Dokter dari Balangan Berkontribusi di Ajang Olahraga Internasional
Meski bertugas di kabupaten, dr Yanti SpPK MKes menunjukkan prestasi yang membanggakan. Dokter yang sehari-hari bertugas sebagai spesialis patologi klinik di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Balangan, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan (Kalsel), baru saja menembus ajang olahraga internasional.
dr Yanti baru saja kembali dari Santiago, Chili, sebagai Klasifikator Internasional pada Youth Parapan American Games 2025. Meskipun Indonesia tidak ikut serta dalam event khusus atlet muda disabilitas dari Amerika, kehadiran dr Yanti di sana menjadi bukti bahwa sumber daya manusia dari daerah mampu berkontribusi di tingkat internasional.
Bertugas sejak 31 Oktober hingga 8 November 2025, dr Yanti menjadi salah satu tenaga profesional yang dipercaya oleh panitia untuk menangani cabang CP Football (Sepak Bola Cerebral Palsy). Tidak hanya mengemban peran administratif, ia memiliki tugas vital yakni memastikan setiap atlet diklasifikasikan secara adil sesuai tingkat disabilitasnya.
“Di cabang olahraga disabilitas, klasifikasi adalah jantung dari keadilan pertandingan. Kami harus memastikan semua atlet bertanding di level dan kemampuan yang setara. Di situlah nilai sejati sportivitasnya,” terang dr Yanti.
Saat gegap gempita laga seperti duel panas sepak bola Argentina versus Brasil atau kemenangan gemilang Chili atas Meksiko, dr Yanti bekerja di balik layar. Ia mengamati, menilai, dan memastikan setiap atlet mendapat kesempatan yang setara untuk unjuk kemampuan.
Meski berangkat dari rumah sakit di Balangan, dr Yanti bukanlah orang baru di dunia olahraga paralimpik. Perjalanan kariernya di dunia medis internasional sudah menembus lintas benua mulai dari Paralympic Beijing 2008, Paralympic London 2012, Paralympic Rio de Janeiro 2016, Kejuaraan Dunia Renang Berlin 2018, Kejuaraan Dunia Irlandia, dan puluhan ajang lainnya di Asia maupun dunia.
“Mungkin sudah lebih dari 50 kali saya mendampingi atlet disabilitas Indonesia,” ujarnya.
dr Yanti merupakan anggota Biro Klasifikasi NPC (National Paralympic Committee) Kalsel dan aktif mengembangkan sistem klasifikasi atlet disabilitas di tingkat daerah maupun nasional. Baginya, tugas di Santiago bukan hanya tentang profesi, tapi juga perjalanan batin.
“Sungguh pengalaman yang luar biasa, melihat semangat atlet muda disabilitas dari berbagai negara membuat saya belajar arti kegigihan sesungguhnya. Mereka berjuang bukan hanya untuk medali, tapi untuk membuktikan diri bahwa keterbatasan bukanlah penghalang,” tuturnya.
dr Yanti juga memiliki harapan dalam waktu dekat, agar paralimpik Balangan atau Kalsel dapat kesempatan berkiprah di tingkat internasional seperti dirinya. “Saya ingin menunjukkan bahwa kita semua punya peluang yang sama, asal mau belajar, bekerja keras, dan menjaga integritas,” tambah ibu dari Rachel Stefanie dan Suzana Eflyn ini.
Setelah kembali dari Chili, dr Yanti kembali menjalankan tugas di RSUD Balangan dengan semangat baru. Ia juga berkomitmen untuk terus membina klasifikasi olahraga disabilitas di Kalimantan Selatan agar semakin maju.












