Bisnis  

Bukan Kelapa Sawit, Ini Penyebab Banjir Sumatra Menurut Ahli IPB

Penyebab Bencana Alam di Sumatra dan Perspektif Ilmiah

Bencana alam yang melanda wilayah Sumatra, termasuk tanah longsor dan banjir bandang, telah memicu perdebatan publik. Beberapa pihak menuding aktivitas manusia seperti pembukaan lahan sebagai penyebab utama bencana tersebut. Namun, berbagai perspektif ilmiah memberikan wawasan baru mengenai faktor-faktor yang menyebabkan kejadian ini.

Fenomena Alami Akibat Perubahan Iklim

Seorang pakar ilmu tanah sekaligus dosen aktif Fakultas Pertanian IPB University, Basuki Sumawinata, menjelaskan bahwa fenomena alam ekstrem akibat perubahan iklim menjadi faktor dominan yang tak terelakkan. Menurutnya, masyarakat sering kali menganggap hutan sebagai benteng absolut terhadap bencana seperti longsor. Namun, pada curah hujan ekstrem di atas 100 mm per hari, logika ini bisa berbalik.

“Dalam kondisi seperti ini, tanah di lahan hutan justru menjadi jauh lebih jenuh air dibandingkan tanah di lahan terbuka, karena hampir seluruh air masuk ke dalam tanah,” ujar Basuki saat ditemui di IPB University, Baranangsiang, Bogor.

Saat Tanah Berubah Sifat Menjadi Lumpur



Basuki menjelaskan secara teknis alasan longsor tetap terjadi meski ada vegetasi. Menurut dia, masalah utama terletak pada lapisan tanah (solum) yang tipis di atas batuan induk, terutama di wilayah seperti Sumatra. Dalam ilmu tanah, ketika tanah mengandung terlalu banyak air, ia akan melewati liquid limit atau batas mencair. Tanah berubah menjadi lumpur, bersifat cair, dan mulai mengalir. Orang awam menyebutnya longsor, secara ilmiah disebut landslide.

Pada titik ini, menurut Basuki, akar pohon tidak lagi mampu mencengkeram, karena air menumpuk di bidang kontak antara tanah dan batuan yang kedap air.

Beban Pepohonan Malah Bisa Mempercepat Pergerakan



Menanggapi tudingan bahwa kerusakan hutan adalah penyebab tunggal, Basuki memberikan perumpamaan menarik. Pada kondisi tanah yang sudah mencair, keberadaan pohon besar justru bisa menjadi beban tambahan bagi lereng.

“Ibaratnya seperti perahu di atas air; tanah yang sudah mencair kehilangan daya geseknya. Beban pepohonan di atasnya justru menambah beban yang membuat massa tanah tersebut meluncur ke bawah,” tuturnya.

Basuki menegaskan, ada atau tidak adanya hutan, jika curah hujan sudah di atas 200 mm per hari, massa tanah tetap akan bergerak secara alami.

Munculnya Fenomena Siklon Baru di Lintang Nol Khatulistiwa



Poin krusial yang disoroti Basuki adalah perubahan total pola iklim pada 2025-2026. Teori lama yang menyebut wilayah lintang 0-7 derajat (khatulistiwa) aman dari siklon kini sudah tidak relevan. Faktanya, siklon sudah masuk ke wilayah 0 dan 1 derajat. Celakanya, taifun ini sekarang masuk ke daratan dan berputar di atas pulau. Jika masuk ke daratan, ia akan memicu hujan yang sangat hebat.

Hal inilah yang memicu pendangkalan sungai secara masif, karena material longsor menutup dasar lembah sungai. Basuki menekankan kunci menghadapi “bencana baru” ini bukanlah saling menuding, melainkan adaptasi teknologi. Masyarakat diminta aktif memantau pergerakan siklon melalui ponsel, dan mematuhi instruksi evakuasi sedini mungkin untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa.

Meluasnya Monokultur Sawit Bentuk Campur Tangan Manusia



Sebelumnya, Deputi Direktur Program Seameo Biotrop sekaligus mantan Kepala Pusat Studi Bencana IPB University, Doni Kushardono, meragukan jika bencana besar di Sumatra terjadi murni karena faktor alamiah. Temuan gelondongan kayu saat banjir serta meluasnya monokultur sawit menjadi bukti adanya campur tangan manusia yang merusak ekosistem.

“Yang jelas melihat bencana di Sumatra, sulit diterima kalau bencana ini terjadi alamiah saja, pasti ada campur tangan manusia, baik kepentingan bisnis atau di luar itu yang berdampak buruk bagi lingkungan dan ini harus diselesaikan,” ungkap Doni.

Bukit Barisan Harusnya Jadi Benteng



Doni Kushardono menyoroti rapuhnya kawasan Bukit Barisan saat ini. Menurutnya, bentang alam vital ini seharusnya menjadi protected area yang mampu meredam bencana. “Harusnya kawasan yang dilindungi seperti Bukit Barisan yang membentang sepanjang Pulau Sumatera ini menjadi protected area dan mesti dilindungi. Mestinya dengan hadirnya banyak taman nasional, kejadian seperti sekarang gak sedahsyat ini,” tegas Doni. Ia menilai, dampak bencana yang masif mengindikasikan bahwa area konservasi pun sudah mengalami kerusakan serius.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *