Sosok Kopda Anumerta Satria: Gugur Ditembak OPM, 8 Kali Gagal Masuk TNI

Kehidupan dan Perjuangan Kopda Anumerta Satria Tino Taopan

Kopda Anumerta Satria Tino Taopan gugur saat menjalankan tugas negara di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan. Ia dikenal sebagai prajurit tangguh yang memiliki dedikasi tinggi dalam menjalani tugasnya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan, dan masyarakat luas.

Satria lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan berusia 29 tahun ketika gugur. Ia merupakan anggota Satgas Pamtas Mobile Yonif 100/Prajurit Setia, Kodam I/Bukit Barisan. Gugurnya Satria terjadi saat menjalankan tugas di Kampung Yuguru, Distrik Mebarok, Kabupaten Nduga, pada hari Kamis (8/1/2026).

Perjalanan hidup Satria penuh dengan perjuangan. Dari kecil, ia telah memantapkan tekad untuk menjadi prajurit TNI. Namun, jalan tidak selalu mulus. Ia harus melewati delapan kali kegagalan dalam seleksi sebelum akhirnya lulus pada percobaan kesembilan. Pengalaman ini membentuk mental baja yang dimilikinya.

Setelah resmi menjadi prajurit, Satria menunjukkan dedikasi yang tak diragukan. Ia bahkan pernah lolos sebagai pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Prestasi ini mencerminkan profesionalisme dan kemampuan yang luar biasa.

Delapan Kali Gagal, Satu Kali Berhasil

Sejak lulus dari SMAN 1 Kupang, Satria mencoba masuk Akpol, tetapi gagal pada tahap akhir. Kegagalan itu tidak membuatnya menyerah. Ia terus mengikuti seleksi TNI Angkatan Darat. Dalam sembilan kali tes, delapan kali ia pulang dengan hasil yang mengecewakan.

Namun, Satria tetap bertekad. Pada percobaan terakhir, ia berpamitan kepada ayahnya dengan kalimat yang masih terngiang hingga kini. “Ini usia terakhir untuk ikut tes. Bapak tolong kali ini saja. Kalau tidak lolos, saya jadi sopir truk saja,” ujar Satria.

Doa keluarga akhirnya terjawab pada 2018. Satria lulus seleksi dan resmi menjadi prajurit TNI AD. Ia ditempatkan di Batalion Infanteri 121/Macan Kumbang, Kodam I/Bukit Barisan. Bagi keluarga, kelulusan ini menjadi kebanggaan sekaligus titik balik hidup.

Lolos Seleksi Pasukan Perdamaian PBB

Pada 2019, Satria dipercaya mengikuti Satgas Pamtas di perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Beberapa tahun kemudian, ia kembali mengukir prestasi dengan lolos seleksi pasukan perdamaian PBB. Kabar ini disampaikan Satria kepada orangtuanya lewat telepon.

“Jam 3 subuh dia menelepon, bilang surat perintah ke Kongo sudah keluar. Kami menangis sambil berdoa,” kenang Dominggus, ayah Satria.

Selama 13 bulan, Satria menjalankan misi perdamaian di Kongo, Afrika Tengah. Usai menunaikan tugas, ia pulang ke Kupang dan menikmati waktu bersama keluarga selama tiga pekan. Namun, kebersamaan itu singkat. Satria kembali dipanggil negara untuk bertugas di Papua Pegunungan sebagai anggota Satgas Pamtas Mobile Yonif 100/Prajurit Setia.

Ia termasuk dalam 12 prajurit yang dipilih. “Tanggal 24 Januari nanti genap satu tahun dia di sana,” ujar Dominggus.

Pesan Tak Pernah Terbalas

Kamis pagi itu, keluarga sempat mengirim pesan kepada Satria. Pesan itu tak pernah terbalas. Beberapa jam kemudian, kabar duka datang. Dominggus menerima informasi bahwa putra sulungnya gugur saat bertugas.

Saat itu, ia sedang bekerja di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) NTT. Jenazah Kopda Anumerta Satria Tino Taopan dijadwalkan tiba di Kupang pada Jumat malam untuk disemayamkan dan dimakamkan secara militer.

Di rumah duka, tangis keluarga dan doa pelayat mengiringi kepulangan Satria.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *