Bisnis  

Perjalanan Sri Wahyuni dari Dapur ke Dunia dengan Sambal Ning Niniek!

Perjalanan Sambal Ning Niniek: Dari Dapur Rumah ke Pasar Internasional

Perjuangan Sri Wahyuni dalam membangun Sambal Ning Niniek menjadi inspirasi bagi banyak pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia. Kisah ini membuktikan bahwa dengan tekad yang kuat, usaha kecil bisa berkembang hingga mencapai panggung internasional. Awalnya hanya dimulai dari dapur rumah, kini Sambal Ning Niniek telah menjangkau berbagai pasar di luar negeri.

Pada Oktober 2017, Sri Wahyuni memulai perjalanan bisnisnya saat masih bekerja sebagai karyawan. “Perkenalkan, saya Sri Wahyuni, Owner dari Sambal Ning Niniek, sambal ini berdiri di tahun 2017,” ujarnya. Setahun kemudian, ia mengambil keputusan besar untuk meninggalkan pekerjaannya dan fokus sepenuhnya pada usahanya.

Setelah berhenti bekerja, Sri Wahyuni mulai memperkuat legalitas usahanya dengan bergabung dengan beberapa dinas. “Jadi mulai saat itu saya mulai bergabung dengan beberapa dinas dan dari situ saya mulai melengkapi legalitas usaha kami,” katanya. Ia juga mulai membranding produknya agar lebih mudah dikenali masyarakat.

Produk pertama yang diluncurkan adalah Abon Sambal Ikan Klotok, olahan khas Jawa Timur. “Awal produk kami adalah Abon Sambal Ikan Klotok,” jelasnya. Bahan utamanya adalah ikan asin Jawa Timur yang diolah menjadi abon agar lebih praktis disantap. “Saya berharap dengan abon klotok ini bisa dinikmati dari mulai anak-anak sampai orang dewasa,” tambahnya.

Hasilnya sangat positif, karena produk tersebut mendapatkan sambutan hangat sejak awal penjualan. Tidak lama setelah itu, pada 2019, Sambal Ning Niniek mulai rutin dipasarkan ke luar negeri melalui agen. “Saya mulai memasarkan produk saya di Hongkong dan Taiwan,” ungkapnya.

Tahun 2020 menjadi titik penting ketika Sri Wahyuni bertemu dengan Pertamina. “Karena saya membutuhkan modal untuk mempunyai legalitas seperti HACCP,” jelasnya. Pertamina memberikan bantuan renovasi tempat produksi agar sesuai standar BPOM. Selain itu, mereka juga membantu dalam pemasaran dan pelatihan.

Bahan baku Sambal Ning Niniek berasal dari berbagai pelosok Nusantara sesuai kualitas yang dibutuhkan. “Supplier kami yaitu yang paling jauh itu dari Medan, terus itu baby cumi, sedangkan untuk ikan roanya kami ambil dari Manado,” jelasnya. Ikan klotok diperoleh dari Pantura, tepatnya Lamongan, sedangkan tuna asap berasal dari Malang.

Ia menekankan semua bahan baku diproduksi berdasarkan pesanan sehingga kualitas dapat terjaga. “Kami pesan itu baru mereka membuatkan karena kami benar-benar mengutamakan kualitas produk,” ujarnya. Untuk membuat abon klotok, bahan baku ikan asin dibuat dari ikan layang yang diawetkan secara alami tanpa bahan kimia.

Selain mengembangkan usaha, Sri Wahyuni juga aktif membangun sinergi bersama UMKM sekitar. “Kami membentuk istilahnya Paguyuban untuk banyak teman-teman UMKM di Siwalankerto ini,” katanya. Paguyuban ini menjadi wadah berbagi ilmu dan memperluas jaringan pemasaran.

Kini Sambal Ning Niniek berhasil menembus pasar yang lebih jauh lagi setelah konsisten mengikuti berbagai program pendampingan. “Saat ini yang paling jauh itu Belgia,” katanya. Semua perjalanan ini bermula dari perbincangannya dengan salah satu pegawainya saat ia masih bekerja sebagai karyawan.

Resep abon klotok sebenarnya adalah resep keluarga yang awalnya hanya dibuat untuk anak-anaknya. “Awalnya resep keluarga ya, jadi ketika itu saya membikinkan anak-anak dan pada suka,” ujarnya. Ketika aktif di dalam kegiatan MLM, ia beberapa kali keluar negeri dan membawa abon klotok sebagai oleh-oleh.

Dari sana banyak yang mulai memesan dan produk itu pun berkembang dari kemasan plastik sederhana menjadi kemasan ritel. “Kini produk Sambal Ning Niniek telah masuk ke berbagai ritel ternama seperti Alfamidi, Hypermart, Aeon, hingga Bu Rudy,” katanya.

Dapur produksi tetap berlokasi di Surabaya, tetapi distribusinya sudah menjangkau berbagai kota Indonesia. “Ada beberapa agen di beberapa kota di Indonesia,” ujarnya. Pegawai yang terlibat dalam proses usaha juga semakin banyak seiring peningkatan permintaan pasar.

Hingga kini, Sri Wahyuni masih aktif mengikuti pendampingan dan program pengembangan UMKM dari Pertamina. “Pertamina tiap tahun ada seperti Akademi Pertamina ataupun Pertamina Aggregator,” katanya. Pekan ini, ia sedang mengikuti bootcamp di Jakarta untuk bersaing masuk ke 30 besar program aggregator.

Bagi para pelaku UMKM yang sedang merintis usaha, Sri Wahyuni memberikan pesan sederhana namun kuat. “Yang pertama kita selalu fokus, fokus dan tahan banting juga ya.” Ia juga menekankan pentingnya melibatkan Allah dalam setiap langkah usaha. “Kita selalu positif thinking saja.”

Sebagai UMKM binaan Pertamina, ia berharap pendampingan terus dilakukan agar pelaku UMKM Indonesia bisa semakin kuat. “Semoga Pertamina selalu melahirkan UMKM-UMKM yang go global,” tutupnya.

Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *