Kali Mookervart Berubah Jadi Sumber Air Bersih
Kali Mookervart yang terletak di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, selama ini dikenal dengan air yang kotor, berwarna hitam pekat, dan sering menimbulkan aroma tidak sedap. Namun, kini kondisinya berubah drastis. Air dari kali tersebut telah diolah hingga menjadi jernih dan menjadi sumber kehidupan utama bagi ribuan warga di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Pesakih, Cengkareng, Jakarta Barat.
Pengolahan air ini dilakukan melalui teknologi Water Treatment Plant (WTP). Dengan pengolahan ini, air kali yang sebelumnya tidak layak digunakan kini diklaim memenuhi standar kelayakan untuk dikonsumsi oleh warga. Bahkan, air tersebut juga digunakan untuk kebutuhan jemaah di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari.
Bukan Sekadar Air Mentah
Menurut Kepala Unit Pengelola Rumah Susun (UPRS) Pesakih, Muhammad Ali, inovasi ini muncul dari kebutuhan mendesak akan air bersih di tengah larangan penggunaan air tanah. “Mengingat kebutuhan air akan masyarakat, kebutuhan air bersih, Rusun ini mulai menggali potensi-potensi. Dari hasil analisis PAM Jaya, melihat bahwa ada potensi untuk penggunaan air di sekitar rusun, yaitu air dari Kali Mookervart,” ujarnya saat diwawancarai di Rusun Pesakih.
Ali menjelaskan bahwa air yang masuk ke unit warga tidak berasal langsung dari kali secara mentah. “Nah, jadi secara teknis, enggak mentah-mentah semuanya itu air dari kali, ya. Karena sebenarnya sumbernya itu juga dari waduk, nah air dari kali dan waduk ini nanti jadi satu, lalu baru disaring, diolah, baru didistribusikan,” tambahnya.
Proses Distribusi Air
Kepala Satuan Sarana dan Prasarana UPRS Pesakih, Kevin Mario Nando, menambahkan bahwa instalasi pengolahan milik PAM Jaya berlokasi di area waduk. “Jadi seluruh kawasan rusun ini, memakai air ini, pengolahan dari waduk dan kali. Semua tower, blok, termasuk masjid raya, itu pakai air ini semua,” kata Kevin.
Setelah melalui proses penyaringan dan pengolahan, air tersebut menjadi layak konsumsi dan didistribusikan ke Ground Water Tank (GWT) serta menuju ke unit-unit rusun. Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari yang berlokasi di sebelah Rusunawa Pesakih juga menggunakan air tersebut sebagai suplai air bersih.
Teruji Laboratorium
Ali menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan langkah preventif, salah satunya dengan meminta PAM Jaya untuk melakukan uji sampel air. “Kami ingin memastikan bahwa air ini benar-benar aman bagi masyarakat. Oleh karena itu, kami rutin menyurati PAM Jaya untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dan kualitas air,” ujarnya.
Saat ini, pihaknya tengah dalam proses pengecekan berkala kualitas air rutin. “Jadi, setidaknya rencana saya itu rutin paling minimal enam bulan sekali. Tapi itu hanya rutinnya, kalau misal di lapangan ada keluhan atau pertanyaan warga pengguna, ya kita akan minta uji lab,” tambah Ali.
Kualitas Air yang Menyenangkan
Berdasarkan pantauan langsung, air di toilet rusun dan kios warga mengucur deras dengan visual yang sangat jernih tanpa endapan lumpur. Tidak tercium lagi bau menyengat seperti yang tercium di area Kali Mookervart. Hanya ada aroma tipis dari kaporit yang lazim ditemukan pada air perpipaan PAM Jaya sebagai bagian dari proses disinfeksi.
Di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari, air olahan ini juga terlihat bersih dan nyaman saat digunakan untuk berwudhu. Air tersebut bahkan disaring kembali melalui dispenser untuk diminum jemaah. Saat dicoba, air terasa dingin, menyegarkan, dan tidak meninggalkan rasa aneh di lidah.
Testimoni Warga
Zaki (26), seorang jemaah masjid, bahkan tidak menyadari bahwa air wudhu yang digunakannya bersumber dari kali yang kotor. “Enggak tau sih, baru tau malah ini saya. Enggak gimana-gimana sih, kayak wudu biasa aja. Enak aja, seger aja,” ungkap Zaki.
Para warga yang telah bertahun-tahun menggunakan air tersebut pun memberikan respons positif terkait kualitas air. Mereka mengaku tak ada bau ataupun efek gatal-gatal yang berdampak pada warga yang setiap hari mandi menggunakan air PAM.
Namun, meski air dinilai aman secara fisik, warga masih meragukan kualitas air yang diklaim layak dikonsumsi. Salah satunya Teti (42), penghuni Tower 2 Rusun Pesakih yang mengaku belum berani meminum air tersebut. Meski mengakui airnya jernih dan aman, ia masih mengandalkan air galon untuk konsumsi utama.
Di sisi lain, Novi (40), warga lainnya, mengaku telah bertahun-tahun menggunakan air PAM untuk dikonsumsi, seperti memasak. “Kalau buat minum sih enggak, tapi kalau masak iya. Saya masak nasi, masak apa, semua pakai air dari PAM ini,” tuturnya.
Untuk menjaga kepercayaan warga, UPRS Pesakih berkomitmen melakukan pengujian laboratorium secara berkala di seluruh penampungan air atau Ground Water Tank (GWT). “Kami ingin memastikan bahwa air ini benar-benar aman bagi masyarakat. Oleh karena itu, kami rutin menyurati PAM Jaya untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dan kualitas air,” ujar Ali.
Ali juga memberikan jaminan personal yang kuat dengan menegaskan bahwa pengelola rusun menggunakan suplai air yang sama persis dengan warga untuk kebutuhan sehari-hari di kantor. Sehingga, para pengelola rusun juga akan langsung memonitor kualitas air apabila terdapat masalah. “Karena begini, air yang dipakai di kran warga dengan yang saya dan tim pakai itu kan sama. Kalau mereka mengeluhkan, saya juga pasti akan mengeluhkan, merasakan juga,” ucap Ali.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












