Bisnis  

Kisah Kawan Tuli Coffee dan Ruang di Tengah Persaingan Ketat di Kota Solo

Kawan Tuli Coffee and Space Berjuang di Tengah Persaingan Ketat dan Inflasi

Co-Founder Kawan Tuli Coffee and Space, Florentino Bintang, menceritakan bagaimana bisnisnya tetap bertahan meskipun persaingan antar kafe di Kota Solo sangat ketat. Ia mengakui bahwa tantangan tidak hanya datang dari kompetitor, tetapi juga dari kenaikan harga bahan baku, terutama biji kopi yang naik hingga 40 persen.

“Secara bisnis, antusiasme masyarakat cukup baik. Tapi kita bisa bilang kompetisi di Kota Solo cukup ketat. Sepanjang Jalan Slamet Riyadi, semuanya adalah kafe,” ujarnya.

Kenaikan harga biji kopi ini memicu rencana penyesuaian harga menu. “Biji kopinya sendiri bisa sampai 40 persen naiknya. Minyak juga naik semua. Kita sedang pertimbangkan untuk menyesuaikan harga,” jelasnya.

Meski menghadapi tekanan ekonomi, ia bersyukur masih bisa memberikan penghasilan yang layak kepada karyawan. Di tempat ini, ada enam karyawan tuli yang bekerja, meskipun mereka belum sepenuhnya bekerja full time.

“Tapi kita masih bisa puji tuhannya, memberdayakan 6 karyawan walaupun mereka semua masih magang. Mereka tidak full 8 jam. Kekuatan emosional dan fisik berbeda. Banyak yang introvert dan jarang keluar. Ketemu orang capek. Total ada 6 orang plus 2 helper kalau weekend. Sudah bisa dibilang layak. Kita ambilnya pro-rate UMR kita potong hari masuk berapa jam,” jelasnya.

Setiap harinya, ratusan menu dijual di kafe ini. Harga tiap menu berkisar antara 12 hingga 34 ribu rupiah. Ia berusaha menjangkau pasar sebanyak mungkin dengan variasi menu yang menarik.

“Harga per pcs random. Hari Rabu bukan tanggal merah atau libur tapi tiba-tiba ramai. 400 pcs minuman. Weekend standar 500 pcs. Tapi pernah peak saat grand opening hampir 2000. Harga menu mulai dari 12-34 ribu,” tambahnya.

Selain tantangan kompetisi dan inflasi, bekerja dengan karyawan tuli juga menjadi tantangan tersendiri. Komunikasi menjadi kendala utama dalam pengelolaan.

“Rapat bulanan komunikasi tetap PR. Makanya saya sendiri di sini dampingi mereka, saya harus belajar bahasa isyarat. Di bulan keenam udah bisa otomatis. Kalau misal ada sesuatu laporan. 3 bulan pertama saya harus intens daily untuk pantau,” jelasnya.

Karyawan yang tidak menjalankan Standard Operational Procedure (SOP) adalah hal yang biasa. Tenaga lebih diperlukan untuk memahamkan mereka agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

“Kadang-kadang mereka juga daily operation lupa resep, lupa tanya, lupa interaksi. Salah satu SOP interaksi. Barista harus ngobrol dengan customer,” terangnya.

Ia pun berusaha melakukan pendekatan personal untuk membangun kesepahaman. Hal ini membuat berbagai masalah dapat ditemukan jalan keluarnya.

“3 bulan awal aku kasih masukan nangis tahunya marah padahal enggak. Pendekatan personal. Kadang-kadang spend time untuk barista saya ajak ngobrol. Kadang ada masalah yang dihadapi nggak di rumah. Kalau pun ada konflik kita selesaikan dengan baik,” jelasnya.


Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *