Investasi AI yang Mengkhawatirkan
Banyak perusahaan teknologi ternama, seperti Google, Microsoft, dan Meta, sedang mengalokasikan dana besar untuk pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Namun, menurut CEO Alphabet, Sundar Pichai, investasi dalam teknologi ini terlalu berlebihan dan irasional. Pernyataan tersebut disampaikan Pichai dalam wawancara eksklusif dengan media.
Pichai menyebut lonjakan investasi AI sebagai “momen luar biasa”, tetapi ia menilai hal ini bukan pertama kalinya terjadi. Menurutnya, industri teknologi sering kali menggelontorkan investasi berlebihan ketika memasuki siklus “antusias”. Terkadang, nilai investasinya melampaui fundamentalnya.
Meskipun demikian, Pichai menekankan bahwa teknologi tetap transformatif hingga mendesain ulang cara orang bekerja dan berinteraksi secara digital. Bagi bos Google ini, “booming AI” saat ini mirip dengan fenomena “bubble dot-com” di akhir tahun 90-an hingga awal 2000-an. Saat itu, investor banyak menginvestasikan uang ke startup yang belum memiliki model bisnis jelas, hanya bermodalkan website dan janji pertumbuhan.
Investasi itu didorong oleh keyakinan bahwa “internet akan mengubah segalanya”. Tak lama, banyak startup yang akhirnya kolaps. Pichai menyebut bahwa kita bisa kembali ke internet saat ini. Meski ada banyak investasi berlebih, tidak seorang pun dari kita akan bertanya apakah internet penting. Ia yakin bahwa internet telah mengubah cara kerja masyarakat secara fundamental. Ia berharap AI akan melakukan hal yang sama.
Kecemasan tentang Spekulasi
Pichai tidak menjelaskan lebih rinci apa yang dimaksud dengan irasional dalam konteks tersebut. Kemungkinan, hal itu merujuk pada keputusan spekulatif tanpa perhitungan matang karena takut tertinggal tren. Meski begitu, ia mengatakan bahwa perkembangan teknologi selalu membawa dampak, termasuk AI.
Pichai sadar bahwa AI berdampak besar terhadap tenaga kerja karena bisa memangkas sejumlah profesi. Namun, di sisi lain juga menciptakan pekerjaan baru yang lain. Menurutnya, mereka yang mengadopsi dan mengintegrasikan AI ke profesinya adalah mereka yang akan menjadi pemenang dalam tren AI.
“Tidak masalah apakah Anda ingin jadi guru atau dokter. Semua profesi itu akan tetap ada, tetapi orang yang akan berhasil di masing-masing profesi tersebut adalah orang yang belajar cara memakai perangkat ini (AI),” jelas pria kelahiran India itu.
Tantangan dan Solusi
Pichai juga tidak menampik bahwa krisis, termasuk krisis AI, bisa memengaruhi setiap perusahaan di industri teknologi, termasuk Google. Namun dia optimistis pendekatan terintegrasi seperti chip AI khusus, layanan berbasis data seperti YouTube, hingga model AI yang dibangun sendiri oleh perusahaan, bisa menjadi penyangga krisis tersebut.
Pichai yakin bahwa Google mampu mengatasi krisis AI, meskipun para analis menyebut krisisnya tak terelakkan. Pernyataan Pichai senada dengan yang pernah dikatakan CEO OpenAI, Sam Altman Agustus lalu. Dalam sebuah wawancara Agustus 2025 lalu, Altman berkata bahwa AI generatif bisa menjadi “bubble” alias gelembung yang bisa saja “pecah” di kemudian hari, mirip dengan fenomena “bubble dot-com”.
“Ketika gelembung terjadi, orang pintar menjadi terlalu bersemangat pada inti kebenaran,” ujar Altman saat itu. “Apakah kita berada dalam fase di mana investor terlalu bersemangat tentang AI? Pendapat saya adalah ya. Apakah AI hal terpenting yang terjadi dalam waktu yang sangat lama? Pendapat saya juga ya,” lanjut bos ChatGPT itu.
Ekspansi Strategis di Inggris
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan, Pichai mengungkapkan ekspansi AI perusahaan di Inggris dengan dana investasi senilai 5 miliar poundsterling (sekitar Rp 109 triliun) selama dua tahun untuk penelitian dan infrastruktur, termasuk proyek DeepMind di London. Upaya ini juga menandai pertama kalinya Google bakal melatih model AI-nya di Inggris.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”












