Rob yang Menggila di Pesisir Jakarta
Banjir rob atau rob yang menggila terus menerjang pesisir Jakarta. Air laut telah melampaui ketinggian daratan, dan jika tidak ada tanggul beton, wilayah tersebut bisa saja tenggelam. Video rembesan air laut ke lingkungan permukiman elit serta limpasan banjir rob ke sejumlah jalan di kawasan Ancol viral di media sosial.
Direktur Meteorologi Maritim BMKG Eko Prasetyo mengonfirmasi bahwa faktor utama penyebab rob yang tinggi adalah jarak bumi dan bulan yang sangat dekat (perige). “Ketinggian air laut maksimum akan meningkat di sejumlah lokasi saat perige,” katanya.
Fenomena supermoon yang terjadi di pekan pertama Desember lalu masih dirasakan dampaknya di banyak wilayah pesisir di Tanah Air. Bukan hanya menembus dan melompati tanggul, air laut juga menerobos ke daratan dengan cara membanjiri sungai-sungai.
Namun, kelompok Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengingatkan bahwa amblesnya tanah atau daratan seperti di Jakarta berperan besar dalam persoalan banjir rob. Tanah ambles dipicu oleh eksploitasi ruang, pembangunan tata kota yang serampangan, dan pembiaran terhadap ekstraksi air tanah yang masif.
Laporan WEF: Penurunan Muka Tanah sebagai Tantangan Global
Laporan terbaru World Economic Forum (WEF), terbit November lalu, menyoroti penurunan muka tanah perkotaan sebagai tantangan global yang masih kurang mendapat perhatian. “Laporan ini menunjukkan bahwa penurunan tanah dapat mengancam kesejahteraan dan kelayakhunian kota-kota di seluruh dunia,” tulis laporan berjudul Resilient Economies: Strategies for Sinking Cities and Flood Risks tersebut.
Dalam laporan 49 halaman itu dijelaskan bahwa penurunan tanah terutama dipicu oleh perilaku manusia yang tidak berkelanjutan, mulai dari pengambilan air tanah hingga urbanisasi yang pesat. Tekanan tersebut meningkatkan risiko banjir, kerusakan infrastruktur, serta perpindahan penduduk. “Ketika dikombinasikan dengan kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem, penurunan tanah dapat mengubah risiko yang semula dapat dikelola menjadi ancaman eksistensial bagi dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat,” tulis WEF.
Skala fenomena kota tenggelam disebutnya sangat besar dan dampaknya tidak merata antarwilayah. Secara global, sekitar 6,3 juta kilometer persegi daratan diperkirakan mengalami penurunan tanah, setara dengan gabungan luas India, Argentina, dan Jepang. Kondisi ini berdampak pada sekitar dua miliar penduduk dunia.
Percepatan Kenaikan Permukaan Laut
Masalah tersebut diperparah oleh percepatan kenaikan muka laut. Disebutkan, dalam tiga dekade terakhir, laju kenaikan permukaan laut global meningkat lebih dari dua kali lipat hingga sekitar 3,3 milimeter per tahun. Dan proyeksinya menunjukkan permukaan laut dapat naik hingga 16,9 sentimeter dalam 30 tahun ke depan.
Di sejumlah kota pesisir, laju penurunan tanah bahkan melampaui kenaikan permukaan laut itu, sehingga memperbesar risiko banjir dan kerusakan.
Kota-Kota di Indonesia dan Dunia yang Tenggelam
Laporan WEF mencatat amblesnya tanah daratan tidak terjadi secara merata. Analisis terhadap 99 kota pesisir menggunakan data 2015 dan 2020 menunjukkan 33 di antaranya mengalami penurunan tanah dengan laju setara hingga lima kali lebih cepat dibandingkan kenaikan muka laut global. Di Shanghai, misalnya, terdapat area dengan laju penurunan hingga 10 milimeter per tahun.
Laju tercepat banyak ditemukan di kota-kota Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Asia Timur. Dalam sejumlah kasus ekstrem, area tertentu di sebuah kota mengalami penurunan tanah 10 hingga 20 kali lebih cepat dibandingkan kenaikan lautnya. Kondisi tersebut tercatat di kota-kota seperti Tianjin, Semarang, dan Jakarta. Di pesisir barat laut Jakarta, laju penurunan tanah dilaporkan mencapai hingga 280 milimeter (hampir 0,3 meter) per tahun. Sementara itu, Semarang mengalami penurunan sekitar 60–120 milimeter per tahun.
Fenomena Sinking City di Dunia
Fenomena sinking city tidak hanya terjadi di Asia. Di Amerika Serikat, data satelit resolusi tinggi periode 2015–2021 menunjukkan sekitar 20 persen wilayah perkotaan di 28 kota mengalami penurunan tanah, yang berpotensi mempengaruhi sekitar 34 juta orang atau sekitar 12 persen dari total populasi nasional.
Kota-kota seperti Houston, Dallas, Fort Worth, Chicago, New York, dan Detroit bahkan mencatat lebih dari 70 persen wilayahnya terdampak. Sejak 2000, tercatat lebih dari 90 kejadian banjir di delapan kota di AS dengan laju penurunan tanah di atas 3 milimeter per tahun, serta sekitar 29 ribu bangunan diklasifikasikan berisiko tinggi hingga sangat tinggi.
Sejumlah kota lain di dunia juga mencatat angka signifikan. Dalam data yang disajikan WEF, Mexico City tercatat mengalami penurunan tanah sekitar 350–450 milimeter per tahun, menjadikannya salah satu yang terparah di dunia. San Joaquin Valley di Amerika Serikat mencatat penurunan sekitar 150–300 milimeter per tahun.
Di Iran, Rafsanjan Plain mengalami penurunan hingga 300 milimeter per tahun, sementara Teheran berkisar 50–250 milimeter per tahun. Kota-kota lain seperti Ho Chi Minh City (40–70 milimeter per tahun), Bangkok (9–30 milimeter per tahun), Lagos (2–87 milimeter per tahun), Yangon (10–110 milimeter per tahun), serta Beijing (15–138,5 milimeter per tahun) juga masuk dalam daftar wilayah terdampak.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”












