Siswa Kembar SMA DCC Global School Bandar Lampung Juara Kejuaraan Taekwondo

Siswa Kembar Berprestasi di Taekwondo

Siswa kembar berusia 15 tahun, Muhamad Hafiz Ramdhan dan Muhamad Hanan Ramadhan dari SMA DCC Global School Bandar Lampung, berhasil meraih berbagai juara dalam lomba Taekwondo. Keduanya memiliki karakter dan perjalanan yang unik, tetapi satu hal yang sama adalah semangat berprestasi yang tak pernah padam di atas matras.

Sejak duduk di bangku kelas 2 SMP, Hafiz dan Hanan mulai menekuni Taekwondo atas arahan sang ibu. Awalnya, Hanan lebih dulu berlatih karena disuruh ibu. Ia mengungkapkan bahwa awalnya ia lebih dulu berlatih Taekwondo karena disuruh ibu. Melihat Hanan menikmati latihan, sang ibu kemudian mengajak Hafiz untuk ikut bergabung.

Awalnya Hafiz tidak ingin masuk Taekwondo sebab sudah bergabung di ekstakulikuler futsal dan takut dirinya tidak fokus di futsal lagi. Namun dengan dorongan sang ibu agar mereka berlatih bersama membuat Hafiz akhirnya mencoba. Seiring waktu, ia pun merasa betah dan serius menekuni taekwondo hingga sekarang.

Dalam waktu yang relatif singkat, prestasi demi prestasi berhasil mereka raih, baik di tingkat nasional maupun internasional. Beberapa kejuaraan yang pernah mereka ikuti antara lain:

  • Bali Taekwondo Indonesia Championship pada 25-28 Juli 2024
  • Hanan mendapat juara 3 dalam kelas under 49 kg.
  • Hafiz mendapat juara 2 dalam kelas under 53 kg.

  • CNN Indonesia Taekwondo Championship pada 14-16 November 2025

  • Hanan Juara 1 dalam kelas under 53 kg.
  • Hafiz Juara 2 under 55 kg.

  • Liga Taekwondo DKI Jakarta Series 9 pada 21-23 Februari 2025

  • Hanan Juara 1 (Under 49 kg)
  • Hafiz Juara 1 (Under 53 kg)

  • International Inter Student Taekwondo Championship (IISDC) pada 26-28 Desember 2025

  • Hanan Juara 3 (Under 55 kg)
  • Hafiz Juara 3 (Under 63 kg)

Kejuaraan terakhir yang mereka ikuti adalah IISDC di Tangerang pada Desember 2025. Meski menghadapi lawan-lawan yang lebih tinggi dan berat karena naik ke kelas junior, keduanya tetap mampu memenangkan juara. “Yang paling berat itu IISDC, karena baru pindah dari kadet ke junior. Lawannya tinggi-tinggi, sempat kena mental,” ujar Hanan.

Perjalanan mereka tentu tidak selalu mulus. Hanan pernah mengalami cedera kaki saat latihan fleksibilitas. Sementara Hafiz sempat cedera kaki, saat bertanding dalam kondisi cedera dan kuku kaki lepas saat kejuaraan CNN Indonesia 2024. Namun cedera tak membuat mereka mundur. Dengan istirahat dan pemulihan yang cukup, keduanya kembali berlatih.

Mereka mengatakan untuk persiapan lomba biasanya dilakukan 1 hingga 1,5 bulan, dengan latihan intensif. Mulai dari jogging, latihan fisik berat menggunakan jaket parasut, hingga menjaga pola makan demi menyesuaikan kelas berat badan yang mereka inginkan. Untuk menjaga berat badan dan stamina tubuh, mereka juga mengonsumsi makanan sehat yang tinggi serat.

“Jaga makan, kurangi gula, banyak minum, dan jogging,” ujar keduanya kompak soal tips menjaga berat badan.

Bagi Hafiz dan Hanan, taekwondo bukan hanya soal menang dan medali namun juga sarana untuk mengembangkan bakat diri mereka. Mereka mengaku mendapatkan banyak pengalaman berharga dari mengikuti berbagai perlombaan, mulai dari teman baru dari berbagai daerah hingga pelajaran tentang disiplin dan mental bertanding. “Ikut lomba itu seru, bisa kenal banyak orang dari berbagai kota dan provinsi,” kata Hafiz.

Perubahan besar juga dirasakan dalam gaya hidup. Hanan mengaku sebelum berlatih taekwondo berat badannya sempat menyentuh 60 kg. Kini, berat badannya lebih terkontrol di kisaran 48–50 kg berkat latihan rutin.

Di balik konsistensi mereka, ada sosok ibu yang selalu memberi dukungan penuh. Mulai dari mengarahkan, menemani latihan, hingga menyemangati saat lomba. “Mungkin mama lihat potensi dan pengen anaknya berprestasi,” ujar Hafiz.

Kini, keduanya yang sudah duduk di kelas 10 SMA mulai lebih fokus berlatih dan mengikuti berbagai perlombaan taekwondo demi masa depan. Setelah lulus SMA Hafiz bercita-cita melanjutkan ke sekolah kedinasan, sementara Hanan ingin terus berprestasi dan menjaga kondisi tubuh melalui taekwondo.

Saudara kembar ini sepakat tak harus memiliki mimpi yang sama. Saat ini, Hafiz dan Hanan tengah rehat sejenak usai lomba pada Desember lalu. Namun target perlombaan yang akan mereka ikuti selanjutnya sudah menanti. Mereka berencana kembali turun di kejuaraan taekwondo sekitar Maret atau April, bahkan berpeluang kembali bertanding di Bali.

Saat ditanya mengapa selalu memilih perlombaan di luar daerah, mereka sepakat menjawab karena tingkat perlombaan yang sudah tinggi. Keduanya juga berpesan untuk anak-anak yang baru ingin mencoba taekwondo, pesan mereka sederhana namun bermakna. “Jalanin dulu aja. Awal-awal capek itu biasa. Yang penting semangat,” ucap keduanya.

Bagi Hafiz dan Hanan, taekwondo bukan hanya olahraga, tapi perjalanan hidup yang membentuk disiplin, keberanian, dan mimpi besar yang mereka jalani bersama, sebagai saudara kembar.


Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *