Pengakuan Mengejutkan Siswa yang Dibantai Guru Agus

Pengakuan Siswa SMKN 3 Berbak tentang Dugaan Kekerasan oleh Guru

Seorang siswa berinisial MUF dari SMKN 3 Berbak, Tanjung Jabung Timur, Jambi, mengungkapkan pengalamannya terkait dugaan kekerasan yang dilakukan oleh guru Bahasa Inggris bernama Agus Saputra. Insiden ini menimbulkan reaksi dari para siswa lain dan berujung pada pengeroyokan.

Menurut MUF, kejadian bermula saat proses belajar mengajar di dalam kelas menjelang pelajaran berakhir. Saat itu suasana kelas disebut sedikit ribut. MUF mengatakan bahwa ia meminta teman-temannya untuk diam, tanpa menyadari bahwa guru tersebut lewat di depan kelas.

“Saya bilang ke teman-teman, ‘Woi, diam’. Tidak tahu kalau beliau lewat depan kelas,” ujar MUF. Tak lama kemudian, kata MUF, guru tersebut masuk ke dalam kelas tanpa meminta izin kepada guru yang sedang mengajar dan langsung menanyakan siapa yang mengucapkan kata tersebut.

“Saya jawab, ‘Saya, Prince’. Terus saya disuruh ke depan dan langsung ditampar,” katanya. MUF menjelaskan bahwa guru tersebut memang tidak ingin dipanggil dengan sebutan “Bapak” dan meminta dipanggil “Prince” oleh para siswa.

Ia juga mengungkapkan bahwa guru tersebut kerap bersikap keras terhadap murid. Siswa yang dianggap nakal disebut bisa diberi skor pelajaran hingga tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran selama satu semester. Selain itu, MUF menyebut guru tersebut sering melontarkan kata-kata kasar yang dinilai tidak pantas diucapkan kepada siswa.

“Sering ngomong kasar, menghina siswa dan orang tua, bilang bodoh dan miskin,” ujarnya. Situasi kemudian kembali memanas di depan kantor sekolah. MUF mengatakan bahwa saat kondisi sudah tenang, guru tersebut tiba-tiba keluar membawa alat sapit rumput dan mengejar para siswa.

“Kami sudah tenang di depan kantor, tapi dia keluar bawa sapit rumput dan ngejar kami,” katanya. Keributan disebut berlanjut saat para siswa meminta guru tersebut untuk meminta maaf atas ucapannya yang dinilai menghina orang tua siswa. Namun permintaan tersebut tidak dipenuhi.

Saat berada di kantor sekolah, MUF mengaku kembali mendapat kekerasan fisik. “Pas saya dekat ke muka dia, saya ditinju di hidung,” ujarnya. Pemukulan tersebut, menurut MUF, disaksikan langsung oleh siswa lain sehingga memicu reaksi spontan berupa pengeroyokan.

“Kalau tidak ditinju dulu, tidak akan ada pengeroyokan,” tegas MUF. Ia berharap ke depan tidak ada lagi tindakan kekerasan di lingkungan sekolah dan proses belajar mengajar bisa berjalan dengan aman dan kondusif. Ia juga menyebut pihak keluarga tengah mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum terkait kejadian tersebut.

Laporan Resmi ke Polisi

Agus Saputra, guru di SMK Negeri 3 Berbak Tanjung Jabung Timur, akhirnya resmi melaporkan tindakan yang dialaminya ke polisi. Adapun laporan Pak Guru Agus Saputra dilakukan ke Polda Jambi pada Kamis (15/1/2026) sore. Agus didampingi kakaknya, datang ke Polda Jambi sekitar pukul empat sore dan melakukan pembuatan laporan polisi hampir empat jam.

Kakak kandung Agus, Nasir, mengatakan bahwa langkah hukum ini diambil karena adiknya merasa dirugikan terlebih secara mental setelah kasus ini viral di media sosial. “Kondisi adik saya sedikit pusing, kita bikin laporan dari jam empat sore. Adik saya dirugikan secara mental dan sikis terlebih di medsos. Karena kita warga negara kita berhak melapor,” kata Nasir pada Kamis (15/1/2026) malam.

Ia mengatakan bahwa pasca kejadian Agus telah melakukan visum. Di mana ada beberapa luka lebam di tubuhnya yang juga akan menjadi bukti untuk pihak kepolisian. “Sudah ada visum dan ada bekas lebam,” ujarnya. Sementara itu, Agus yang juga hadir ke Polda Jambi enggan memberikan banyak komentar atas kejadian ini.

Penyebab Awal Kejadian

Diketahui laporan tersebut ditujukan ke beberapa siswa dalam video yang viral di media sosial. Nasir mengatakan ada lebih dari satu orang yang dilaporkan. Sebelumnya, kasus penegroyokan yang dialami Agus Saputra Guru Bahasa Inggris di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur ini viral di media sosial.

Pada video yang tersebar di media sosial, terlihat ada beberapa siswa yang datang ke arah Agus dengan gaya menantang. Tidak sampai di sana, pada video lainnya juga memperlihatkan aksi saling pukul dan dorong siswa laki-laki dan guru Agus. Yang membuat semakin mencekam, tersebar juga beberapa video yang memperlihatkan Guru Agus membawa senjata tajam jenis celurit untuk.

Dinas Pendidikan Provinsi Jambi sendiri sudah memanggil Agus Saputra untuk dimintai keterangan. Kejadian ini menjadi perhatian khusus dan sorotan publik lantaran adanya kekerasan di lingkungan sekolah yang terjadi antara siswa dan guru.

Perkembangan Terbaru

Diduga berawal dari kalimat yang dilontarkan oleh guru Agus Saputra yang dianggap menyinggung perasaan siswa. Kalimat yang dilontarkan guru dianggap telah menghina orang tua siswa, sehingga memicu emosi beberapa siswa. Cekcok mulut tak terhindarkan, hingga berujung pada aksi kekerasan fisik.

Sejumlah siswa mengejar Agus Saputra tersebut sampai ke halaman sekolah lalu melakukan kekerasan fisik. Situasi sempat memanas, sebelum guru-guru lain yang berada di lokasi melerai. Para guru lalu membawa Agus Saputra ke sebuah ruangan untuk menghindari aksi lanjutan.

Lapor ke Dinas Pendidikan

Pascakejadian, Agus Saputra melaporkan peristiwa itu ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Saat diwawancarai Tribun Jambi, dia menuturkan kronologi tindak kekerasan di lingkungan sekolah. Bermula saat dia ditegur seorang siswa dengan nada tidak sopan dari dalam kelas, sekitar pukul 09.00-10.00 WIB, ketika proses belajar mengajar berlangsung.

“Dia menegur saya dengan kata-kata tidak pantas. Saat itu juga saya masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” ujar Agus. Menurut Agus, siswa tersebut mengaku dan menantangnya. Agus pun mengakui sempat menampar siswa itu satu kali secara refleks. Ketegangan kemudian berlanjut hingga jam istirahat dan siang hari.




Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *