Pengantin malu ditipu WO, tamu kelaparan, pesan makanan online, pelaku: ngumpulin dana

Kasus Penipuan Wedding Organizer (WO) Ayu Puspita Viral di Media Sosial

Kasus penipuan yang dilakukan oleh Wedding Organizer (WO) Ayu Puspita kini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak korban mengeluhkan pengalaman buruk mereka setelah menggunakan jasa WO ini, termasuk dalam acara pernikahan yang seharusnya menjadi momen paling berkesan.

Cerita Pernikahan Korban yang Berakhir Tangis

Nana, salah satu kerabat dari korban, menceritakan bagaimana pernikahan sepupunya di Jakarta berakhir dengan air mata dan kekecewaan. Acara resepsi yang digelar di sebuah gedung tampak meriah, namun pada akhirnya berubah menjadi kacau balau karena katering tidak hadir sama sekali.

“Acara sudah mulai, katering nggak ada sama sekali,” ujar Nana saat dikonfirmasi. Pihak keluarga langsung berusaha menghubungi vendor katering, tetapi jawaban yang diterima tidak jelas dan kabur. Mereka akhirnya nekat memesan makanan melalui aplikasi ojek online agar tamu bisa makan meski dalam kondisi darurat.

Namun, upaya tersebut tidak cukup untuk menutupi rasa malu dan kepanikan. Situasi di dalam gedung kian memburuk, dengan kedua mempelai menangis karena sedih dan malu. Bahkan orang tua mempelai pria mengalami sesak dada, sementara orang tua mempelai wanita turun panggung lebih awal.

Pengakuan Korban Lain yang Tak Kalah Parah

Tidak hanya sepupu Nana, banyak pasangan lain juga mengalami hal serupa. Salah satunya adalah Samuel, yang menggelar pesta resepsi di Gedung Pelindo, Jakarta Utara, pada 6 Desember 2025. Tamu-tamu pulang lebih awal karena tidak ada sajian makanan.

Samuel mengaku sudah membayar penuh, sekitar Rp 82 juta plus-plus. Rencana bulan madu pun batal karena ia percaya WO akan membelikan tiket pesawat sebagai bagian dari promo. “Terima kasih ya kak, dimana aku sudah booking villa di Bali pun karena berpikir dia sudah beliin tiket pesawat,” ucapnya.

Video Penangkapan Owner WO Ayu Puspita Viral

Dalam video yang dibagikan di media sosial, terlihat para korban mengerubungi Ayu Puspita saat ia tiba di Polda Metro Jaya. Salah satu korban teriak, “Di sini ada delapan orang yang kena tipu!”

Ayu Puspita memberikan penjelasan, mengatakan bahwa ia menggunakan perlengkapan sendiri dan hanya membayar pekerja. Ia juga mengaku akan mencoba mengembalikan dana dengan melakukan penjualan ke depannya.

Tips Memilih Wedding Organizer Agar Tidak Jadi Korban Penipuan

CEO & Founder Shilo Planner & Organizer Daniel Budi memberikan beberapa tips untuk memilih WO yang aman dan terpercaya:

  1. Cek Media Sosialnya

    Lihat akun media sosial WO dan WP sebelum menggunakan jasa mereka. Periksa testimoninya dan vendor yang bekerja sama dengan mereka. Biasanya, WO dan WP yang aktif akan mengunggah testimoni pelanggan dan mengikuti akun vendor yang bekerja sama.

  2. Lihat Pernikahan Pelanggan

    Cek unggahan hasil karya WO dan WP di media sosial. Jika ada klien yang mengunggah pernikahan mereka dan menandai akun WO dan WP, kamu bisa melihat apakah sesuai dengan selera atau tidak. Jika memungkinkan, datangi pernikahan klien WO dan WP dengan appointment terlebih dahulu.

  3. Hadiri Pameran Pernikahan

    Pameran pernikahan adalah tempat yang baik untuk melihat langsung berbagai vendor. Vendor yang tampil di pameran biasanya sudah dikurasi oleh penyelenggara, sehingga lebih terjamin kualitasnya.

  4. Periksa Usia Operasional WO dan WP

    Seberapa lama pengalaman WO dan WP dalam industri pernikahan juga penting. WO dan WP yang sudah bertahun-tahun beroperasi menunjukkan keseriusan mereka. Namun, bukan berarti yang baru tidak layak dipertimbangkan. Ada yang baru saja memulai usaha tetapi memiliki pengalaman yang cukup.

  5. Teliti Kontrak Kerja Sama

    Pastikan kontrak kerja sama yang ditandatangani sudah sesuai dengan kesepakatan. Jika ada yang mengganjal, tanyakan secara langsung. Jika penjelasannya kurang meyakinkan, pertimbangkan untuk memilih vendor lain.




Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *