Daerah  

Trasa Balong, Kebun Sayur di Bawah Flyover Jakarta



JAKARTA,

Di bawah flyover Jalan Haji Darip, RW 08, Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Kamis (18/12/2025), kehidupan kota terus berlangsung. Deru sepeda motor dan mobil bersahut-sahutan melintas di atas jalur layang Becakayu. Sesekali, bunyi klakson dari jalan arteri di sisi kawasan memecah ritme lalu lintas yang nyaris tanpa jeda. Getaran halus kendaraan berat terasa hingga ke bawah flyover, menjadi latar konstan bagi aktivitas warga dan petugas di kawasan tersebut. Namun, tepat di bawah struktur beton raksasa itu, tampak pemandangan yang kontras.

Area yang sebelumnya identik dengan tanah gersang, kotor, dan tak terurus kini menjelma menjadi kebun kota yang tertata rapi. Bedeng-bedeng tanaman berjajar mengikuti kontur lahan, dipisahkan oleh jalur paving yang bersih. Tanah terlihat gembur dan lembap, menandakan perawatan rutin. Di beberapa titik, papan kecil penanda jenis tanaman tertancap di bedeng, memberi kesan kebun edukatif di tengah hiruk-pikuk kota. Sejumlah petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) tampak berjongkok di antara tanaman. Dengan seragam oranye yang kontras dengan hijaunya dedaunan, mereka merapikan daun, mencabut gulma, dan memastikan tanaman tumbuh dengan baik. Di sudut lain, beberapa warga duduk sejenak di tepi bedeng, mengamati tanaman di sela aktivitas harian mereka. Semua berlangsung tanpa menghilangkan kebisingan lalu lintas di sekitarnya.

Kawasan ini dikenal sebagai Trasa Balong, akronim dari Sentra Sayur Bawah Kolong, kebun kota yang berdiri di bawah kolong flyover Becakayu. Di tempat ini, beragam tanaman tumbuh subur, mulai dari sawi, kangkung, cabai, jagung, tomat, terong, hingga tanaman hias dan pohon tabebuya. Pepohonan dan semak hijau berfungsi sebagai peneduh alami, membuat udara di kolong flyover terasa lebih sejuk dibandingkan kawasan jalan di sekitarnya. Bau tanah basah dan dedaunan segar sesekali tercium, menetralkan aroma asap kendaraan. Pilar-pilar flyover yang sebelumnya kusam kini dihiasi mural berwarna cerah. Lukisan-lukisan itu menambah kesan hidup pada ruang publik yang dulunya terabaikan.

Berawal dari Ruang Kumuh

Ajul (50), petugas PPSU yang sejak awal terlibat dalam pengelolaan Trasa Balong, menjadi saksi perubahan kawasan ini. Saat ditemui di lokasi, ia bercerita bahwa dirinya mulai terlibat sejak 2016. “Dari awal saya ikut. Dulu masih jalan biasa, belum seperti sekarang,” ujar Ajul saat ditemui langsung di Trada Balong. Ia mengatakan, inisiatif awal datang dari lurah setempat, bersama Nahdlatul Ulama (NU) dan warga. Sejak awal, warga dilibatkan dalam proses penataan dan penanaman. Awalnya, area tersebut langsung ditanami sayuran, lalu berkembang dengan penambahan berbagai jenis tanaman lain. “Bibit tanamannya macam-macam. Kadang cari sendiri, kadang minta dari kelurahan. Warga juga ikut kalau ada,” kata Ajul.

Perawatan dilakukan secara rutin, meski dengan keterbatasan. Sayuran dipanen kurang lebih sebulan sekali dan dihitung per ikat, bukan ditimbang. Hasil panen tidak diperjualbelikan, melainkan dibagikan kepada warga sekitar. “Semua kebagian. Warga ikut, PPSU juga kebagian,” ujar dia. Ajul menambahkan, warga kerap memasak hasil panen dan membagikannya kembali kepada petugas. Menurutnya, Trasa Balong terasa berbeda dibandingkan kolong flyover lain yang banyak dibiarkan kosong dan tak terurus. “Ini bisa jadi contoh. Kolong lain kan banyak yang kosong,” ucap Ajul.

Warga Merasa Memiliki

Bagi Darma (40), warga RW 08 Cipinang Melayu, perubahan kolong flyover ini terasa nyata. Ia mengingat betul kondisi kawasan tersebut sebelum ditata. “Dulu di sini gelap, kotor, orang juga jarang lewat,” kata Darma. “Sekarang sudah beda. Lebih terang, bersih, dan enak dilihat. Kalau lewat juga rasanya lebih adem karena banyak tanaman,” lanjutnya. Menurut Darma, keberadaan kebun kota membuat warga lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Ia menyebut warga kerap menyiram tanaman atau membersihkan area kebun ketika melintas. “Kadang kalau lihat tanaman kering ya disiram, atau ada sampah langsung dibersihin. Soalnya ini buat kita juga,” ujar dia. Rasa memiliki tumbuh seiring keterlibatan warga. Darma berharap kebun kota ini dapat terus dipertahankan dan menjadi contoh bagi kolong-kolong flyover lain di Jakarta yang masih terbengkalai.

Perspektif Lingkungan: Solusi Berbasis Alam

Pengamat lingkungan Mahawan Karuniasa menilai pemanfaatan kolong flyover sebagai kebun kota memiliki relevansi penting dalam konteks ekologi perkotaan. Menurut dia, ruang di kolong flyover dan kolong tol dapat disebut sebagai residual urban space atau ruang sisa perkotaan yang selama ini jarang dimanfaatkan. “Padahal ruang sisa ini merupakan salah satu aset lingkungan perkotaan,” ujar Mahawan saat dihubungi. Pemanfaatan ruang sisa menjadi kebun kota, lanjutnya, dapat menjadi bentuk nature-based solution untuk meningkatkan layanan ekosistem perkotaan, termasuk mengurangi fenomena urban heat island atau kantong-kantong panas di kota akibat dominasi bangunan dan minimnya ruang hijau. “Kehadiran tumbuhan di kolong flyover bisa membantu menurunkan suhu dan membuat lingkungan lebih sejuk,” kata dia.

Selain itu, kebun kota berpotensi meningkatkan infiltrasi air, meski tantangannya tidak kecil karena kolong flyover tidak selalu terpapar hujan. Jika tanah dibiarkan terbuka dan tidak ditutup beton, air hujan tetap dapat diserap. Namun, Mahawan mengingatkan bahwa manfaat lingkungan ini perlu dicermati secara ilmiah. “Bukan berarti manusia terus menghasilkan polusi, lalu tumbuhan disuruh menyerap semuanya,” ujar Mahawan. Pemilihan jenis tanaman, menurut dia, harus mempertimbangkan ketahanan terhadap panas, polusi, keterbatasan sinar matahari, serta ketersediaan air. Aspek estetika juga dinilai penting agar ruang tersebut menyenangkan untuk dipandang.

Catatan Soal Pangan dan Keberlanjutan

Terkait urban farming, Mahawan mengingatkan agar aspek pangan tidak dilihat secara gegabah. Menanam tanaman pangan di kolong tol, misalnya, perlu kehati-hatian karena risiko pencemaran. “Kalau menanam cabai di kolong tol, polusinya kan tinggi. Harus dipastikan apakah layak dikonsumsi,” kata dia. Ia juga menyoroti tantangan keberlanjutan program. Karena berstatus ruang sisa, pemanfaatan kolong flyover kerap tidak menjadi prioritas kebijakan dan mudah berganti seiring pergantian kepemimpinan. “Jangan sampai hanya program sesaat. Setelah ditanam, tidak dirawat, lalu mati dan malah jadi kumuh,” ujar dia. Menurut Mahawan, pemanfaatan kolong flyover perlu diintegrasikan dalam perencanaan kota, lengkap dengan desain, teknologi pendukung, pendanaan berkelanjutan, serta sistem monitoring dan evaluasi.

Tata Kota dan Ruang Publik

Pengamat perkotaan Universitas Indonesia, Muh Aziz Muslim, menilai inisiatif pemanfaatan kolong flyover sebagai ruang publik dan urban farming layak diapresiasi. Di tengah keterbatasan ruang terbuka di Jakarta, kebun kota dinilainya menjadi alternatif ruang publik gratis yang inovatif. “Kalau direncanakan secara holistik, ini bisa menjadi solusi penyediaan ruang terbuka hijau bagi masyarakat,” kata Aziz saat dihubungi. Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas instansi, termasuk dengan pengelola jalan tol, agar pemanfaatan kolong flyover tidak mengganggu fungsi infrastruktur dan keselamatan. Selain meningkatkan kualitas lingkungan, Aziz melihat kebun kota sebagai ruang temu yang dapat memperkuat interaksi sosial warga, terutama bagi anak-anak yang semakin sulit menemukan ruang bermain di kota. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar terletak pada aspek pemeliharaan dan rasa memiliki. Partisipasi warga menjadi kunci agar ruang publik seperti Trasa Balong tidak hanya dibangun, tetapi juga dirawat bersama.

Trasa Balong menunjukkan bahwa ruang yang selama ini terabaikan dapat diubah menjadi kebun kota yang produktif. Di bawah bayang-bayang beton flyover, sayuran tumbuh, warga berinteraksi, dan lingkungan menjadi lebih hijau, tanpa sepenuhnya menghilangkan denyut keras kehidupan kota Jakarta.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *