Bisnis  

Perjalanan Sri Wahyuni: Dari Dapur ke Pasar Internasional!

Perjalanan Inspiratif Sri Wahyuni dalam Membangun Sambal Ning Niniek

Perjalanan Sri Wahyuni dalam membangun usaha Sambal Ning Niniek menjadi contoh nyata bagaimana usaha kecil bisa berkembang menjadi bisnis yang dikenal di berbagai belahan dunia. Dari awalnya hanya sebuah ide sederhana, kini Sambal Ning Niniek telah menjadi salah satu merek yang sukses dan memiliki penggemar setia.

Pada awalnya, Sri Wahyuni memulai usahanya dengan langkah-langkah kecil. Pada Oktober 2017, saat masih bekerja sebagai karyawan, ia memutuskan untuk membangun Sambal Ning Niniek. “Perkenalkan, saya Sri Wahyuni, Owner dari Sambal Ning Niniek, sambal ini berdiri di tahun 2017,” ujarnya saat berbincang.

Setahun kemudian, ia mengambil keputusan besar yang menjadi titik balik hidupnya. “Pada saat itu saya masih kerja dan saya memutuskan resign ketika bulan Oktober 2018,” katanya. Setelah berhenti bekerja, ia mulai fokus pada legalitas usahanya dan memperkuat identitas produknya.

Produk pertama yang diluncurkan adalah Abon Sambal Ikan Klotok, olahan khas Jawa Timur yang biasanya hanya dijadikan sambal atau oseng. “Jadi awal produk kami adalah Abon Sambal Ikan Klotok,” tuturnya. Bahan utama abon klotok adalah ikan asin Jawa Timur yang ia olah menjadi bentuk abon agar lebih praktis disantap.

Ia berharap kreasi barunya itu bisa diterima masyarakat dari berbagai usia. “Jadi saya berharap dengan abon klotok ini bisa dinikmati dari mulai anak-anak sampai orang dewasa,” katanya. Harapan tersebut ternyata terwujud sejak awal penjualan karena produk tersebut mendapatkan sambutan positif.

Tak lama setelah itu, pada 2019, Sambal Ning Niniek mulai rutin dipasarkan ke luar negeri melalui agen. “Jadi mulai saat itu saya di tahun 2019 sudah mulai memasarkan produk saya di Hongkong dan Taiwan,” ungkapnya. Tahun 2020 menjadi awal perjumpaannya dengan Pertamina, ketika ia membutuhkan modal untuk meningkatkan standar produksinya.

Pertamina kemudian memberikan bantuan renovasi tempat produksi agar sesuai standar yang berlaku. “Jadi pada saat itu saya dibantu oleh Pertamina untuk merenovasi tempat produksi kami,” katanya. Selain itu, Sambal Ning Niniek juga mendapat dukungan lain yang membantu mempercepat perkembangan usaha.

Bantuan ini membuat bisnisnya lebih siap masuk ke pasar yang lebih luas dan kompetitif. “Sehingga kami menjadi perusahaan yang bisa memasarkan lebih luas lagi,” katanya. Sri Wahyuni mengaku bersyukur karena Pertamina tidak hanya memberikan modal, tetapi juga pendampingan jangka panjang.

Bahan baku Sambal Ning Niniek berasal dari berbagai pelosok Nusantara sesuai kualitas yang dibutuhkan. Supplier mereka yaitu yang paling jauh itu dari Medan, terus itu baby cumi, sedangkan untuk ikan roanya kami ambil dari Manado. Ikan klotok diperoleh dari Pantura, tepatnya Lamongan, sedangkan tuna asap berasal dari Malang.

Ia menekankan semua bahan baku diproduksi berdasarkan pesanan sehingga kualitas dapat terjaga. “Jadi kami pesan itu baru mereka membuatkan karena kami benar-benar mengutamakan kualitas produk,” ujarnya. Untuk membuat abon klotok, bahan baku ikan asin dibuat dari ikan layang yang diawetkan secara alami.

Selain mengembangkan usaha, Sri Wahyuni juga aktif membangun sinergi bersama UMKM sekitar. “Kami membentuk istilahnya Paguyuban untuk banyak teman-teman UMKM di Siwalankerto ini,” katanya. Paguyuban ini menjadi wadah berbagi ilmu dan memperluas jaringan pemasaran.

Kini Sambal Ning Niniek berhasil menembus pasar yang lebih jauh lagi setelah konsisten mengikuti berbagai program pendampingan. “Saat ini yang paling jauh itu Belgia,” katanya. Semua perjalanan ini bermula dari perbincangannya dengan salah satu pegawainya saat ia masih bekerja sebagai karyawan.

Resep abon klotok sebenarnya adalah resep keluarga yang awalnya hanya dibuat untuk anak-anaknya. “Awalnya resep keluarga ya, jadi ketika itu saya membikinkan anak-anak dan pada suka,” ujarnya. Ketika aktif di dalam kegiatan MLM, ia beberapa kali keluar negeri dan membawa abon klotok sebagai oleh-oleh.

Dari sana banyak yang mulai memesan dan produk itu pun berkembang dari kemasan plastik sederhana menjadi kemasan ritel. “Awal itu dikemas seperti kiloan, terus dengan jalannya waktu saya fikir bagaimana kalau dikemas bagus,” ujarnya. Kini produk Sambal Ning Niniek telah masuk ke berbagai ritel ternama seperti Alfamidi, Hypermart, Aeon, hingga Bu Rudy.

Dapur produksi tetap berlokasi di Surabaya, tetapi distribusinya sudah menjangkau berbagai kota Indonesia. Pegawai yang terlibat dalam proses usaha juga semakin banyak seiring peningkatan permintaan pasar. “Bagian produksi ada 4 orang dan penyiapan bahan baku ada 3 orang,” katanya.

Selain itu, ada pula staf admin, SPG, dan bagian pengiriman yang masing-masing memiliki tiga orang. “Jadi istilahnya bisa menampung banyak orang untuk mendapatkan pekerjaan,” ujar Sri Wahyuni. Hingga kini, ia masih aktif mengikuti pendampingan dan program pengembangan UMKM dari Pertamina.

Pekan ini, ia sedang mengikuti bootcamp di Jakarta untuk bersaing masuk ke 30 besar program aggregator. “Itu merupakan program pemerintah, jadi mengambil istilahnya kita kemarin lolos 50 besar,” ujarnya. Jika berhasil menjadi salah satu pemenang, ia berkesempatan mendapatkan pendanaan tambahan.

Bagi para pelaku UMKM yang sedang merintis usaha, Sri Wahyuni memberikan pesan sederhana namun kuat. “Yang pertama kita selalu fokus, fokus dan tahan banting juga ya,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya melibatkan Allah dalam setiap langkah usaha. “Kita selalu positif thinking saja,” ujarnya.

Setiap tantangan menurutnya selalu memiliki gantinya di sisi lain. “Memang di beberapa toko kita mengalami penurunan ya tapi ada kenaikan sekali,” katanya. Sebagai UMKM binaan Pertamina, ia berharap pendampingan terus dilakukan agar pelaku UMKM Indonesia bisa semakin kuat. “Pertamina tetap selalu berusaha mendampingi para UMKM untuk memasarkan produk lebih luas lagi,” ujarnya.

Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *