Penurunan Pertumbuhan Simpanan Kelompok Menengah Bawah
Pertumbuhan simpanan masyarakat dengan saldo di bawah Rp 100 juta tercatat mengalami penurunan. Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), pertumbuhan tabungan pada Desember 2025 hanya sebesar 3,43%, yang lebih rendah dibandingkan November 2025 yang mencapai 3,64%. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih belum pulih sepenuhnya.
Menurut Ferdinan D. Purba, anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Polis LPS, pertumbuhan tabungan kelompok kecil masih sangat dipengaruhi oleh faktor musiman. Ia menjelaskan bahwa meskipun secara agregat simpanan di bawah Rp 100 juta tumbuh sekitar 3,43%, ketika dilihat lebih detail, khususnya pada tiering paling bawah, pertumbuhannya berada di kisaran 2,6% hingga 6,5%.
Perbandingan Pertumbuhan Tabungan Berdasarkan Jumlah Saldo
- Tabungan antara Rp 50 juta hingga Rp 100 juta pada Desember 2025 tumbuh 2,51%, lebih rendah dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 2,73%.
- Tabungan antara Rp 25 juta hingga Rp 50 juta meningkat 2,24%, lebih rendah dari 3,19% di November 2025.
- Tabungan antara Rp 10 juta hingga Rp 25 juta pada Desember 2025 tumbuh 2,91%, lebih rendah dari November 2025 yang tumbuh 3,99%.
- Tabungan antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta pada Desember 2025 tumbuh 6,62%, lebih tinggi dari pertumbuhan pada November 2025 sebesar 6,39%.
- Simpanan masyarakat kurang dari atau sampai Rp 5 juta pada Desember 2025 tumbuh 6,49%, lebih tinggi dari November 2025 yang tumbuh 4,45%.
Ferdinan menyatakan bahwa capaian tersebut menunjukkan kondisi kelompok simpanan terbawah relatif lebih baik dari perkiraan awal. Salah satu faktor pendorongnya adalah berbagai stimulus pemerintah yang digelontorkan di akhir 2025. Stimulus ini cukup membantu kapasitas keuangan rumah tangga di lapisan paling bawah, sehingga di akhir tahun kondisinya terlihat membaik.
Tantangan dan Faktor Pemicu Penurunan Simpanan
Menurut Riza A. Pujarama, pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), melambatnya pertumbuhan tabungan masyarakat dengan saldo di bawah Rp 100 juta mencerminkan adanya tekanan pada sisi pendapatan, khususnya yang dirasakan kelas menengah. Daya beli masyarakat kelompok ini dinilai masih belum pulih sepenuhnya.
Riza menambahkan bahwa penurunan pertumbuhan simpanan bisa menjadi indikasi awal adanya pergeseran daya beli, terutama jika dikaitkan dengan faktor-faktor ekonomi lain yang memengaruhi kondisi riil rumah tangga, utamanya kelas menengah di Indonesia. “Karena yang perlu diperhatikan itu sekarang adalah porsi kelas menengah yang terus turun. Mereka hampir tidak mendapat sokongan bantuan dari pemerintah,” ujarnya.
Bhima Yudhistira, pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), menilai bahwa penurunan simpanan kelompok menengah bawah tidak terlepas dari ketidakseimbangan antara pendapatan dan kenaikan harga barang dan jasa. Tekanan tidak hanya berasal dari inflasi pangan, tetapi juga lonjakan biaya non-makanan seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, cicilan, hingga kendaraan bermotor.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kondisi Ekonomi Kelas Menengah
- Kontribusi pengeluaran non-pangan terhadap pendapatan kelas menengah semakin besar. Akibatnya, daya beli turun dan masyarakat terpaksa menggerus tabungan untuk memenuhi kebutuhan.
- Meningkatnya ketergantungan pada pinjaman, termasuk pinjaman online, turut mempersempit ruang menabung.
- Terbatasnya penciptaan lapangan kerja formal, khususnya akibat gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor manufaktur sepanjang 2025, membuat kondisi keuangan kelas menengah bawah semakin rentan.
“Ketika belanja tidak bisa dihindari, tabungan yang dikorbankan. Itu yang membuat simpanan menurun,” tuturnya.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












