Kehidupan Tukang Jahit Keliling di Jakarta
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota Jakarta, khususnya di sekitar Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan, terdapat sebuah dunia yang sering kali luput dari perhatian. Di balik kemacetan lalu lintas dan dinamika ekonomi, deru mesin jahit manual masih terdengar, memberikan gambaran tentang kehidupan para tukang jahit keliling.
Mereka bekerja di ruang sempit di tepi jalan, di bawah payung lusuh yang hanya memberikan perlindungan seadanya dari panas dan hujan. Dengan alat kerja sederhana, mereka menggantungkan hidup pada benang, kain, dan pelanggan yang datang tanpa prediksi.
Penghasilan yang Tidak Pernah Pasti
Agus (45), salah satu penjahit keliling yang mangkal di sekitar Pasar Lenteng Agung, telah menjalani pekerjaannya selama lebih dari 12 tahun. Ia berasal dari Garut, Jawa Barat, dan mempelajari keahlian menjahit secara otodidak. “Saya tidak punya modal besar untuk membuka toko, jadi pilih keliling saja,” ujarnya.
Sebagian besar pekerjaan yang diterimanya berupa permak pakaian, seperti memotong celana, mengecilkan baju, atau mengganti resleting. Tarif yang dipatok Agus relatif rendah, mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 40.000. Namun, penghasilan yang diperoleh tidak pernah pasti. Ada hari-hari sepi tanpa pelanggan, namun pada hari ramai ia bisa mendapatkan sekitar Rp 100.000.
“Kini orang banyak beli baju jadi. Kalau rusak dikit, mending beli baru,” ujar Agus. Meski demikian, ia tetap bertahan karena pekerjaan ini menjadi satu-satunya sumber nafkah bagi keluarganya di kampung halaman.
Bertahan di Ruang Sempit Pinggir Jalan
Pantauan di Jalan Jagakarsa menunjukkan aktivitas tukang jahit keliling yang berlangsung di ruang publik serba terbatas. Mesin jahit tua ditempatkan di atas gerobak kayu atau meja sederhana, berdampingan dengan kotak berisi gunting, benang, dan meteran. Di bawah payung berwarna merah dan biru, seorang tukang jahit tampak serius mengarahkan kain ke jarum mesin.
Aktivitas berlangsung tanpa sekat, langsung menghadap jalan raya yang ramai. Sesekali, truk dan sepeda motor melintas dengan jarak hanya beberapa meter dari lapak jahit. Kondisi kerja yang serba terbuka membuat para penjahit harus bergantung pada cuaca. Hujan berarti pekerjaan terhenti, sementara panas menyengat harus ditahan demi menyelesaikan jahitan.
Pelanggan Berkurang, Penjahit Bertambah
Kondisi serupa juga dirasakan oleh Pak Edi (47), penjahit keliling lain yang telah mangkal di Lenteng Agung sejak 2014. Ia mengatakan jumlah tukang jahit di wilayah tersebut terus bertambah, sementara jumlah pelanggan justru berkurang. “Dulu di sini sampai 20 orang (pelanggan). Sekarang tinggal enam. Tapi tukang jahit di sekitar sini bisa sampai 50 orang,” ujar Edi.
Persaingan tidak hanya datang dari sesama penjahit keliling, tetapi juga dari penjahit yang memiliki toko tetap. “Orang yang mau jahit berkurang, tukang jahitnya nambah. Rezekinya kebagi,” katanya.
Warga Masih Membutuhkan
Di tengah keterbatasan tersebut, tukang jahit keliling masih memiliki tempat di hati warga. Siti (38), warga Lenteng Agung, mengaku sudah lebih dari satu dekade menjadi pelanggan Pak Edi. “Dari dulu saya selalu ke Pak Edi kalau mau permak celana atau baju. Sudah cocok sama hasil jahitannya,” kata Siti.
Menurut dia, harga yang terjangkau dan kepraktisan menjadi alasan utamanya memilih tukang jahit keliling. “Kalau ke toko jahit sekarang mahal, bisa dua kali lipat. Di sini masih manusiawi,” ujarnya.
Sektor Informal yang Terus Terdesak
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai keberadaan tukang jahit keliling sebagai cerminan bertahannya sektor informal perkotaan di tengah modernisasi. “Sektor informal itu aktivitas ekonomi yang tidak terdaftar, modalnya terbatas, mudah dibuka tapi juga mudah tutup,” ujar Rakhmat saat dihubungi.
Menurut Rahkmat, tukang jahit keliling menghadapi tekanan berlapis, mulai dari ekonomi formal, ekonomi digital, hingga persaingan dengan penjahit toko. “Ada kontestasi ekonomi di ruang kota antara ekonomi formal, digital, dan informal,” kata dia.
Bertahan dengan Harapan Sederhana
Bagi Agus dan rekan-rekannya, bertahan di Lenteng Agung bukan soal pilihan ideal, melainkan satu-satunya jalan hidup yang tersedia. Dengan penghasilan tak menentu dan lapak sempit di pinggir jalan, mereka terus mengayuh roda kehidupan di balik mesin jahit tua. “Kami enggak minta macam-macam. Cuma pengin kerja tenang, enggak takut digusur,” ujar Agus.
Selama masih ada warga yang membutuhkan jasa permak cepat dan murah, ia memilih bertahan menjahit hari demi hari, di ruang sempit yang menjadi saksi perjuangan sektor informal kota Jakarta.












