Permintaan Guru SMK 3 Tanjabtim Sebelum Dikeroyok: Minta Dipanggil Prince dan Tampar Siswa di Kelas

Kronologi Insiden di SMK Negeri Tanjung Jabung Timur

Seorang siswa kelas 2 ATP berinisial MUF mengungkapkan pengalamannya terkait insiden kekerasan yang terjadi antara dirinya dan seorang guru Bahasa Inggris di SMK Negeri Tanjung Jabung Timur, Jambi. Kejadian ini sempat viral di media sosial dan memicu perhatian publik terhadap masalah kekerasan di lingkungan pendidikan.

Awal Kejadian: Teguran di Kelas yang Berujung Petaka

Menurut MUF, peristiwa bermula saat kegiatan belajar mengajar masih berlangsung menjelang akhir jam pelajaran. Suasana kelas disebutnya sedikit gaduh. Ia mencoba menegur teman-temannya agar lebih tenang dengan berkata, “Woi, diam.” Namun, ia tidak menyadari bahwa guru tersebut sedang lewat di depan kelas.

Tidak lama kemudian, guru tersebut masuk ke dalam kelas tanpa izin dari guru yang sedang mengajar. Ia langsung mempertanyakan siapa yang mengucapkan kata teguran tersebut. MUF mengaku tidak mengelak dan langsung mengakui bahwa dirinya yang berbicara. Ia disuruh ke depan kelas dan langsung ditampar.

Dugaan Sikap Keras dan Ancaman Akademik

MUF juga mengungkapkan bahwa guru tersebut dikenal kerap bersikap keras terhadap murid-muridnya. Siswa yang dianggap bermasalah atau nakal bisa menerima konsekuensi berat dalam proses pembelajaran. Menurutnya, guru tersebut bisa memberikan skor pelajaran rendah hingga membuat siswa tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran selama satu semester penuh.

Selain itu, MUF menuding adanya kebiasaan melontarkan kata-kata kasar dan tidak pantas kepada peserta didik. Ia menyebut bahwa guru tersebut sering menghina siswa dan orang tua mereka dengan menyebutkan kata-kata seperti “bodoh” dan “miskin”.

Keributan Kembali Pecah di Depan Kantor Sekolah

Situasi yang sempat mereda ternyata kembali memanas saat para siswa berada di depan kantor sekolah. MUF mengatakan, ketika kondisi sudah relatif tenang, guru tersebut tiba-tiba keluar sambil membawa alat sapit rumput. Aksi tersebut membuat suasana kembali tegang dan memicu ketakutan di kalangan siswa.

Permintaan maaf atas ucapan-ucapan yang dianggap menghina orang tua mereka tidak dikabulkan. Ketegangan pun kembali memuncak, hingga akhirnya terjadi insiden kekerasan fisik di lingkungan kantor sekolah.

Ditinju di Depan Siswa Lain

MUF mengaku kembali menjadi korban pemukulan. Kali ini, ia menyebut dipukul di bagian wajah. “Pas saya dekat ke muka dia, saya ditinju di hidung,” ujarnya. Pemukulan itu, kata MUF, disaksikan langsung oleh siswa lain yang berada di lokasi.

Situasi tersebut memicu reaksi spontan dari para siswa yang kemudian berujung pada aksi pengeroyokan terhadap guru tersebut.

“Kalau Tidak Ditinju, Tidak Akan Ada Pengeroyokan”

MUF menegaskan bahwa pengeroyokan yang terjadi bukan tanpa sebab. Ia menilai tindakan tersebut merupakan reaksi atas kekerasan yang lebih dulu ia alami. “Kalau tidak ditinju dulu, tidak akan ada pengeroyokan,” tegas MUF.

Harapan Agar Kekerasan Tak Terulang

Menutup keterangannya, MUF berharap insiden serupa tidak kembali terjadi di lingkungan sekolah. Ia ingin proses belajar mengajar bisa berlangsung dengan aman, nyaman, dan kondusif bagi semua pihak. Ia juga menyebut bahwa pihak keluarga saat ini tengah mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum terkait peristiwa tersebut, guna mencari keadilan atas apa yang dialaminya.

Kasus ini pun kini menjadi perhatian publik, sekaligus sorotan terhadap pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari kekerasan, baik fisik maupun verbal.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *