Dua Tragedi Mengerikan di Kalimantan Timur
Dua peristiwa memilukan terjadi di Kalimantan Timur sepanjang November 2025. Peristiwa pertama adalah kasus suami membakar istri di Kutai Timur, sedangkan yang kedua adalah tenggelamnya enam anak di kubangan Kilometer 8, Graha Indah, Balikpapan Utara. Kedua kejadian ini menyedot perhatian warga Kaltim dan menimbulkan duka mendalam.
Suami Bakar Istri di Kutai Timur
Kasus kekerasan rumah tangga (KDRT) di Sangatta Selatan, Kutai Timur, berujung tragis. AL (48) tega membakar istrinya, NH (35), dan anak mereka yang berusia 6 tahun. AL mengalami luka bakar di lengan, sementara NH mengalami luka bakar cukup parah hingga 80 persen. NH meninggal dunia setelah empat hari dirawat intensif di RSUD Kudungga Sangatta, Selasa (11/11/2025). Ia dimakamkan di kampung halamannya, di Sulawesi.
Motif pelaku bukan karena cemburu seperti dugaan awal, melainkan karena kondisi ekonomi keluarga yang tergolong kekurangan. AL mengaku kurang lebih sebulan belakangan ini, ia dan NH sering berselisih soal keuangan keluarga. “Tuntutan istrinya tinggi, penghasilannya kurang, hari-hari dimintai uang terus, sempat cekcok keras, karena merasa tidak dihargai sebagai laki-laki,” jelas AKP Ardian Rahayu Priatna, Kasat Reskrim Polres Kutim.
Setelah kejadian, AL mengaku trauma dan terpukul. Pelaku ditetapkan sebagai tersangka pembakaran istrinya, NH. AL diancam maksimal 15 tahun penjara sesuai Pasal 44 UU No. 23 Tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan fisik dalam rumah tangga (PKDRT).
AL harus menjalani operasi akibat luka bakar yang dialaminya. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter Polres Kutim, AL harus dirujuk ke RSUD Kudungga dan lusa, Rabu (19/11/2025) harus segera dioperasi. “Karena luka bakar pada tangan kirinya serius, dan apabila tidak segera ditindaklanjuti akan membusuk bahkan bisa diamputasi,” jelasnya.
AA (6), anak kedua dari AL dan NH juga mengalami luka bakar akibat kejadian tersebut. AA mengalami luka bakar di bagian punggung, pantat dan kedua pahanya dan sampai saat ini masih dirawat di RSUD Kudungga, Sangatta. Selama dirawat di RSUD Kudungga, AA dijaga oleh A, kakaknya. Sayangnya, polisi tidak menyebutkan usia A yang kini harus menjaga adiknya, setelah NH meninggal.
6 Anak Tenggelam di Kubangan Km 8
Peristiwa tragis lainnya yang terjadi di Kaltim adalah meninggalnya 6 anak di Balikpapan. Mereka meninggal usai tenggelam di kubangan Jl PDAM RT 37 Km 8, Kelurahan Graha Indah, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Senin (17/11/2025). Selasa (18/11/2025), enam anak yang tenggelam di cekungan dalam tersebut dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Km 8, Kota Balikpapan.
Lokasi kejadian menjadi sorotan karena dekat dengan kawasan Grand City, sebuah kompleks perumahan milik pengembang properti Sinarmas Land. Namun, Sinarmas Land membantah kawasan tersebut termasuk kawasan Grand City. Area tersebut berbatasan langsung dengan area Grand City Balikpapan, namun tidak termasuk dalam area pengembangan mereka.
Camat Balikpapan Utara, Umar Adi mengatakan, lokasi kejadian tersebut berada di area yang berbatasan dengan kawasan Perumahan Grand City milik pengembang properti Sinar Mas Land. Pihaknya bahkan sempat melakukan peninjauan di lokasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait. Seperti kepolisian, Basarnas, maupun instansi pemerintah lainnya.
Areal tanah kavling dengan kontur rendah. Dari informasi yang diterima, cekungan tersebut bukan kolam yang direncanakan. Areal itu merupakan tanah kavling yang kontur permukaannya lebih rendah dari jalan sekitar, sehingga air hujan menggenang selama bertahun-tahun dan berubah menjadi kolam besar.
Grand City Lakukan Pemagaran. SinarMas Land mulai memasang pagar seng di lokasi tragedi yang menewaskan enam anak di kubangan air proyek pembangunan akses jalan di Kilometer 8, Balikpapan Utara, Rabu (19/11/2025). Proyek ini masih dalam tahap awal, termasuk proses pengupasan lahan untuk pembuatan akses jalan tembus kilometer 8 masuk ke Grand City.
Polisi Sudah Periksa 20 Saksi
Polda Kalimantan Timur terus mendalami penyelidikan kasus tragis meninggalnya enam anak di area genangan air kawasan Grand City Balikpapan. Hingga Jumat lalu, penyidik telah memeriksa sekitar 20 orang saksi dari berbagai pihak.
Tragedi tenggelam anak Balikpapan yang merenggut enam nyawa di kubangan KM 8, Graha Indah, Balikpapan Utara, masih menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban. Salah satu yang merasakan dampak paling besar adalah Laili, ibu yang kehilangan tiga anak sekaligus dalam peristiwa memilukan tersebut.
Trauma dan duka yang ia alami kini diperparah dengan derasnya pemberitaan serta komentar negatif di media sosial. Laili mengaku sulit membuka kembali beranda media sosialnya. Berita mengenai kematian ketiga anaknya terus hilir-mudik di dunia maya, disertai foto-foto anaknya yang banyak dibagikan tanpa seizin keluarga.
Psikolog Siloam Hospitals Balikpapan, Patria Rahmawaty .S.Psi., M.MPd, Psikolog mengatakan, kondisi psikologis masyarakat yang mudah bereaksi tanpa memahami situasi sering memperburuk keadaan. Terlebih, tak sedikit yang melakukan victim blaming atau menyalahkan keluarga korban. Sehingga, ia menegaskan, komentar negatif hingga dengan menyalahkan keluarga korban dapat menimbulkan dampak serius secara psikologis.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











