Daerah  

Ibu Kampar Keluhkan MBG, Anak Dikeluarkan dari PAUD, Kasus Selesai Damai

Keterlibatan Ibu di Kampar dengan Masalah Makan Bergizi Gratis

Seorang ibu di Kabupaten Kampar, Riau, bernama Nurul Oriana menjadi sorotan setelah mengunggah foto menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima anaknya di sekolah PAUD. Unggahan tersebut menimbulkan berbagai reaksi dan dugaan intimidasi hingga kabar bahwa anaknya dikeluarkan dari PAUD.

Unggahan Nurul Oriana berisi tiga kotak MBG yang menampilkan susu, kue, buah, dan kacang. Dalam narasinya, ia menyebutnya sebagai “rapelan MBG untuk 5 hari”. Foto ini diunggah di media sosial dan langsung viral. Menggunakan bahasa Melayu Kampar, Nurul menyampaikan keluhannya melalui video sambil menangis. Ia bahkan meminta bantuan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto karena merasa diintimidasi dan mengklaim anaknya dikeluarkan dari sekolah usai unggahan tersebut.

Peristiwa yang Menjadi Sorotan

Kabar tentang Nurul Oriana menyebar cepat dan menarik perhatian pihak kepolisian serta Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar. Mereka segera melakukan mediasi untuk menyelesaikan masalah ini. Pertemuan digelar di Dinas Pendidikan Kampar dan dihadiri oleh orangtua murid PAUD, pengelola MBG, pihak PAUD Melati, Polres Kampar, Polsek Kampar, serta instansi terkait lainnya.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kampar, AKP Gian Wiatma Jonimandala, menjelaskan bahwa kasus ini murni disebabkan oleh miskomunikasi. “Ini hanya miskomunikasi. Sama-sama emosi. Alhamdulillah, setelah pertemuan bersama, persoalan sudah diselesaikan secara damai,” ujarnya.

Penjelasan Dari Pihak Terkait

Kapolsek Kampar, AKP Asdisyah Mursyid, menambahkan bahwa kepolisian hadir untuk menjembatani komunikasi agar permasalahan tidak berkembang lebih jauh. Menurutnya, persoalan bermula saat Nurul mengunggah ketidakpuasan terhadap mekanisme pembagian MBG di media sosial. Setelah unggahan itu viral, Nurul mengaku menerima ancaman dari pihak yang mengatasnamakan pemilik PAUD.

“Kami langsung bergerak melakukan mediasi. Pertemuan sudah dilakukan dan seluruh pihak sepakat menyelesaikan secara kekeluargaan,” ujar Asdisyah. Dalam hasil mediasi tersebut, semua pihak sepakat saling memaafkan dan tidak membawa permasalahan ke jalur hukum. Asdisyah juga menegaskan tidak ditemukan adanya unsur kesengajaan maupun tindakan mengeluarkan anak dari sekolah oleh pihak PAUD Melati.

Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar turut meluruskan informasi yang beredar dan memastikan bahwa anak Nurul Oriana tidak pernah diberhentikan dari PAUD Melati.

Penjelasan Pengelola MBG

Pihak pengelola MBG Kampar menjelaskan bahwa distribusi MBG untuk anak PAUD dilakukan tiga kali dalam seminggu. Pada pekan lalu, pembagian dilakukan untuk Selasa, Rabu, dan Jumat karena terdapat dua hari libur, sementara pada hari Senin anak tetap menerima menu basah. Anggaran MBG untuk anak PAUD ditetapkan sebesar Rp 8.000 per anak per hari. Jika anggaran harian tidak terpakai, sisa dana tetap tersimpan di rekening virtual dapur MBG.

Pengelola MBG mengakui adanya kekurangan dalam sosialisasi kepada orangtua murid, menyampaikan permohonan maaf, dan berkomitmen melakukan perbaikan ke depan. Pihak PAUD Melati juga menegaskan tetap terbuka dan tidak pernah mengeluarkan anak Nurul dari sekolah.

Awal Mula Masalah

Awalnya, Nurul Oriana curhat mendapat intimidasi usai memposting menu rapelan Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah anaknya. Tidak hanya itu saja, sang anak bahkan dikeluarkan dari sekolahnya gara-gara postingan itu. Ia pun meminta bantuan kepada Presiden Prabowo soal intimidasi yang ia terima itu.

Hal itu berawal dari postingannya soal menu rapelan MBG untuk lima hari. Tampak ia memposting di akun Facebooknya yang bernama Nurul Oriana. Pada foto itu terlihat ada tiga bungkus mika berisi makanan. Makanan itu di antaranya ada susu kotak rasa cokelat, kacang goreng, kue, dan pisang. Ada pula buah jeruk di mika yang lainnya.

“Rapelan MBG utk 5hr,” tulisnya pada tanggal 24 Desember 2025. Diduga menu itu merupakan rapelan karena libur sekolah di tanggal merah. Rupanya setelah memposting itu, Nurul mengaku mendapat ancaman. Anaknya juga bahkan dikeluarkan dari sekolahnya.


Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *