Penemuan Bunga Bangkai Langka di Sumatera Barat
Universitas Oxford di Inggris menjadi sorotan setelah mengunggah informasi tentang penemuan bunga bangkai langka, Rafflesia hasseltii, tanpa menyebutkan nama para peneliti Indonesia yang terlibat dalam ekspedisi tersebut. Peristiwa ini memicu reaksi keras dari netizen Indonesia, yang menilai tindakan universitas tersebut tidak adil dan tidak menghargai kontribusi para ilmuwan lokal.
Bunga bangkai langka ini ditemukan di hutan Sumatera Barat pada 17 November 2025, dan segera menjadi perhatian dunia. Namun, euforia itu langsung berubah menjadi perdebatan setelah Universitas Oxford hanya menyebutkan nama ilmuwan mereka dalam unggahan resmi, tanpa mencantumkan kontribusi peneliti dan pemandu lokal yang terlibat langsung dalam ekspedisi tersebut.
Ekspedisi gabungan ini melibatkan beberapa tokoh penting, antara lain Septian Andriki atau Deki, pengamat bunga asal Bengkulu; Joko Witono dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Dr Chris Thorogood dari Universitas Oxford; serta pemandu lokal bernama Iswandi. Dalam video yang diunggah oleh Thorogood di media sosial, terlihat Deki berlutut dan menangis haru di samping bunga parasit merah raksasa dengan bintik putih tersebut.
“Saya menyaksikan proses mekarnya. Setelah 13 tahun mencari, perjalanan 20 jam, dan pendakian tiga jam, bunga itu mekar tepat di depan mata saya. Saya terharu,” kata Deki kepada This Week in Asia. Ia juga menyampaikan bahwa Thorogood mengatakan dirinya terlalu berhalusinasi, sedangkan Iswandi bilang ia kerasukan.
Namun, dua hari kemudian, Universitas Oxford mengunggah cuitan yang hanya menyebut nama Thorogood sebagai bagian dari tim pencarian di hutan Sumatera yang dipenuhi harimau. Unggahan tersebut menuai kecaman, termasuk dari tokoh publik Indonesia seperti Anies Baswedan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sekaligus eks calon presiden.
Menanggapi kegaduhan yang terjadi, Universitas Oxford kemudian memperbaiki unggahan mereka pada 27 November. Dalam twit terbaru, Oxford mencantumkan nama seluruh tim ekspedisi, termasuk Deki, Joko, Iswandi, dan peneliti kehutanan Agus Susatya, serta menyebut Deki sebagai pahlawan konservasi lokal.
Meski begitu, Deki sendiri mengaku tidak mempersoalkan unggahan awal Oxford. “Saya bukan akademisi, saya bukan peneliti,” ujarnya. “Chris mengatakan dalam video itu, ‘Kami menemukannya,’ yang berarti kita semua, tapi publik tidak mendengarnya. Netizen kita terlalu kejam.” Ia menambahkan, “Tidak masalah kalau nama saya tidak disebut. Yang penting kita menyadarkan masyarakat tentang pentingnya konservasi.”
Thorogood juga secara terbuka memuji Septian sebagai pahlawan sejati ekspedisi, dan menyanjung keterampilannya menemukan Rafflesia hasseltii yang sangat langka itu.
Apa Kata Pakar?
Lailatul Fitriyah, dosen di Claremont School of Theology Amerika Serikat, menyebut kejadian ini sebagai bentuk kolonialisme pengetahuan dan penjarahan epistemologis yang masih kerap terjadi dalam kolaborasi akademik. Praktik serupa pernah terjadi sebelumnya. Pada 2012, ilmuwan Amerika Serikat dan Jerman melaporkan penemuan spesies tawon Megalara garuda di Sulawesi tanpa menyebut nama peneliti Indonesia, Rosichon Ubaidillah, meski terlibat langsung.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (sekarang BRIN) saat itu menyebut kelalaian tersebut sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman yang telah disepakati. Benni Hasbiyalloh, dosen hubungan internasional di Universitas Paramadina, mengatakan bahwa praktik semacam ini bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, yang mewajibkan pencantuman nama ilmuwan lokal dalam publikasi hasil kerja sama riset internasional.
“Sering kali, universitas besar hanya mencantumkan nama peneliti mereka, padahal para ahli lokal justru yang memiliki pengetahuan lokasi dan memungkinkan riset itu dilakukan,” ujar Benni. Menurut dia, praktik “parasit sains” seperti ini bisa menciptakan persepsi keliru bahwa peneliti Indonesia tidak kompeten, yang berdampak pada minimnya pendanaan dan dukungan struktural bagi ilmuwan lokal.
“Indonesia sudah jadi lahan subur untuk penelitian, tetapi para peneliti kita justru melarikan diri ke luar negeri karena tidak mendapat cukup dukungan di dalam negeri,” katanya.
Sekilas tentang Septian “Deki” Andriki
Ketertarikan Deki terhadap Rafflesia dimulai pada 2012 saat kali pertama melihat bunga tersebut di hutan Boven Lais, tak jauh dari rumahnya di Bengkulu. “Saya kembali ke habitat itu hampir setiap hari, berharap bunga itu mekar lagi. Ternyata baru muncul sembilan bulan kemudian,” katanya.
Demi obsesinya terhadap bunga raksasa ini, Deki rela berhenti dari pekerjaannya sebagai guru olahraga yang bergaji Rp 100.000 per tiga bulan, lalu berjualan sate untuk membiayai ekspedisi ke berbagai wilayah di Sumatera dan Jawa. Sejauh ini, ia telah menemukan 12 dari 17 spesies Rafflesia yang diketahui tumbuh di Indonesia.
Kini, selain bertani dan mengurus dua anaknya, Deki juga menyelenggarakan wisata alam untuk pengunjung mancanegara yang ingin melihat langsung flora langka di hutan Sumatera. Ia juga mendesak agar Rafflesia segera dimasukkan dalam Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), mengingat habitat bunga tersebut terus tergerus oleh ekspansi perkebunan kopi dan sawit.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."












