Penelitian Mengungkap Indra Tersembunyi Manusia
Sebuah tim peneliti dari Queen Mary University of London, Inggris, melakukan studi untuk memahami bagaimana otak manusia mengekstrak struktur dari dunia sekitarnya menggunakan pengetahuan bawaan yang telah dipelajari. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa manusia mungkin memiliki indra tersembunyi yang disebut sebagai “sentuhan jarak jauh”, mirip dengan indra ketujuh yang melengkapi indra-indra lainnya seperti penciuman, penglihatan, pendengaran, perasaan, dan propriosepsi.
Dalam eksperimen ini, responden diminta untuk menggerakkan ujung jari secara perlahan di atas kotak yang berisi pasir. Tugas utama mereka adalah melaporkan kapan mereka merasakan keberadaan sebuah kubus yang tersembunyi di bawah permukaan pasir tanpa menyentuh kubus tersebut. Eksperimen ini dirancang untuk meniru kondisi fisika media granular seperti pasir atau garam. Pergerakan dekat objek terpendam menyebabkan pergeseran butiran dan menciptakan perubahan tekanan kecil yang merambat keluar.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam IEEE Xplore pada 21 Oktober lalu menunjukkan bahwa para relawan berhasil mengidentifikasi kubus tersembunyi dengan tingkat akurasi mencapai 70 persen. Eksperimen ini membuktikan bahwa manusia dapat merasakan riak tekanan samar pada material lepas dan mampu mendeteksi target yang tersembunyi pada jarak sekitar 2,7 inci atau 6,9 sentimeter di bawah pasir.
Kemampuan Manusia Lebih Canggih Dibanding Mesin dan Burung
Untuk mengukur efektivitas kemampuan manusia, peneliti menyiapkan pengaturan pendamping yang melibatkan lengan robotik UR5 dengan sensor taktil. Sebagian anggota tim berasal dari Departemen Advanced Robotics di Fakultas Rekayasa dan Ilmu Material. Robot tersebut dilatih menggunakan metode pembelajaran mesin long short-term memory yang dirancang untuk mempelajari pola dalam urutan data.
Meskipun robot terkadang mampu mendeteksi objek pada jarak yang sedikit lebih jauh, kinerja secara keseluruhan dinilai kurang presisi. Robot menghasilkan banyak deteksi palsu dan hanya mencapai akurasi sekitar 40 persen. Pola ini menunjukkan bahwa kemampuan deteksi oleh tangan manusia jauh lebih baik.
Kemampuan sentuhan jarak jauh pada manusia ini memiliki kemiripan dengan perilaku burung pantai seperti red knot. Eksperimen terhadap burung ini pernah dilakukan oleh ahli biologi burung yang hasilnya menunjukkan bahwa burung mampu mendeteksi mangsa yang terkubur dengan merasakan tekanan melalui reseptor khusus di ujung paruh mereka.
Indra yang Tidak Terasah
Meski eksperimen ini tampak membedah kemampuan baru dari manusia, para ilmuwan berspekulasi bahwa indra ini sebenarnya sudah ada sejak manusia purba. Namun, semakin canggihnya zaman dan perubahan perilaku, kemampuan ini tampak hilang karena tidak pernah lagi digunakan.
Temuan ini memberikan wawasan tentang betapa kompleksnya kemampuan tubuh manusia dalam memproses objek yang ada di sekitar mereka melalui indera peraba. Misalnya, menganalisis arus udara dan tekanan pada objek di sekitar mereka. Peneliti menengarai bahwa kemampuan ini berguna bagi para arkeolog di masa lampau dalam meneliti kawasan galian mereka untuk meminimalisir kecelakaan yang berpotensi terjadi.












