Penampilan Rama Duwaji di Pelantikan Zohran Mamdani
Pelantikan Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York pada 1 Januari 2026 menjadi momen bersejarah, tidak hanya karena ia menjadi wali kota Muslim dan Asia Selatan pertama di kota tersebut. Di tengah perhatian publik yang terpusat pada sang suami, sosok istri Zohran Mamdani, Rama Duwaji, juga menarik perhatian. Sebagai seorang seniman dan ilustrator berusia 28 tahun, Duwaji tampil dengan gaya busana yang jauh dari pakem first lady sebelumnya.
Dari prosesi pelantikan privat hingga seremoni publik, Duwaji hadir dengan pilihan busana yang mencerminkan perubahan generasi, sikap politik, dan identitas personal yang kuat—hal yang jarang terlihat dalam panggung politik formal Amerika Serikat.
Busana Hitam di Malam Pelantikan Sang Suami
Pada upacara pengambilan sumpah privat yang digelar setelah tengah malam di stasiun subway City Hall, Duwaji mengenakan mantel hitam vintage Balenciaga. Ia memadukan busana tersebut dengan celana kulot dari The Frankie Shop dan sepatu bot dari merek Miista. Penampilannya dilengkapi anting chandelier emas dari New York Vintage.
Penata busana untuk penampilan ini adalah Gabriella Karefa-Johnson, editor fashion dan stylist ternama yang dikenal dengan pendekatan progresif terhadap busana politik. Dalam unggahannya, Karefa-Johnson menyatakan bahwa pilihan Duwaji merupakan bentuk kesadaran akan simbolisme mode tanpa harus mengorbankan keaslian dirinya.
Penampilan ini dinilai mencerminkan gaya art world chic, estetika yang lekat dengan kalangan kreatif urban New York, didominasi palet hitam, siluet tegas, dan sentuhan vintage.
Statement Coat Berwarna Cokelat
Untuk menyapa publik dalam seremoni resmi pada siang hari, Duwaji berganti busana dengan mantel cokelat berbentuk A-line berleher funnel rancangan desainer Palestina-Lebanon Cynthia Merhej, pendiri label Renaissance Renaissance. Mantel tersebut dipadukan dengan sepatu bot senada serta anting perak berbentuk pahatan gading, menciptakan kesan klasik sekaligus eksentrik.
Kritikus mode The New York Times, Vanessa Friedman, menyebut penampilan Duwaji memberikan kesan vintage tapi ada sentuhan statement. “Sedikit funky, sedikit vintage, terasa seperti tokoh Tolstoy, namun sepenuhnya pantas dan berbeda dari siapa pun di panggung,” jelasnya.
Busana tersebut dinilai sebagai contoh statement coat yang bukan hanya mencuri perhatian, tetapi juga membawa pesan tentang identitas, kebaruan, dan keberanian tampil berbeda dalam ruang politik yang kerap konservatif.
Mode sebagai Bahasa Politik
Menurut Friedman, Duwaji memahami betul bahwa setiap detail penampilannya akan dibaca sebagai pesan publik. “Ia mungkin baru dalam dunia politik, tetapi sebagai seniman, ia sangat paham simbolisme, detail, dan konsistensi dalam membentuk persepsi,” tambah dia.
Pilihan Duwaji untuk mengenakan karya desainer independen, termasuk dari Timur Tengah dan New York, juga dibaca sebagai bentuk dukungan terhadap komunitas kreatif dan identitas global yang inklusif, selaras dengan visi politik Mamdani.
Representasi First Lady dari Kalangan Gen Z
Rama Duwaji tercatat sebagai first lady termuda, first lady Gen Z, dan first lady Muslim pertama dalam sejarah New York City. Dalam wawancara sebelumnya, ia menyebut bahwa ada banyak cara untuk menjadi first lady, terutama di New York. Pernyataan tersebut tercermin dalam caranya berpakaian.
Alih-alih memilih gaun formal atau setelan klasik seperti pendahulunya, Duwaji tampil dengan busana yang terasa personal dan tidak meninggalkan keunikannya. Pengamat mode menilai pendekatan ini menandai pergeseran besar dalam peran first lady, dari figur simbolik yang formal menjadi representasi generasi muda yang otentik dan sadar identitas.
Konsisten Sejak Masa Kampanye
Gaya Duwaji bukan hal baru sejak kemenangan Mamdani. Saat malam kemenangan pemilu, ia mengenakan atasan denim laser-cut karya desainer Palestina Zeid Hijazi dan rok beludru dari desainer independen New York, Ulla Johnson. Ia juga kerap mengenakan busana serba hitam, siluet sederhana, dan sepatu bot runcing, ciri khas estetika dunia seni kontemporer.
“Ia tidak berusaha menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Itulah yang membuat gayanya terasa kuat dan relevan,” ujar Friedman.
Gaya Rama Duwaji: Simbol Perubahan
Gaya Rama Duwaji di pelantikan Zohran Mamdani akhirnya bukan sekadar soal busana. Ia menjadi simbol perubahan, keberanian menantang norma, dan pernyataan bahwa politik modern juga memberi ruang bagi ekspresi diri. Sebuah awal baru, tak hanya bagi kepemimpinan New York, tetapi juga bagi cara publik memaknai peran first lady di masa kini.












