Daerah  

Pemkab Tegal Gratiskan Tiket Wisata Guci, Ini Alasannya

Penutupan Sementara TWA Pancuran 13 dan Pancuran 5 di Guci

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tegal mengambil langkah tegas untuk menutup sementara Taman Wisata Alam (TWA) Pancuran 13 dan Pancuran 5 yang terletak di kawasan Objek Wisata Guci. Penutupan ini dilakukan setelah kedua tempat wisata tersebut mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang yang melanda kawasan tersebut, Sabtu (24/1/2025).

Pelaksana Harian (Plh) Bupati Tegal, Ahmad Kholid, menjelaskan bahwa penutupan ini dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian untuk memastikan keselamatan pengunjung. “Keselamatan pengunjung menjadi prioritas utama. Untuk itu, sementara Pancuran 13 dan Pancuran 5 kami tutup sampai situasi kembali normal,” ujar Kholid.

Kebijakan Gratis Tiket Masuk Guci

Di tengah situasi ini, pihak Pemkab Tegal juga mengambil kebijakan lain, yaitu menggratiskan tiket masuk ke kawasan Objek Wisata Guci. Keputusan ini diambil sebagai bentuk empati terhadap warga Desa Guci yang terdampak banjir bandang serta upaya menjaga kepercayaan publik terhadap sektor pariwisata daerah.

“Untuk sementara, tiket masuk kami gratiskan hingga seluruh fasilitas dan kondisi lingkungan di Guci benar-benar pulih secara normal,” tambah Kholid. Namun, ia menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat sementara dan akan dievaluasi lebih lanjut.

Penundaan Keputusan Pengelolaan Kawasan Wisata

Keputusan lanjutan terkait pengelolaan kawasan wisata Guci pasca-banjir akan ditentukan setelah Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman kembali dari agenda kedinasan di luar daerah. “Kami masih menunggu kepulangan Bupati Tegal, Pak Ischak Maulana Rohman, untuk bersama-sama menentukan kebijakan selanjutnya secara menyeluruh,” jelas Kholid.

Kerusakan Parah Akibat Banjir Bandang

Sebelumnya, diberitakan bahwa banjir bandang yang melanda lereng Gunung Slamet, tepatnya di kawasan obyek wisata Pemandian Air Panas Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, mengakibatkan kerusakan sangat parah. Tiga taman wisata alam (TWA) mengalami rusak parah akibat luapan Sungai Gung Guci, yaitu TWA Pancuran 13, Pancuran 5, dan Kolam Air Panas Barokah.

Selain itu, tiga jembatan vital juga putus total, yaitu Jembatan Jedor, Jembatan Kaligung di Pancuran 13, dan jembatan gantung di Pancuran 5. Arus deras datang dalam dua kali gelombang setelah beberapa hari intensitas hujan tinggi.

Peristiwa Arus Deras Dua Kali

Ketua RT 01, RW 01, Desa Guci, Suritno, mengungkapkan bahwa arus air deras terjadi dalam dua kali gelombang. Pertama pada Jumat (23/1/2025) malam sekitar pukul 23.30 WIB, kemudian disusul sekitar pukul setengah 2 pagi (Sabtu 24/1/2026). “Gemuruh air di sungai terdengar kencang,” katanya.

Menurut Suritno, tidak hanya merusak jembatan, saluran air bersih warga juga rusak. “Yang terdampak khususnya Desa Guci. Sebelah situ akses untuk air bersih juga rusak. Banyak pipa hilang,” tambahnya.

Longsor dan Hujan Intensitas Tinggi

Tidak hanya banjir bandang, longsoran di sejumlah titik juga terjadi setelah hujan deras intensitas tinggi yang mengguyur lereng Gunung Slamet sejak Kamis (22/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026) pagi. Air bah berwarna cokelat pekat mengalir deras dari hulu Gunung Slamet membawa material lumpur, pasir, hingga ranting-ranting kayu.

Aliran banjir memutus tiga jembatan vital di kawasan wisata Guci: Jembatan Jedor, Jembatan Kaligung di Pancuran 13, dan jembatan gantung di Pancuran 5. Ketiganya merupakan akses utama penghubung antarobyek wisata dan menuju ke Desa Guci.

Pengalaman Warga Saat Banjir Bandang

Menurut Taufik, warga RT 04, RW 02 Desa Guci, debit air meningkat drastis secara tiba-tiba pada Jumat (23/1/2026) sore sekitar pukul 16.30 WIB. Suara gemuruh dari arah hulu sungai terdengar sebelum banjir bandang menerjang kawasan wisata.

“Awalnya, hanya hujan deras. Namun, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Air langsung datang besar dan keruh,” kata Taufik kepada wartawan, Sabtu. Puncaknya terjadi pada Sabtu, pukul 02.00 WIB dini hari. Tinggi air dilaporkan mencapai sekitar tujuh meter, membuat jembatan tak mampu menahan hantaman arus bercampur lumpur dan pasir.

“Air naik sangat cepat. Jembatan yang biasa dilewati wisatawan tidak kuat menahan hantaman air yang membawa material lumpur dan pasir,” lanjut Taufik.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *