Persiapan BPBD Lampung Menghadapi Ancaman Karhutla
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung telah menetapkan status waspada tinggi terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap prediksi fenomena kemarau ekstrem yang diperkirakan akan terjadi pada pertengahan 2026. Fenomena tersebut dikaitkan dengan El Nino, yang diprediksi menjadi salah satu musim kemarau terpanjang dan paling ekstrem dalam 30 tahun terakhir.
Salah satu kawasan yang menjadi fokus utama pengamanan adalah Taman Nasional Way Kambas (TNWK), yang berada di zona merah dan memiliki risiko tinggi terhadap kebakaran. TNWK merupakan kawasan konservasi yang sangat rentan karena luasnya area savana dan hutan yang sulit dikendalikan jika terjadi kebakaran.
Analis Kebencanaan BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, menjelaskan bahwa pihaknya akan melibatkan masyarakat dalam upaya pencegahan dan mitigasi. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengaktifkan Desa Tangguh Bencana (Destana) di sekitar wilayah penyangga TNWK. Destana akan membantu mendeteksi titik api melalui siskamling komunitas, yang sangat penting mengingat luasnya area hutan dan savana yang rawan terbakar.
Selain itu, BPBD juga akan melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memicu hujan buatan jika kondisi cuaca semakin memburuk. Pihaknya juga berkoordinasi dengan berbagai instansi seperti TRC, Pusdalops Kabupaten/Kota, petugas Damkar, serta TNI/Polri dalam menghadapi ancaman kemarau ekstrem ini.
Pada 25-26 Januari 2026 lalu, TNWK sempat dilanda karhutla selama dua hari berturut-turut. Peristiwa ini menyebabkan kerusakan luas pada ekosistem hutan konservasi, dengan total luas lahan yang terbakar mencapai kurang lebih 2.685,43 hektare yang tersebar di lima titik resort.
Jika kebakaran meluas dan sulit dijangkau melalui jalur darat, pemerintah telah menyiapkan langkah luar biasa, seperti water bombing. Jika kekeringan semakin parah, BPBD akan berkoordinasi dengan BNPB untuk melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).
Wahyu juga meminta masyarakat dan pelaku usaha di sekitar perbatasan hutan untuk melakukan langkah mitigasi mandiri secara ekstra. Ia menyarankan agar mereka waspada dalam menggunakan api, memastikan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) berfungsi, serta menyediakan sumber air jika sewaktu-waktu muncul titik api.
Di luar persiapan teknis, BPBD Lampung juga mengajak masyarakat untuk melakukan pendekatan spiritual guna menghadapi fenomena alam ini. Wahyu mengajak masyarakat untuk menyeimbangkan ikhtiar teknis dengan kekuatan doa. Ia meminta dukungan para alim ulama dan pesantren untuk menggelar doa bersama atau salat Istisqa sesuai ajaran agama, memohon agar kemarau ini tidak membawa bahaya yang lebih besar bagi warga Lampung.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












