rp 239,7 kuadriliun.

Namun, Sheffield menekankan bahwa pertumbuhan berlangsung konsisten. “Ini tumbuh secara signifikan dari bulan ke bulan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa permintaan terutama datang dari penyedia kartu berbasis stablecoin.

Dinamika di Sektor Keuangan Global

Langkah Visa ini berlangsung di tengah dinamika yang lebih luas di sektor keuangan global. Selain itu, sejumlah bank besar seperti Goldman Sachs, UBS, dan Citi menyatakan tengah mengeksplorasi penerbitan stablecoin mereka sendiri, seiring kekhawatiran bahwa aset digital tersebut berpotensi menggeser peran bank komersial dalam arus pembayaran lintas negara.

Di Eropa, bank seperti ING dan UniCredit bahkan membentuk entitas khusus untuk meluncurkan stablecoin yang dipatok pada euro, sebagai upaya menyeimbangkan dominasi pembayaran digital berbasis dolar AS.

Secara global, nilai stablecoin yang beredar kini melampaui USD 270 miliar, lebih dari dua kali lipat dibandingkan dua tahun lalu, menurut data yang dihimpun Visa bersama analis blockchain Allium Labs.

Meski demikian, analis JPMorgan sebelumnya mengingatkan bahwa gagasan stablecoin sepenuhnya menggantikan uang konvensional masih jauh dari kenyataan, mengingat sebagian besar volume transaksi saat ini masih didorong aktivitas nonpembayaran, seperti arbitrase oleh pelaku perdagangan frekuensi tinggi.

Visa Mengambil Jalur Evolusi, Bukan Disrupsi

Dengan memilih mengintegrasikan stablecoin ke dalam sistem pembayaran yang telah mapan, Visa menempuh jalur evolusi, bukan disrupsi. Strategi ini mencerminkan upaya perusahaan keuangan global mempertahankan relevansi di era aset digital dengan menjembatani inovasi teknologi dan kebutuhan praktis ekonomi dunia.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *