JAKARTA — Krisis iklim semakin memperparah frekuensi dan intensitas bencana alam di berbagai wilayah dunia, termasuk banjir yang terjadi di Sumatra sejak beberapa minggu lalu. Kondisi ini mendorong masyarakat untuk mencari solusi mitigasi, salah satunya dengan memasang atap tahan angin atau yang dikenal sebagai “atap super” di rumah mereka, yang juga bisa diasuransikan.
Di negara bagian North Carolina, Amerika Serikat (AS), pemerintah setempat meluncurkan program obligasi bencana senilai US$600 juta. Program ini memberikan insentif kepada pemilik rumah dan perusahaan asuransi yang memasang atap super. Atap tersebut dirancang khusus untuk menahan angin kencang dengan menggunakan bahan seperti paku berulir yang kuat serta penyegelan tambahan pada bagian bawah dan tepi atap.
Program ini dibuat sebagai respons atas ketidakmampuan pemerintah federal AS dalam menyediakan dana untuk mengatasi dampak krisis iklim. Selain itu, banyak perusahaan swasta enggan menanggung risiko properti di daerah tersebut karena tingginya potensi kerusakan akibat badai.
Wilayah pesisir North Carolina sering terkena badai, sehingga banyak warga memilih asuransi dari Asosiasi Penjaminan Asuransi North Carolina (NCIUA). NCIUA adalah perusahaan asuransi yang bertindak sebagai penanggung opsi terakhir untuk properti di pesisir. Seperti perusahaan asuransi lainnya, NCIUA harus membeli reasuransi untuk mengurangi risiko keuangan jika terjadi bencana besar.
Salah satu cara yang digunakan NCIUA adalah melalui obligasi bencana, yaitu instrumen keuangan yang membayarkan jumlah tertentu jika kerusakan mencapai tingkat tertentu. Opsi ini populer karena jarang dipicu dan memberikan imbal hasil yang baik.
Pada awal 2025, NCIUA menawarkan obligasi bencana dengan dua fitur yang terkait dengan pengurangan risiko kerusakan akibat angin. Pertama, jika tidak ada kerugian besar dalam setahun, NCIUA akan menerima kembali US$2 juta yang dialokasikan untuk mendorong pemilik rumah memasang atap super. Kedua, harga tahunan obligasi akan diatur ulang sesuai dengan jumlah orang yang memasang atap super.
Meski menjanjikan, program ini menghadapi tantangan utama, yaitu biaya yang lebih tinggi sekitar US$3.400 daripada atap standar dan spesifikasi yang melebihi kode bangunan. Akibatnya, hanya sedikit pemilik rumah yang memilih atap super.
Untuk mengatasi hal ini, NCIUA mulai menawarkan penggantian atap super secara gratis bagi pemilik rumah yang membutuhkan atap baru setelah badai. Mereka juga melakukan edukasi kepada konsumen dan kontraktor, serta memperluas insentif seperti hibah sebesar US$6.000 untuk atap super selama penggantian rutin, meskipun biaya peningkatan hanya sebagian kecil dari itu. Hibah tersebut kemudian dinaikkan menjadi US$10.000.
Program ini mulai populer sejak dua tahun lalu. Hingga saat ini, lebih dari 20.574 rumah telah memiliki atap super atau sedang dalam proses pemasangan, dengan lebih dari 6.000 rumah ditambahkan pada tahun ini.
Manfaat finansial dari program ini sudah terlihat. NCIUA menemukan bahwa rumah yang diperkuat memiliki klaim 60% lebih sedikit daripada rumah yang hanya mematuhi kode standar selama badai biasa. Dalam badai besar, klaim turun 20% hingga 30%, dengan tingkat kerusakan yang lebih rendah.
NCIUA memperkirakan akan mendapatkan kembali US$72 juta selama 10 tahun dari investasi atap tersebut. Hasil ini sebagian besar berasal dari penghematan pembelian reasuransi karena portofolio mereka menjadi lebih aman, serta kerugian yang dapat dihindari setelah badai.
Program ini disebut revolusioner oleh Shalini Vajjhala, pendiri dan direktur eksekutif PRE Collective, sebuah organisasi nirlaba dalam bidang iklim. Ia mengatakan bahwa program North Carolina ini mengubah peta permainan. Menurutnya, program ini bisa menjadi model percontohan dalam menghubungkan pengelolaan risiko finansial dengan risiko fisik. Selain mengurangi risiko, Vajjhala setuju bahwa penanggung asuransi juga bisa memperoleh keuntungan.
Masih ada tantangan dalam mengimplementasikan program ini untuk bencana alam lain, karena variasi dalam upaya pengurangan risiko dari berbagai jenis bencana. Namun, Dave Jones, seorang profesor dari Universitas California, Berkeley dan perancang polis asuransi kebakaran hutan, mengatakan bahwa obligasi semacam itu tetap menarik bagi para penanggung asuransi opsi terakhir.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."












