Peresmian 117 Unit Hunian Sementara di Jorong Kayu Pasak
Sebanyak 117 unit hunian sementara (Huntara) di Jorong Kayu Pasak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, resmi dioperasikan. Peresmian ini dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno. Bagi para penyintas banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025, peresmian ini bukan hanya sekadar acara pemerintahan, tetapi juga menjadi tanda kepastian hidup yang mereka butuhkan.
Bagi Sarina dan ratusan korban bencana lainnya, hunian sementara ini adalah jawaban atas harapan yang lama ditunggu. Meskipun bangunan tersebut bersifat sementara, bagi mereka, atap yang menaungi mereka adalah kemewahan yang tak tergantikan. Setelah kehilangan rumah dan segala kenangan, kini mereka memiliki tempat untuk beristirahat dan memulai kembali kehidupan.
Trauma yang Masih Menyisakan Luka
Sarina masih ingat betul bagaimana suara gemuruh air bah menghancurkan ketenangannya. Pada hari itu, ia baru saja selesai beribadah dengan hati yang tenang, sebelum banjir datang tanpa peringatan. Dalam hitungan detik, rumah yang ia tinggali selama puluhan tahun lenyap, membawa serta segala kenangan ke dasar sungai. Peristiwa itu tidak hanya merenggut harta benda, tetapi juga nyawanya sendiri. Tubuhnya sempat terbawa arus banjir bandang yang mengamuk di Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia.
Keajaiban Tuhan membuatnya bertahan hidup di tengah kepungan material kayu dan lumpur yang menghantam pemukiman mereka. Kini, dua bulan setelah peristiwa tersebut, luka trauma masih menyisakan kesedihan, tetapi ada sedikit ruang untuk bernapas lega.
Harapan di Balik Dinding Huntara
Pada Sabtu (24/1/2026), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, meresmikan 117 unit Hunian Sementara (Huntara) di lokasi tersebut. Langkah kaki Pratikno di antara deretan bangunan itu menjadi simbol bahwa negara sedang mencoba membasuh air mata warga Agam. Peresmian Huntara ini dianggap sebagai titik krusial dalam upaya pemerintah mengembalikan stabilitas hidup warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana alam dahsyat akhir tahun lalu.
Sarina kini berdiri di depan pintu hunian barunya. Meski bangunannya bersifat sementara, bagi seorang perempuan yang pernah hanyut dan kehilangan segalanya, atap ini adalah kemewahan yang tak terhingga. Ia menatap dinding-dinding kayu yang masih beraroma kayu segar dengan pandangan yang sulit diartikan. “Ramadan tahun ini akan terasa sangat berbeda. Sangat jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya,” ucap Sarina dengan suara yang bergetar. Kalimat itu tidak hanya merujuk pada perpindahan tempat tinggal, tetapi juga pada rasa kehilangan yang mendalam akan suasana rumah lama yang kini tinggal sejarah.
Meski kini ia berada di lingkungan yang baru dan lebih aman, bayangan mencekam saat air bah datang masih sering menghantui tidurnya. Trauma itu seolah menolak untuk hanyut bersama banjir. Setiap kali hujan turun dengan deras, detak jantung Sarina akan berpacu lebih cepat, teringat bagaimana ia berjuang di antara hidup dan mati.

Kepercayaan yang Kembali Datang
Rida, warga lain yang kini menjadi tetangga Sarina di kompleks Huntara tersebut, juga merasakan kekhawatiran yang sama. Baginya, kepastian memiliki tempat tinggal sebelum bulan suci Ramadan tiba adalah sebuah jawaban atas doa-doa panjangnya di posko pengungsian. Beberapa minggu terakhir, Rida diliputi kecemasan luar biasa. Rumahnya yang hanyut menyisakan trauma ekonomi dan psikis. Ia sempat membayangkan betapa sulitnya menjalani ibadah puasa jika mereka masih harus bertahan di posko bencana yang berada di SD 05 Kayu Pasak.
“Rumah sudah tidak ada. Saya sempat ragu, sebentar lagi Ramadan datang. Tak terbayang bagaimana rasanya harus hidup berdesakan di posko saat sahur dan berbuka nanti,” ungkap Rida. Kini, dengan diresmikannya Huntara, kekhawatiran itu perlahan luntur. Meski unit yang diberikan tidak terlalu luas, setidaknya ada ruang untuk memasak sahur dan tempat yang lebih layak untuk bersujud di malam-malam penuh ampunan nanti.
Ada martabat yang dikembalikan di balik dinding-dinding Huntara ini, namun, rasa syukur itu tak jarang bersinggungan dengan rasa rindu. Rida mengaku masih sering teringat jelas kenangan Ramadan di rumah lamanya. Suara anak-anak yang bermain dan kehangatan saat berbuka bersama keluarga di meja makan lama adalah memori yang kini terasa sangat menyakitkan untuk diingat.
Huntara sebagai Solusi Darurat
Menko PMK, Pratikno dalam arahannya menekankan bahwa pembangunan Huntara ini adalah langkah darurat yang harus dilakukan dengan cepat. Fokus utamanya adalah memastikan warga memiliki hunian yang layak sebelum memasuki momentum keagamaan besar, agar beban psikologis mereka sedikit berkurang. Pemerintah menyadari bahwa memulihkan infrastruktur jauh lebih mudah daripada memulihkan mental warga yang terdampak bencana.
Oleh karena itu, kehadiran Huntara diharapkan menjadi transisi yang lembut bagi warga untuk menata kembali kemandirian ekonomi dan sosial mereka di Nagari Salareh Aia. Bagi Sarina, Rida, dan seratusan kepala keluarga lainnya di balik dinding Huntara yang sederhana ini, mereka mulai merajut sisa-sisa harapan. Meski luka akibat banjir bandang November lalu belum sepenuhnya mengering, mereka bersiap menyambut Ramadan dengan ketabahan baru. Sebuah perjalanan panjang untuk pulang, meski rumah yang mereka tuju kini tak lagi sama.












