Era Greg Abel: Perubahan yang Menghadirkan Tantangan dan Ketidakpastian
Berkshire Hathaway, perusahaan konglomerasi yang telah dipimpin oleh Warren Buffett selama lebih dari enam dekade, kini memasuki era baru dengan bergabungnya Greg Abel sebagai CEO. Meskipun Buffett tetap berperan di balik layar sebagai ketua dewan direksi, kepercayaan investor terhadap masa depan perusahaan tampaknya masih belum sepenuhnya stabil. Hal ini menunjukkan bahwa transisi kepemimpinan di perusahaan dengan figur sentral seperti Buffett tidak mudah.
Pasar Merespons Negatif Transisi Kepemimpinan
Dalam wawancara terbaru, Buffett menegaskan bahwa perubahan kepemimpinan tidak akan mengubah arah Berkshire Hathaway. Ia menyatakan bahwa semuanya akan tetap sama. Namun, pergerakan saham Berkshire Hathaway justru menunjukkan ketidakpuasan pasar. Sejak pengumuman pensiun Buffett pada awal Mei tahun lalu, saham perusahaan turun sekitar 7 persen hingga akhir tahun, sementara indeks S&P 500 naik sekitar 20 persen. Perbedaan ini menunjukkan adanya “succession discount” atau diskon valuasi akibat kekhawatiran tentang transisi kepemimpinan.
Pada hari pertama perdagangan di bawah kepemimpinan Greg Abel, saham Berkshire kembali melemah lebih dari 1 persen, sementara S&P 500 menguat. Perbedaan ini memperkuat keyakinan sebagian investor bahwa mereka masih bersikap wait and see terhadap era baru Berkshire.
Warisan Buffett dan Beban yang Diwariskan ke Abel
Buffett telah membangun Berkshire Hathaway selama hampir 60 tahun, mengubah perusahaan tekstil yang nyaris bangkrut menjadi konglomerasi bernilai triliunan dolar. Selama periode tersebut, saham Berkshire mencatatkan pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 19,9 persen, hampir dua kali lipat dari rata-rata S&P 500 yang berada di level 10,4 persen.
Meski mengakui bahwa warisan tersebut bukan hal mudah untuk diteruskan, Buffett menilai Greg Abel sebagai sosok yang tepat. Ia bahkan menyampaikan keyakinannya secara terbuka. “Saya lebih memilih Greg yang mengelola uang saya dibandingkan penasihat investasi atau CEO mana pun di Amerika Serikat,” kata Buffett.
Abel juga berupaya meredam kekhawatiran investor. Dalam rapat tahunan pemegang saham pada Mei 2025, ia menegaskan kesinambungan strategi Berkshire. “Kami akan tetap menjadi Berkshire. Cara Warren dan tim mengalokasikan modal selama 60 tahun terakhir tidak akan berubah,” ujar Abel.
Greg Abel, 63 tahun, bergabung dengan Berkshire pada 1999 melalui akuisisi MidAmerican Energy. Ia kemudian mengembangkan unit tersebut menjadi Berkshire Hathaway Energy, yang kini bernilai lebih dari 90 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.502 triliun (kurs Rp16.696) dan mencakup bisnis energi terbarukan, pipa, serta utilitas di Amerika Utara dan Inggris.

Kekhawatiran Soal Pengelolaan Portofolio Saham
Selain menjalankan bisnis operasional, Berkshire Hathaway juga mengelola portofolio saham senilai sekitar 311 miliar dolar AS atau setara Rp5.192 triliun, salah satu yang terbesar di dunia. Portofolio ini dibangun melalui investasi ikonik di perusahaan seperti Apple, Coca-Cola, dan American Express.
Kekhawatiran investor meningkat setelah salah satu dari dua manajer investasi Berkshire, Todd Combs, hengkang ke JPMorgan Chase. Dengan kepergian Combs, Ted Weschler kini menjadi pengelola utama portofolio saham Berkshire.
Meski memiliki rekam jejak impresif—mengembangkan dana pensiun individu senilai 70 ribu dolar AS menjadi 221 juta dolar AS atau setara Rp3,68 triliun —Buffett pernah mengakui bahwa kinerja Weschler dan Combs sejak bergabung “sedikit” tertinggal dari S&P 500.
Sejumlah investasi yang dikaitkan dengan Weschler juga belum memberikan hasil signifikan. Investasi Berkshire senilai 4 miliar dolar AS atau setara Rp66,78 triliun di DaVita relatif stagnan dalam lima tahun terakhir, sementara saham Sirius XM turun sekitar dua pertiga dari nilai investasinya.

Buffett Masih Berperan di Balik Layar
Meski tak lagi menjabat sebagai CEO, Buffett belum sepenuhnya meninggalkan Berkshire. Ia tetap menjadi ketua dewan direksi dan menguasai sekitar 30 persen hak suara perusahaan. Ia juga masih akan menghadiri rapat tahunan pemegang saham, meski tidak lagi menjadi pembicara utama.
Buffett menilai latar belakang operasional Abel cukup untuk memimpin Berkshire, meski ia tidak dikenal sebagai pemilih saham ulung. “Dia sangat memahami bisnis. Jika Anda memahami bisnis, Anda akan memahami saham biasa,” ujar Buffett pada rapat pemegang saham 2024.
Dalam wawancara yang sama, Buffett juga menyampaikan keyakinannya terhadap daya tahan Berkshire Hathaway. “Menurut saya, perusahaan ini punya peluang lebih besar untuk tetap ada 100 tahun ke depan dibandingkan perusahaan mana pun yang saya tahu,” ujarnya.

Berkshire masuki era Greg Abel menandai babak baru bagi salah satu perusahaan paling berpengaruh di dunia. Meskipun Warren Buffett menegaskan kesinambungan strategi dan nilai perusahaan, respons pasar menunjukkan bahwa kepercayaan penuh terhadap era pasca-Buffett masih membutuhkan waktu.












