
Selama dua dekade, para peneliti telah mengamati kelompok simpanse Ngogo di Kibale National Park, Uganda. Mereka menjalani kehidupan yang relatif damai, dengan aktivitas sehari-hari seperti makan buah dan daun, beristirahat, berpindah tempat, serta saling merawat dalam hutan hujan tropis. Namun, komunitas yang awalnya stabil kemudian retak dan berubah menjadi konflik berdarah yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Para peneliti kini melaporkan contoh pertama yang terdokumentasi jelas tentang kelompok simpanse liar yang terpecah menjadi dua faksi terpisah. Salah satu kelompok melancarkan serangan terkoordinir terhadap kelompok lainnya. Target serangan mencakup pejantan dewasa hingga bayi simpanse, dengan total 28 kematian.
“Gigitan, pukulan dengan tangan, menyeret, menendang—sebagian besar dilakukan oleh pejantan dewasa, meski kadang betina dewasa juga ikut menyerang,” kata Aaron Sandel, penulis utama studi yang dipublikasikan di jurnal Science. Penelitian terhadap kelompok Ngogo dimulai sejak 1995. Saat itu, ini merupakan kelompok simpanse liar terbesar yang pernah diketahui, dengan jumlah anggota mencapai sekitar 200 individu, jauh di atas rata-rata kelompok simpanse yang biasanya berjumlah sekitar 50.
Awal Mula Konflik
Mitani menduga perpecahan terjadi karena ukuran kelompok yang terlalu besar. Kompetisi dalam mencari makanan dan memperebutkan pasangan menjadi semakin intens. Selain itu, kematian tujuh simpanse pada 2014 akibat penyakit diduga turut mengganggu hubungan sosial dan memicu permusuhan.
Komunitas simpanse umumnya didominasi pejantan. Ketegangan mulai meningkat pada 2015, bertepatan dengan pergantian pejantan alfa—pemimpin kelompok—ketika seekor simpanse bernama Jackson menggulingkan pemimpin sebelumnya. Sebelum pecah, kelompok ini memang memiliki beberapa klaster sosial. Namun, pada 2015, dua klaster mulai saling menghindar. Situasi makin memburuk setelah wabah penyakit pada 2017 menewaskan 25 simpanse, sebagian besar bayi.
Beberapa bulan kemudian, anggota salah satu klaster menyerang Jackson, meski ia selamat. Menjelang akhir 2017, kelompok itu resmi terpecah menjadi dua: kelompok Barat dan kelompok Tengah. Di sini lah awal mula genderang perang dibunyikan. Sejak 2018, kelompok Barat secara konsisten melancarkan serangan terhadap kelompok Tengah. Studi yang mencakup pengamatan hingga 2024 mencatat 24 kematian, terdiri dari 7 pejantan dewasa dan 17 bayi.

Namun, kekerasan masih berlanjut. Dalam dua tahun terakhir saja, empat korban tambahan tercatat, sehingga total kematian mencapai 28. Banyak simpanse lain juga hilang tanpa jejak, diduga menjadi korban yang tidak tercatat. “Mereka memukuli dan melompat ke tubuh korban tanpa henti. Ada kasus yang berlangsung kurang dari 15 menit,” kata Mitani. Ia menjelaskan, meski luka luar terlihat tidak terlalu parah, korban dewasa kemungkinan meninggal akibat luka dalam. Sementara bayi simpanse bisa dibunuh dengan cepat melalui gigitan atau dibanting ke tanah.
Menariknya, kelompok Barat yang awalnya lebih kecil justru berhasil berkembang dan kini menguasai wilayah lebih luas dibanding kelompok Tengah. Meski para ilmuwan enggan menyebutnya sebagai perang saudara seperti dalam konflik manusia, mereka mengakui adanya kemiripan pola kekerasan.
Kasus serupa pernah dilaporkan di Tanzania pada 1970-an, namun saat itu perilaku simpanse dipengaruhi oleh intervensi manusia, seperti pemberian makanan, sehingga datanya kurang representatif. Simpanse dan bonobo merupakan kerabat evolusi terdekat manusia. Kendati demikian, para peneliti mengingatkan agar tidak langsung menyamakan perilaku kekerasan ini dengan manusia.

“Kita memang memiliki kesamaan karena sejarah evolusi bersama, tetapi juga sangat berbeda karena telah berevolusi selama 6 hingga 8 juta tahun sejak berpisah dari mereka,” kata Mitani. Perilaku kekerasan yang terjadi di antara simpanse Ngogo memberikan wawasan baru tentang dinamika sosial dan konflik dalam spesies primata. Ini juga mengajukan pertanyaan penting tentang bagaimana faktor lingkungan, ukuran kelompok, dan tekanan sosial dapat memicu pergeseran drastis dalam struktur komunitas primata.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”










