Potensi Bahan Bakar Alternatif dari Jerami
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan ketertarikan terhadap pengembangan bahan bakar alternatif berbasis material jerami yang dikembangkan oleh Tim Bobibos. Proses ini dianggap memiliki potensi besar dalam memenuhi kebutuhan energi yang lebih berkelanjutan.
Sejak sepekan lalu, BRIN telah mencoba menjalin komunikasi dengan Tim Bobibos, tetapi hingga saat ini belum ada kabar terbaru mengenai perkembangan mereka. Plt. PR Teknologi Bahan Bakar Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Hari Setiapraja, menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu respons lebih lanjut dari Tim Bobibos.
Bobibos adalah produk bahan bakar yang diklaim berasal dari olahan jerami. Produk ini dibuat oleh PT Inti Sinergi Formula, yang didirikan oleh M. Ikhlas Thamrin. Menurut informasi yang diberikan, Bobibos telah diuji coba pada beberapa kendaraan roda empat dan roda dua. Dalam keterangannya, Ikhlas menyatakan bahwa Bobibos diolah dari bahan pertanian, khususnya jerami. Bahkan, Tim Bobibos mengklaim telah melakukan uji laboratorium yang membuktikan bahwa produk tersebut memenuhi standarisasi mendekati RON 98.
Proses Produksi Bahan Bakar dari Jerami
Hari Setiapraja menjelaskan bahwa BRIN telah lama melakukan riset terkait kemungkinan penggunaan jerami sebagai bahan bakar. Namun, sampai saat ini, proses tersebut masih dalam tahap pengolahan menjadi etanol, bukan langsung menjadi solar atau bensin. Untuk mengubah etanol menjadi bahan bakar yang setara dengan bensin, diperlukan proses lanjutan hingga menjadi biohidrokarbon.
Menurut Hari, tantangan utama dalam proses ini adalah masalah ekonomis. “Sejauh ini, kami belum menemukan titik ekonomis untuk proses seperti itu,” tambahnya. Ia juga menilai bahwa pengolahan jerami menjadi bahan bakar secara langsung memerlukan teknologi yang sangat maju. Jika Bobibos berhasil melakukan hal ini, maka BRIN siap menjadikannya sebagai mitra penelitian.
Persyaratan untuk Masuk Pasaran
Jika kerja sama antara BRIN dan Tim Bobibos terwujud, Hari menjanjikan pendampingan ilmiah berbasis riset. Ia menegaskan bahwa untuk produk Bobibos bisa masuk ke pasar, diperlukan banyak prasyarat. “Kalau teknologi ini terbukti, harus memenuhi paten. Tidak hanya itu, ada syarat standardisasi untuk masuk pasar komersial, termasuk memastikan proses produksi yang stabil,” jelasnya.
BRIN juga mengapresiasi klaim Tim Bobibos yang mampu mengolah 9 ton jerami menjadi sekitar 3.000 liter bensin. “Kalau ini bisa berhasil, potensinya sangat besar karena Bobibos bisa menghasilkan bahan bakar dengan rasio yang cukup efisien dari besaran material mentah,” tutup Hari.
Penelitian Ilmiah Mengenai Selulosa Jerami
Terkait pengolahan jerami sebagai bahan bakar, Profesor Rizal Alamsyah, yang kini bergabung dengan BRIN, memiliki pengalaman dalam penelitian serupa. Pada tahun 2015-2016, ia dan tim di Kemenperin pernah melakukan penelitian tentang pengolahan jerami sampah rumah tangga menjadi etanol.
Rizal menjelaskan bahwa metode yang digunakan dalam penelitian tersebut melibatkan teknologi konvensional. Bahan baku nabati yang kaya akan pati atau selulosa seperti jerami diolah terlebih dahulu. Proses ini bertujuan untuk memecah karbohidrat kompleks menjadi gula sederhana yang bisa difermentasi.
Metode yang digunakan antara lain hidrolisis, likuifikasi, dan sakarifikasi. Proses ini menggunakan jamur pelapuk untuk mengubah pati menjadi gula. Gula yang dihasilkan kemudian diubah menjadi etanol melalui fermentasi oleh mikroorganisme.
Setelah itu, cairan yang mengandung bioetanol dipisahkan dari bahan padat dan sisa gula melalui proses distilasi. Distilasi memisahkan etanol berdasarkan perbedaan titik didihnya dengan air. Proses dehidrasi dilakukan untuk menghasilkan bioetanol dengan kadar tinggi yang dapat digunakan sebagai bahan bakar.
Kendala utama dalam penelitian tersebut adalah rendemen/yield yang belum tinggi (< 5%), sehingga diperlukan optimasi dan teknologi yang lebih canggih.
Evaluasi Terhadap Teknologi Bobibos
Dari penjelasan Rizal, ia menilai bahwa jika Tim Bobibos berhasil menyederhanakan proses dengan bantuan teknologi canggih, maka ini merupakan terobosan baru. “Bila teknologi Bobibos sudah menemukan ini merupakan terobosan baru, dan perlu diapresiasi setinggi tingginya. Dan invensi ini perlu didukung dan kepada penemunya disarankan perlu mematenkan hasil temuannya,” tulisnya.
Paten sangat penting agar hasil penemuan dapat diketahui umum secara ringkas, sehingga tidak membuat orang bertanya-tanya. “Sekali lagi, bila ini terbukti perlu didukung oleh BRIN tanpa apriori terlebih dahulu,” katanya.












