Afnan, Davin, dan Nouval: 3 Anak Kaltim Mengalahkan Tantangan Lari Pace 3 Rolan Sihombing

Tiga Anak Kalimantan Timur Membuat Dunia Olahraga Lari Terkesan

Dunia olahraga lari dibuat takjub oleh kemunculan tiga anak asal Kalimantan Timur yang berhasil menuntaskan tantangan lari dengan kecepatan tinggi. Usia mereka masih sangat belia, namun kemampuan fisik, disiplin, dan mental yang ditunjukkan sudah setara dengan atlet dewasa terlatih. Aksi mereka menjadi viral setelah ditantang langsung oleh Rolan Sihombing.

Rolan merupakan konten kreator kebugaran yang baru saja menyabet penghargaan bergengsi sebagai Sports Creator of The Year. Dari Balikpapan hingga Samarinda, kisah mereka menyebar luas di media sosial, sekaligus membuka mata publik bahwa Kalimantan Timur menyimpan talenta lari yang luar biasa sejak usia dini.

Dalam dunia lari, istilah pace merujuk pada waktu tempuh per kilometer. Pace 3 berarti seorang pelari mampu menyelesaikan satu kilometer dalam waktu sekitar tiga menit. Untuk jarak 5 kilometer, pace ini menuntut total waktu sekitar 15–20 menit, tergantung konsistensi kecepatan. Bagi pelari dewasa profesional, pace 3 sudah tergolong cepat dan membutuhkan latihan terstruktur, kekuatan otot, kapasitas paru-paru, serta mental bertanding yang kuat. Sementara bagi anak-anak, capaian ini tergolong luar biasa karena tubuh mereka masih dalam fase pertumbuhan.

Lari sendiri merupakan aktivitas dasar manusia yang berfungsi meningkatkan daya tahan jantung, kekuatan otot, koordinasi tubuh, serta kesehatan mental. Pada anak-anak, olahraga lari berperan penting dalam membentuk disiplin, rasa percaya diri, serta kebiasaan hidup aktif sejak dini.

Profil Pelari Cilik yang Menginspirasi

1. Afnan

Salah satu sosok yang paling menyita perhatian adalah Afnan, bocah kelas 5 SD berusia 11 tahun asal Balikpapan, Kalimantan Timur. Bersama sang ibu, Afnan rela menempuh perjalanan jauh ke Samarinda hanya untuk menemui idolanya, Rolan Sihombing, dan menerima tantangan lari pace 3. Di lintasan, Afnan menunjukkan teknik lari yang matang. Rolan bahkan memuji langkah kakinya yang panjang dan efisien, dengan ayunan kaki yang menyentuh pangkal paha—ciri teknik lari yang biasanya dimiliki atlet terlatih. Saat mendekati garis finis, wajah Afnan tampak tenang dengan senyum tipis yang mengembang. Seolah ia sudah tahu bahwa tantangan itu berhasil ditaklukkan. Benar saja, jam tangan Rolan mencatat waktu 19 menit 31 detik, dengan pace rata-rata 3.54. Catatan sub-19:33 tersebut mengukuhkan keberhasilan Afnan dan mengantarkannya pada hadiah sepatu impian.

2. Davin Nara Leandra

Dari Samarinda, muncul nama Davin Nara Leandra, bocah 10 tahun yang bersekolah di SD 008 Awang Long. Davin sebelumnya telah lebih dulu mencuri perhatian saat berhasil menyelesaikan lari 5 kilometer dalam waktu 21 menit 46 detik, atau pace 4, saat menerima tantangan awal dari Rolan Sihombing. Tak puas sampai di situ, Davin kembali menemui Rolan untuk menepati janji berikutnya: lari pace 3. Dengan persiapan dan mental yang lebih matang, Davin berhasil menuntaskan 5 kilometer dalam waktu 19 menit 18 detik, sebuah peningkatan signifikan yang menunjukkan konsistensi latihan dan daya juang tinggi. Keberhasilan Davin menegaskan bahwa perkembangan atlet muda sangat mungkin terjadi dalam waktu singkat jika dibarengi disiplin dan dukungan lingkungan.

3. Nouval Rizkie

Sosok ketiga adalah Nouval Rizkie, anak berusia 11 tahun asal Samarinda, Kalimantan Timur. Pada tantangan awal, Nouval sudah lebih dulu membuktikan ketangguhannya dengan berlari 10 kilometer dalam waktu 43 menit, sebuah capaian yang bahkan membuatnya langsung mendapatkan sepatu dari Rolan. Namun Nouval tidak berhenti di situ. Ia kembali datang untuk menepati tantangan berikutnya: lari pace 3 sejauh 5 kilometer. Hasilnya sangat impresif. Nouval mencatat waktu 18 menit 42 detik, sebuah capaian yang menempatkannya sejajar dengan pelari dewasa kompetitif. Keberhasilan Nouval menunjukkan bahwa ketahanan fisik dan mental dapat dibangun sejak usia dini, selama prosesnya dilakukan dengan pendampingan dan porsi latihan yang tepat.

Masa Depan Pelari Cilik Kaltim dan Harapan Pembinaan Serius

Kisah Afnan, Davin, dan Nouval membuka diskusi lebih luas tentang masa depan atletik di Kalimantan Timur. Dengan potensi yang sudah terlihat sejak usia belia, ketiganya berpeluang besar berkembang menjadi atlet nasional, bahkan internasional, jika mendapat pembinaan berkelanjutan. Namun potensi saja tidak cukup. Dibutuhkan sistem pembinaan yang terstruktur, pelatih berkualitas, fasilitas memadai, serta dukungan dari sekolah dan pemerintah daerah. Tanpa itu, bakat-bakat seperti mereka berisiko padam sebelum mencapai puncak prestasi.

Rolan Sihombing dan Tantangan yang Mengubah Hidup Pelari Cilik

Menurut Rolan, banyak atlet muda berbakat di daerah yang belum mendapatkan wadah untuk menyalurkan potensi. Tantangan yang ia buat bertujuan membuka ruang, menarik perhatian publik, dan mengetuk kesadaran pemerintah agar lebih serius membina atlet usia dini. “Ayo dong Bapak Ibu kita kejar bola, jangan nunggu bola,” ujar Rolan, menekankan pentingnya pendekatan aktif dalam mencari dan membina bakat olahraga.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *