Kayu Gelondongan di Banjir Sumatera: Jenis dan Sumber Asalnya
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyebutkan bahwa kayu gelondongan yang ditemukan di lokasi banjir di Sumatera terdiri dari berbagai jenis pohon. Hal ini menunjukkan adanya keanekaragaman spesies yang terdapat di wilayah tersebut. Selain itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga mengungkapkan adanya jejak gergaji mesin di beberapa kayu gelondongan yang ditemukan.
Pakar geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menjelaskan bahwa munculnya kayu gelondongan merupakan tanda adanya kerusakan masif pada ekosistem hulu. Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengenai jenis-jenis kayu gelondongan yang ditemukan serta sumber asalnya.
Jenis-Jenis Kayu Gelondongan di Banjir Sumatera
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Krisdianto, menjelaskan bahwa hasil sampling identifikasi di Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, menunjukkan bahwa kayu gelondongan tidak berasal dari satu jenis saja.
Beberapa jenis kayu yang ditemukan antara lain:
* Mempisang (Mezzettia sp) dari kelompok rimba campuran
* Tanjung (Mimusops sp) dari kelompok kayu indah 2
* Simpur (Dillenia sp) dari kelompok rimba campuran
* Pasang (Quercus sp) dari kelompok kayu indah 2
* Nyatoh (Madhuca sp) dari kelompok kayu komersial 1
* Batang sawit
Kelompok kayu komersial, kayu rimba campuran, dan kayu indah sebagaimana disebut di atas merupakan klasifikasi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 163/Kpts-II/2003. Klasifikasi ini dibuat berdasarkan pengenaan iuran kehutanan.
Berikut adalah kelompok jenis kayu berdasarkan pengenaan iuran:
* Kelompok jenis meranti/kelompok komersial 1
* Kelompok jenis kayu rimba campuran/kelompok komersial 2
* Kelompok jenis kayu eboni/kelompok indah 1
* Kelompok jenis kayu indah/kelompok indah 2
Darimana Asal Kayu Gelondongan?
Pertanyaan tentang asal kayu gelondongan yang muncul dalam banjir masih menjadi misteri. Krisdianto menyatakan bahwa Kemenhut belum bisa menjawab apakah kayu-kayu tersebut berasal dari tanaman atau alam, karena perlu cross check dengan daerah hulu.
Untuk memastikan identitas kayu-kayu tersebut, Kemenhut memanfaatkan alat identifikasi kayu otomatis atau AIKO. Meskipun AIKO hanya sebagai alat bantu, petugas di lapangan tetap memiliki peran penting dalam mengidentifikasi jenis kayu.
Jejak Gergaji Mesin di Kayu Gelondongan
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut adanya jejak gergaji mesin di kayu-kayu gelondongan yang ditemukan. Menurutnya, tim di lapangan menemukan beberapa kayu yang memiliki bekas potongan dari chainsaw.
Untuk menyelidiki kayu-kayu gelondongan di banjir Sumatera, polisi berkolaborasi dengan Kemenhut dalam Satuan Tugas (Satgas) Gabungan. Tim sedang turun untuk menyusuri dari daerah aliran sungai yang terdampak sampai tarik ke hulu dan hilirnya.

Tiga Sumber Utama Penyebab Munculnya Kayu Gelondongan
Menurut analisis pakar geomatika ITS, ada tiga sumber utama yang menjelaskan mengapa kayu-kayu tersebut muncul dalam jumlah besar:
1. Bekas Hutan yang Ditebang
Kayu-kayu tersebut berasal dari bekas hutan yang ditebang, baik melalui aktivitas legal maupun ilegal. Pada banyak lokasi hulu, batang-batang kayu sisa land clearing, tumpukan kayu di jalur tebang, maupun kayu yang ditinggalkan di bantaran sungai tidak tampak saat kondisi normal. Namun, ketika hujan ekstrem turun, air deras menyeret kayu, memobilisasi potongan-potongan besar yang sebelumnya tertahan di hulu.
2. Pohon Tumbang Akibat Longsoran
Kayu juga berasal dari pohon-pohon yang tumbang akibat longsoran besar di lereng curam. Ketika lereng kehilangan vegetasi penahan, tanah menjadi tidak stabil. Saat tanah yang jenuh air runtuh, longsoran tersebut menarik batang-batang pohon keluar dari area bekas tebangan serta menyeret pohon tua dan vegetasi yang masih tersisa.
3. Erosi Tebing Sungai
Sebagian kayu terbawa akibat erosi tebing sungai dan sedimentasi berat. Pada daerah aliran sungai (DAS) yang telah kehilangan tutupan hutan, tanah menjadi rapuh dan dinding sungai mudah tergerus. Ketika debit air ekstrem terjadi, sungai mengalami peningkatan arus secara tiba-tiba, sehingga menggerus dindingnya, mencabut pohon-pohon yang tumbuh di bantaran, dan sekaligus menyeret kayu-kayu sisa tebangan yang sebelumnya tersangkut di hulu.
Dari semua faktor tersebut, munculnya kayu gelondongan bukan hanya akibat hujan ekstrem, tetapi juga indikator kuat bahwa telah terjadi pembukaan hutan secara masif di wilayah hulu.
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”












