Hiburan Anak-anak di Tengah Permukiman Padat
Di tengah padatnya permukiman Rawa Bunga, Jatinegara, odong-odong bermotor masih menjadi hiburan favorit anak-anak warga. Bagi banyak orang tua, kendaraan ini bukan hanya sekadar tontonan, tetapi juga solusi atas minimnya ruang bermain anak. Setiap kali musik khas odong-odong terdengar, anak-anak langsung berlari keluar rumah untuk menaikinya.
Aminah (34), warga Rawa Bunga, mengaku bahwa kehadiran odong-odong di lingkungan tempat tinggalnya memberikan kesempatan bagi anaknya untuk bermain dan bersosialisasi. Ia menyebutkan bahwa di wilayah tersebut tidak ada taman atau fasilitas umum yang bisa digunakan anak-anak.
“Kalau dengar musiknya, anak saya langsung minta naik. Di sini enggak ada taman, jadi ini hiburan paling dekat,” ujar Aminah saat ditemui usai menaiki odong-odong dengan anaknya, Kamis (8/1/2026).
Meski begitu, Aminah tidak selalu tenang membiarkan anaknya naik kendaraan tersebut. Ia memilih untuk mendampingi langsung selama perjalanan.
“Saya ikut naik supaya bisa ngawasin. Selama muter kampung saja, saya masih berani,” kata dia.
Odong-odong sebagai Alternatif Hiburan Murah
Di Rawa Bunga, pilihan hiburan anak memang sangat terbatas. Lingkungan permukiman yang padat membuat anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Odong-odong kemudian hadir sebagai hiburan murah yang datang langsung ke depan rumah, dengan tarif Rp 5.000 per orang.
Felia (29), warga lainnya, menyebut odong-odong telah menjadi rutinitas sore bagi anaknya.
“Kalau sore suka nungguin. Kadang kalau enggak lewat, anak saya nanya,” ujar dia.
Menurut Felia, meski sederhana, odong-odong memberi kesempatan anak-anak untuk keluar rumah dan bersosialisasi.
“Anak-anak bisa ketemu temannya, ketawa bareng. Itu yang bikin senang,” kata dia.
Desain dan Operasi Odong-odong
Pantauan menunjukkan bahwa odong-odong bermotor masih beroperasi aktif di sejumlah ruas jalan lingkungan Rawa Bunga. Kendaraan modifikasi ini ditarik sepeda motor bebek di bagian depan, dengan dua hingga tiga gerbong di belakang yang mampu mengangkut hingga delapan penumpang.
Warna-warna cerah seperti biru, hijau, dan ungu mendominasi badan kendaraan. Bendera segitiga warna-warni menggantung di sepanjang atap, sementara lampu hias dan speaker kecil memutar lagu anak-anak. Setiap kali melintas, anak-anak tampak melambaikan tangan atau mengejar dari pinggir jalan.
Odong-odong tersebut berkeliling dari satu gang ke gang lain, menyusuri Jalan Jatinegara Timur I hingga IV, Jalan Kober, hingga area sekitar Pasar Loak Jembatan Item. Sesekali, kendaraan ini melintas di ruas jalan yang lebih besar, berdampingan dengan angkot dan sepeda motor lain, sebelum kembali masuk ke jalan lingkungan.
Cerita Sopir Odong-odong
Di balik kemeriahan yang dirasakan anak-anak, ada para pengemudi yang menggantungkan hidup dari kendaraan ini. Soleh (71), salah satu sopir odong-odong, mengaku telah lama menjalani pekerjaan tersebut.
“Saya sopir odong-odong. Tapi yang bawa biasanya ponakan saya, saya bantu-bantu saja,” kata Soleh saat ditemui di Jalan Jatinegara IV.
Odong-odong miliknya dibuat secara mandiri dengan biaya sekitar Rp 2 juta. Dalam satu kali jalan, kendaraan tersebut dapat mengangkut delapan penumpang, dengan tarif Rp 5.000 per orang. Namun, penghasilan yang diperoleh tidak menentu.
“Ada setoran Rp 70.000. Kalau sepi, ya enggak dapat apa-apa,” ujar Soleh.
Ia mengakui bahwa mengemudikan odong-odong bermotor bukan perkara mudah, terutama saat bermanuver di gang sempit.
“Panjang, belok susah. Pernah hampir nabrak juga,” kata dia.
Soleh juga pernah merasakan penertiban, terutama saat pandemi Covid-19.
“Waktu itu sempat ditahan dua hari,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai odong-odong masih dibutuhkan warga.
“Selama enggak ke jalan raya, masyarakat masih butuh. Anak-anak senang,” kata dia.
Cerita serupa disampaikan Kamal (54), sopir odong-odong lain yang telah menarik kendaraan tersebut selama sekitar lima tahun. Ia memilih pekerjaan ini karena tidak memiliki pekerjaan tetap.
“Awalnya karena enggak punya kerjaan. Di umur sekarang susah cari kerja lain,” ujar Kamal.
Ia mengaku memahami bahwa kendaraan yang telah diubah bentuknya sebenarnya tidak diperbolehkan beroperasi di jalan umum. Karena itu, ia membatasi wilayah operasi hanya di lingkungan permukiman.
“Saya hindari jalan besar. Kalau ada petugas, saya berhenti,” katanya.
Menurut Kamal, penghasilan dari odong-odong cukup untuk memenuhi kebutuhan harian jika ramai. Namun, ketika sepi, ia bisa pulang tanpa membawa apa-apa.
“Kalau memang dilarang, harapan saya ada solusi. Jangan cuma dilarang, tapi kami juga butuh makan,” ujar dia.
Penertiban dan Keterbatasan Wewenang
Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Seksi Operasi Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur, Emiral August Dwinanto, menegaskan bahwa odong-odong merupakan kendaraan yang mengalami perubahan bentuk dan tidak diperbolehkan beroperasi di jalan umum.
“Pada prinsipnya, odong-odong tidak boleh beroperasi di jalan raya maupun di lingkungan permukiman,” ujar Emiral saat dihubungi.
Namun, ia mengakui adanya keterbatasan kewenangan, terutama untuk odong-odong berbasis sepeda motor. Sudin Perhubungan hanya dapat menghentikan operasional sementara dan memberikan imbauan.
Penertiban dilakukan melalui operasi gabungan Lintas Jaya bersama kepolisian dan unsur TNI. Meski begitu, fenomena ini kerap berulang.
“Seperti mati satu tumbuh seribu. Saat tidak ada operasi, mereka muncul lagi,” kata Emiral.
Menurut dia, keberadaan odong-odong sering ditoleransi karena diminati anak-anak di lingkungan padat. Namun, yang menjadi perhatian utama adalah ketika kendaraan tersebut masuk ke jalan raya besar.
“Kalau sudah masuk jalan raya, itu berbahaya dan pasti akan kami tindak bersama kepolisian,” ujarnya.
Fenomena odong-odong bermotor di Rawa Bunga memperlihatkan dilema klasik kota besar antara kebutuhan hiburan dan ekonomi warga dengan aturan keselamatan dan ketertiban.












