JAKARTA – PT United Tractors Tbk (UNTR) mengalami penurunan kinerja pada kuartal III-2025. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan harga komoditas yang bisa menjadi katalis penting bagi kinerja perusahaan di masa mendatang.
Pendapatan UNTR sepanjang Januari hingga September 2025 mencapai Rp 100,5 triliun, meningkat sebesar 1% secara year on year (yoy). Namun, laba bersih perusahaan turun sebesar 26% yoy menjadi Rp 11,5 triliun. Penurunan ini menunjukkan bahwa ada tantangan yang dihadapi oleh UNTR dalam menjaga pertumbuhan keuntungan.
Dampak Bencana Banjir terhadap Operasi Perusahaan
Salah satu faktor utama yang memengaruhi kinerja UNTR adalah bencana banjir yang terjadi di Sumatera Utara. Banjir bandang dan tanah longsor parah di wilayah tersebut menyebabkan penghentian sementara aktivitas penambangan di operasi Martabe milik UNTR. Perusahaan mengalokasikan sumber daya untuk mendukung upaya bantuan darurat dan pemulihan pasca bencana.
Meskipun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa tanah longsor terjadi jauh dari lokasi penambangan, belum ada informasi pasti mengenai durasi penghentian operasi, yang dimulai pada 6 Desember. Agincourt Resources, yang merupakan mitra UNTR, telah menyesuaikan operasinya, tetapi dampak penuhnya terhadap produksi bijih masih belum diketahui.
Tantangan Operasional dan Persaingan
Tim Analis RHB Sekuritas menilai bahwa kinerja operasional UNTR secara keseluruhan hingga saat ini tetap sesuai rencana. Penjualan alat berat terus menunjukkan permintaan yang sehat, dan aktivitas kontrak pertambangan menghasilkan volume yang stabil, sesuai ekspektasi.
Namun, RHB Sekuritas melihat adanya peningkatan risiko menjelang akhir tahun, terutama dari cuaca buruk yang dapat mengganggu rangkaian penambangan. Selain itu, persaingan yang semakin ketat dalam kontrak pertambangan batubara juga menjadi ancaman.
Para pesaing semakin berupaya merebut pangsa pasar dari anak perusahaan UNTR, yakni Pamapersada Nusantara (Pama). Meski begitu, basis operasional UNTR tetap tangguh pada tahap ini.
Proyeksi Harga Batubara dan Produksi
Erindra Krisnawan, Analis BRI Danareksa Sekuritas, mengatakan bahwa manajemen UNTR memberikan panduan untuk prospek penjualan tahun 2025 yang sedikit lebih rendah untuk Komatsu dan volume kontrak pertambangan. Hal ini disebabkan oleh harga batubara yang lebih rendah dan kondisi cuaca yang tidak menguntungkan.
Manajemen UNTR memperkirakan harga batubara akan tetap rendah pada tahun 2026, sehingga berpotensi membebani permintaan unit berukuran besar. Target penjualan alat berat pada tahun 2026 adalah 4.300 unit. Namun, ada risiko peningkatan permintaan dari sektor non-pertambangan.
Untuk penghapusan overburden removal (OB) Pama diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang moderat. Manajemen juga mengisyaratkan optimalisasi biaya dalam operasi Pama. Erindra percaya bahwa kondisi cuaca tetap menjadi risiko utama bagi margin. Ia memperkirakan dampak dari implementasi B50 akan sepenuhnya diteruskan kepada pelanggan.
Proyeksi Produksi Tambang dan Pasar Ekspor
UNTR memperkirakan tambang Martabe akan menghasilkan 230.000 ons pada tahun 2025. Akan tetapi, produksi akan menurun menjadi sekitar 190.000 ons pada tahun 2026 karena ketersediaan penyimpanan tailing yang terbatas. Fasilitas baru hanya akan selesai pada tahun 2027. Hal ini sebagian akan diimbangi oleh peningkatan produksi dari tambang SJR menjadi 25.000 ons pada tahun 2026.
Martabe menjual 80%-90% dari produksinya ke pasar ekspor dan bertujuan untuk beralih ke pasar domestik setelah implementasi bea ekspor yang direncanakan. Di sektor nikel, pabrik peleburan RKEF dijadwalkan untuk produksi komersial pada semester pertama tahun 2026, dengan produksi tahun 2026 diperkirakan mencapai 12.000 ton.
Tantangan dan Rekomendasi Analis
Miftahul Khaer, Analis Kiwoom Sekuritas, menilai bahwa dengan katalis yang ada sekarang, prospek UNTR pada awal tahun 2026 cenderung lebih menantang namun tetap solid. Normalisasi harga batubara dan pelemahan permintaan alat berat dibanding periode supercycle sebelumnya menjadi katalis utama, meskipun masih ditopang oleh backlog alat berat, kontribusi kontraktor tambang, serta diversifikasi bisnis ke emas, nikel, dan energi baru.
Selain itu, Miftahul melihat fluktuasi harga komoditas serta ketidakpastian kebijakan pemerintah terkait sektor pertambangan perlu menjadi perhatian untuk mencermati kinerja UNTR ke depannya. “Kami kira laba UNTR di tahun 2025 cenderung melemah dibanding tahun 2024,” ucap Miftahul.
RHB Sekuritas memproyeksikan pendapatan dan laba bersih UNTR tahun 2025 masing-masing sebesar Rp 129,75 triliun dan Rp 16,35 triliun. Adapun pada tahun 2024, UNTR mengantongi pendapatan sebesar Rp 134,42 triliun dan laba bersih Rp 19,53 triliun.
RHB Sekuritas dan Erindra merekomendasikan Buy saham UNTR dengan target harga masing-masing Rp 29.000 per saham dan Rp 32.000 per saham. Sementara Miftahul merekomendasikan Hold saham UNTR dengan target harga Rp 30.700 per saham.












