Sosok Pratu Farkhan Syauqi, TNI Tewas Diduga Dianiaya Senior di Papua, Tangis Keluarga Pecah

Kehilangan yang Mendalam

Keluarga Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, anggota Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti Aceh, sedang berduka atas kepergian putra mereka. Pratu Farkhan tewas saat menjalankan tugas pengamanan perbatasan Indonesia–Papua Nugini. Kejadian ini menimbulkan duka yang mendalam bagi keluarga, terutama ayahnya, Zakaria Marpaung.

Menurut keterangan dari Zakaria, peristiwa bermula saat Pratu Farkhan sedang sakit dan mencoba menghangatkan badannya di dekat perapian. Ia kemudian menerima kabar dari sepupunya bahwa anaknya sempat sakit dan menghangatkan badan di dekat perapian. Seorang senior berpangkat sersan datang menanyakan kondisi Pratu Farkhan.

“Kami dapat informasi dari sepupunya, anak kami ini sakit lalu menghangatkan badan didekat perapian, kemudian datang seniornya berpangkat sersan menanyakan, dibantunya untuk mengusulkan,” jelas Zakaria dengan suara bergetar.

Namun, situasi berubah drastis ketika seorang senior lain, berpangkat kopral, datang dan diduga melakukan kekerasan terhadap Pratu Farkhan. Menurut penuturan keluarga, Pratu Farkhan dipukul menggunakan ranting dan dipaksa melakukan sikap tobat. Setelah menunduk dan taubat, ia ditendang dan melawan. Zakaria sangat bangga dengan keberanian anaknya dalam membela diri.

“Anakku ini berani melawan membela nyawanya didepan seniornya berpangkat kopral,” ujar Zakaria dengan suara bergetar. Ia merasa kecewa karena kejadian ini terjadi di tangan sesama prajurit TNI, bukan di tangan pihak luar.

Peran Senior dalam Kekerasan

Zakaria menilai bahwa sesama prajurit TNI seharusnya saling menjaga, terlebih saat bertugas di wilayah rawan seperti Papua. Namun, kejadian ini menunjukkan bahwa senior justru menjadi penyebab hilangnya nyawa anaknya. Ia menyebut perbuatan tersebut tidak bisa ditoleransi.

“Belum kering makan Prada Lucky, kini masuk lagi makam Pratu Farkhan Syauqi Marpaung. Sampai kapan anak-anak ini gugur ditangan sesama seragam TNI,” katanya.

Profil Pratu Farkhan Syauqi Marpaung

Pratu Farkhan Syauqi Marpaung lulus Sekolah Calon Tamtama (Secaba) sekitar 2023-2024. Ia merupakan anggota Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti (Yonif 113/JS), satuan militer TNI AD di bawah Kodam Iskandar Muda (Kodam IM) wilayah Aceh. Markas utamanya berada di Jalan Bireuen-Takengon Km 7, Desa Juli, Kecamatan Bireuen, Kabupaten Bireuen, Aceh.

Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Marsinah, ibu Pratu Farkhan, mengatakan bahwa anaknya selalu memberi kabar meskipun sedang bertugas. “Dia anak yang sangat sayang dengan keluarga, apalagi dia setiap hari menghubungi saya untuk memberi kabar,” ujarnya.

Menurut Marsinah, Pratu Farkhan juga selalu menanyai kabar keluarga saat menelpon. “Terakhir saat dia telfon itu saya sedang ada rapat di kantor, saya tidak lama bercerita saat di telfon itu,” katanya.

Tangis Keluarga Pecah

Tangis keluarga pecah usai kedatangan ambulan militer di halaman rumahnya di Desa Hessa Air Genting, Air Batu, Kabupaten Asahan, Sabtu (3/1/2026) dini hari. Kedatangan itu membuat keluarga histeris hingga ada yang pingsan.

Meski tampak tegar, Zakaria tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia menjadi orang terakhir dari keluarga yang masuk ke dalam rumah saat peti jenazah hendak dibuka. Sementara ibu korban, Marsinah Wati Silalahi, tampak histeris dan terkulai lemas.

“Anakku sudah pulang, anakku,” kata Marsinah sembari meratapi peti yang berisi anaknya. Meskipun begitu, ia tetap tegar dan menenangkan keluarga yang histeris. Pembukaan peti jenazah hanya bisa dilakukan oleh keluarga saja.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *