Tanah Aceh Mengeras Seperti Agar-Agar Pasca Banjir, Dosen UGM Ungkap Bahaya

Fenomena Tanah Membal di Aceh Usai Banjir

Lini masa media sosial X dan Instagram kembali ramai membahas kondisi tanah di Aceh setelah terjadi banjir pada November 2025. Perbincangan ini salah satunya dipicu oleh unggahan Hamish Daud Wyllie di akun Instagram pribadinya, @hamishdw, pada Selasa (16/12/2025). Ia mengunggah foto kaki-kaki kecil anak-anak di Aceh Utara yang bermain di atas tanah dengan tekstur membal, menyerupai agar-agar.

Dalam unggahan lain yang beredar, tanah tersebut digambarkan memiliki lapisan atas yang kering dan mengeras, sementara bagian bawahnya masih menyimpan air. Kondisi ini membuat kendaraan berat sulit melintas dan dikhawatirkan membahayakan warga sekitar. Pertanyaannya adalah, seberapa berbahayakah kontur tanah membal tersebut?

Bahaya Kontur Tanah Membal Usai Banjir

Dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Salahuddin Husein, menjelaskan bahwa tanah membal atau lembek pasca-banjir menandakan ketidakstabilan kontur tanah yang cukup ekstrem. “Kondisi ini berpotensi menyebabkan lubang runtuhan atau longsoran, serta tidak mampu menahan beban kendaraan maupun bangunan hingga tanah benar-benar kering dan padat,” ujarnya saat dimintai pandangan, Kamis (18/12/2025).

Menurutnya, struktur tanah dalam kondisi tersebut mengalami perubahan besar pada kekuatan mekaniknya. Dalam kajian geoteknik, fenomena ini biasanya terjadi akibat kejenuhan air total yang dipengaruhi sifat fisik tanah tertentu. Waktu pemulihan tanah pun bervariasi. Umumnya membutuhkan beberapa minggu, tergantung jenis tanah dan kondisi cuaca setempat.

Penyebab Tanah Membal Setelah Banjir

Salahuddin memaparkan setidaknya ada empat faktor utama yang menyebabkan tanah menjadi lentur dan menyerupai gel:

  1. Hilangnya tegangan efektif

    Efek banjir menyebabkan air mengisi pori-pori antara butiran-butiran tanah yang kering dan lembab. Pada tanah yang kering dan lembab, terdapat butiran-butiran individual yang saling bersentuhan dan menciptakan gesekan yang menjaga tanah tetap padat. Sifat ‘agar-agar’ terjadi ketika air pori mendorong butiran-butiran tanah terpisah, yaitu suatu kondisi terbentuknya tekanan air pori yang melawan berat tanah itu sendiri. Ketika tekanan ini cukup tinggi, gesekan antar butiran turun hingga mendekati nol, membuat tanah berperilaku seperti cairan kental atau gel daripada padat.

  2. Terjadi tiksotropi (goyangan)

    Pascabanjir, umumnya tanah akan menunjukkan sifat tiksotropi, terutama tanah yang kaya lempung atau lumpur. Tiksotropi adalah sifat cairan atau gel yang menjadi lebih encer akibat viskositasnya turun. Kondisi ini terjadi ketika beberapa struktur mineral lempung disatukan oleh muatan listrik yang lemah. Ketika tanah tidak terganggu, tanah tetap stabil. Akan tetapi, ketika tanah kaya lempung tersebut diinjak atau digetarkan, tekanan dapat memutus ikatan listrik yang lemah ini sehingga kondisi tanah berubah seperti jeli. Setelah tekanan berhenti bergerak, tanah akan mulai mengeras lagi bersamaan ikatan listrik lemah terbentuk kembali.

  3. Likuifaksi tanah

    Meskipun biasanya dikaitkan dengan gempa bumi, likuifaksi statis dapat terjadi pada pasir dan lumpur yang sangat gembur dan jenuh air setelah banjir. Kondisi ini terjadi karena tanah sangat gembur dan jenuh sehingga tanah tidak dapat menopang beban tambahan apa pun. Saat menerima tekanan ketika diinjak atau digoyang, butiran tanah mencoba mengatur ulang diri menjadi ruang yang lebih rapat, tetapi karena air tidak memiliki tempat untuk mengalir dengan cepat, air tersebut malah menopang beban, menyebabkan tanah bergoyang atau “mengapung”.

  4. Endapan sedimen baru

    Banjir sering kali meninggalkan lapisan lumpur dan tanah liat segar (aluvium). Lapisan baru ini bersifat tidak terkompaksi karena belum sempat mengendap atau terkompresi oleh berat. Selain itu, lapisan tanah tersebut juga sangat terhidrasi karena mengandung sejumlah besar air relatif terhadap partikel padat, menciptakan tekstur yang secara alami “encer” atau elastis.

Apa yang Harus Dilakukan?

Kontur tanah yang membal umumnya bakal kembali mengeras ke kondisi semula secara alami. Namun, untuk mempercepat proses tersebut, diperlukan upaya penstabilan tanah membal pascabanjir. Berikut caranya:

  1. Perbaiki drainase

    Memperbaiki drainase bisa dilakukan dengan cara menggali parit dangkal di sekitar area yang terkena dampak untuk memberi jalan bagi air yang terperangkap agar bisa keluar. Jika air tidak memiliki tempat untuk mengalir, air akan tetap berada di “pori-pori” tanah tanpa batas waktu.

  2. Membuat lubang

    Setelah permukaan tanah cukup keras atau padat, buatlah lubang di tanah (lubang aerasi) yang dapat membantu udara mencapai lapisan yang lebih dalam, agar mempercepat penguapan.

  3. Hindari tekanan berat

    Hindari mengemudikan kendaraan atau mesin berat di atas tanah berkontur membal. Hal ini karena tekanan berat kendaraan justru dapat menjebak air lebih dalam atau menyebabkan air terpaksa naik ke permukaan dan membuat stabilitas semakin buruk.

  4. Gunakan krikil

    Untuk jalan setapak yang terpaksa digunakan, Anda bisa meletakkan lapisan kerikil kasar atau serpihan kayu di permukaannya. Tujuannya agar dapat membantu mendistribusikan berat ke lumpur di bawahnya.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *