Terduga Pelaku Peledakan di SMAN 72 Jakarta Terinspirasi dari Enam Tokoh Kekerasan
Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap bahwa terduga pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta, yang dikenal sebagai anak berkonflik dengan hukum (ABH), terinspirasi oleh enam tokoh atau aksi kekerasan. Penjelasan ini disampaikan oleh Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana dalam konferensi pers di Jakarta.
Eka menjelaskan bahwa ada sekitar enam tokoh yang menjadi inspirasi bagi ABH. Berikut adalah beberapa tokoh tersebut:
-
Eric Harris dan Dylan Klebold – Pelaku penembakan di Columbine High School, Colorado, Amerika Serikat pada tahun 1999. Keduanya beraliran Neo-Nazi.
- Neo-Nazi adalah gerakan ekstrem kanan yang menghidupkan kembali ideologi Nazi Jerman. Mereka menekankan supremasi ras Arya dan kebencian terhadap kelompok minoritas.
-
Dylan Ruff Charleston – Pelaku penembakan di Gereja Charleston, South Carolina, pada tahun 2015. Ia beraliran White Supremacy.
- White Supremacy adalah keyakinan bahwa ras kulit putih lebih unggul dari ras lain.
-
Alexandre Bissonete – Pelaku serangan di Gereja Quebec, Kanada, pada tahun 2017. Ia juga beraliran White Supremacy.
-
Vladislav Roslyakov – Pelaku serangan di Politeknik Kerch, Rusia, pada tahun 2018. Ia beraliran Neo-Nazi.
-
Brenton Tarrant – Pelaku penembakan di Mesjid Christchurch, Selandia Baru, pada tahun 2019. Ia beraliran Fasis, Rasis, dan Ethno Nasionalis.
- Ethno-nasionalis adalah gerakan yang menekankan identitas dan loyalitas terhadap satu etnis tertentu sebagai dasar pembentukan negara atau kekuasaan politik.
- Fasis adalah ideologi politik yang menekankan nasionalisme ekstrem, ketaatan mutlak pada pemimpin, serta penggunaan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaan.
- Rasis merujuk pada sikap, keyakinan, atau sistem yang menganggap satu ras lebih unggul dari ras lain.
-
Natalie Lynn Rupnow – Pelaku penembakan di Abundant Life Christian School, Wisconsin, Amerika Serikat, pada tahun 2024. Ia beraliran Neo-Nazi.
Pengaruh Media Sosial dalam Aksi Kekerasan
Eka menjelaskan bahwa ABH tidak hanya terinspirasi dari tokoh-tokoh tersebut, tetapi juga mengikuti komunitas media sosial yang mengagumi tindakan kekerasan. Dalam komunitas tersebut, ketika beberapa pelaku melakukan tindakan kekerasan lalu mengunggahnya ke media sosial, komunitas tersebut mengapresiasi tindakan tersebut sebagai sesuatu yang heroik.
Eka menambahkan bahwa ABH hanya mempelajari dan mengikuti beberapa tindakan ekstremisme yang dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa ABH tidak mengikuti satu ideologi yang konsisten. Namun, ada pola yang berurutan dalam postingan mereka di komunitas media sosialnya.
“Kesadaran ini penting bagi kita di masa depan terkait adanya kekerasan di dunia maya,” ujar Eka. Ia menekankan bahwa perlu adanya pengawasan dan kesadaran masyarakat akan dampak negatif dari konten kekerasan yang tersebar di internet.











