Daerah  

Dua Dekade Banjir di Karangligar, Janji 1.000 Rumah Panggung Tinggal 25 Unit

Kehidupan yang Terus Terendam Banjir

Agus Tohaeri, seorang warga Dusun Pangasinan, Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, menatap air yang mengalir deras menerjang rumahnya pada Jumat 5 Desember 2025 malam. Dia tak menyangka ‘tamu tak diundang’ itu kembali datang merendam harta bendanya yang berada di dalam rumah.

Tak banyak benda yang bisa dia selamatkan. Hanya kendaraan bermotor dan beberapa benda berharga yang sempat ia ungsikan ke tempat yang aman. Sisanya, tak keburu diangkut dan pasrah terendam air bah.

“Sudah ratusan kali rumah kami diterjang banjir yang berasal dari luapan sungai Cibeet dan Citarum. Hampir 20 tahun, kami merasakan penderitaan seperti saat ini. Sejauh ini belum ada solusi konkret dari pemerintah yang mampu membawa kami lepas dari penderitanya ini,” ujarnya, Minggu 7 Desember 2025.

Agus yang mengaku lahir dan dibesarkan di Kampung Pangasinan mengaku daerahnya mulai sering disergap banjir sejak tahun 2007. Sebelumnya, bencana itu tak pernah terjadi karena memang letak dusunnya cukup jauh dari aliran Sungai Cibeet maupun Citarum.

Namun, entah mengapa, sejak 2007, luapan Cibeet begitu mudah meredam Desa Karangligar, bukan hanya permukiman warga, tetapi juga areal persawahan.

“Kabarnya permukaan tanah di desa kami mengalami penurunan hingga dua meter. Penyebabnya kami tak tahu, yang pasti saat Cibeet meluap desa kami yang terendam lebih dulu. Semenatara desa lain yang letaknya persis di bibir Sungai Cibeet selamat dari terjangan air bah,” tutur Agus.

Penurunan permukaan tanah itu pula yang membuat genangan banjir di Karangligar sulit surut. Akibatnya, banjir di desa itu kerap disebut-sebut sebagai banjir abadi karena air yang terperangkap dicekungan tak pernah benar-benar kering.

“Seperti banjir kali ini, sudah tiga hari rumah warga dan areal persawahan terendam. Genangan banjir bukan hanya menyusut malah tambah luas,” tuturnya.

Janji Pemerintah yang Masih Tertunda

Agus menuturkan, di awal 2025, warga mendapat angin segar terkait penanganan banjir di desanya. Ada dua skema yang ditawarkan pejabat di negara ini.

Pertama, ada janji pembangunan 1.000 rumah panggung yang katakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kepada warga ketika yang bersangkutan meninjau langsung banjir Karangligar awal tahun lalu. Berikutnya, pembangunan bendungan kecil (embung), pintu air, tanggul Cibeet dan rumah pompa, yang dijanjikan pihak BBWS Citarum, Kementerian PUPR melalui anggota DPR RI, Saan Mustopa.

Kedua skema itu memang berjalan pada tahun ini juga, namun progresnya jauh dari harapan masyarakat setempat. “Janji pembangunan rumah panggung menyusut tajam dari 1.000 unit menjadi 25 unit saja. Dalihnya data dari warga dengan data yang diterima gubernur tidak sinkron,” kata Agus.

Setali tiga uang, pembangunan embung, rumah pompa, dan pintu air yang sebelumnya dijanjikan bisa digunakan akhir tahun ini, baru sebatas pembebasan lahan. “Kendati demikian, kami tetap berharap dua skema yang dijanjikan para pejabat itu terealisasi semua. Sehingga pada pertengahan 2026 nanti, Karangligar terbebas dari banjir abadi,” kata Agus.

Dia juga mengaku masih menunggu kabar terkait rencana pemerintah pusat membangun waduk besar di hulu Sungai Cibeet, yakni di wilayah Kabupaten Bogor dan Cianjur. Jika rencana itu terwujud, Agus merasa yakin, banjir di Karangligar dan Karawang utara akan teratasi secara optimal.

“Selama ini, aliran Sungai Cibeet selalu mengalir bebas tanpa ada penahan di bagian hulunya. Belum ada tanggul apalagi bendungan,” katanya.

Banjir yang Masih Belum Surut

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang Usep Supriatna menyebutkan, banjir yang menerjang Karangligar awal Desember ini, telah berlangsung tiga hari. “Air bah mulai masuk ke permukiman warga Karangligar pada Jumat 5 Desember 2025. Hingga Minggu 7 Desember ini banjir masih belum surut,” tuturnya.

Banjir kali ini, sedikitnya telah merendam sebanyak 817 unit rumah warga yang dihuni 1.488 keluarga yang terdiri dari 3.988 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 220 warga dan 30 balita terpaksa mengungsi ke tempat yang aman. Sebab, rumah mereka sudah terendam air setinggi 180 sentimeter lebih,” kata Usep.

Rumah Panggung yang Masih Tertunda

Menurut Usep, warga terdampak banjir di tampung di aula desa, tempat ibadah dan pihak keluarganya masing-masing yang terbebas dari terjangan air bah. Di sisi lain, rumah panggung yang sedang dibangun Pemprov Jabar belum bisa digunakan karena masih berupa rangka bangunan.

Apalagi, jumlah rumah panggung yang sedang dibangun tidak sebanding dengan warga yang terpaksa mengungsi. “Saya lihat pembangunan rumah panggung terhenti karena banjir,” ujarnya.

Pihak BPBD, kata dia, saat ini tengah fokus menyuplai kebutuhan pangan korban terdampak banjir. Hanya, pengolahan makanan siap saji tidak dilakukan di tempat pengungsian, tetapi dilakukan di dapur BPBD.

Pertimbangannya, kata Usep, semua bahan pokok dan peralatan masak lengkap di dapur BPBD ketimbang harus mengangkut ke lokasi pengungsian. Alasan lain, penyaluran makanan tidak hanya dilakukan untuk warga Karangligar saja karena di daerah lain pun ada yang terdampak bencana serupa.

“Pada saat bersamaan, saudara kita yang berada di daerah pesisir pun diterjang banjir air laut pasang (rob). Banjir ini pun sama telah berlangsung berhari-hari,” katanya.


Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *