Bisnis  

Yenna Yuniana, Bos MBG yang Diketahui Hanya oleh Orang Terdekat

Kehidupan Yenna Yuniana yang Membuat Publik Penasaran

Yenna Yuniana, seorang wanita yang kini menjadi sorotan publik, disebut sebagai pemenang tender pengadaan motor listrik MBG. Ia adalah pemimpin dari perusahaan PT Yasa Artha Trimanunggal. Namun, sosoknya justru tidak dikenal oleh warga RT hingga tetangga sekitar. Meski begitu, perhatian publik semakin meningkat mengingat perannya yang penting dalam proyek besar ini.

Perusahaan yang dipimpinnya, PT Yasa Artha Trimanunggal, mendadak ramai dibicarakan setelah memenangkan tender bernilai besar. Tender tersebut berkaitan dengan penyediaan puluhan ribu sepeda motor listrik untuk mendukung program nasional. Program itu sendiri merupakan bagian dari inisiatif Badan Gizi Nasional melalui program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam pelaksanaannya, PT Yasa Artha Trimanunggal diketahui menaungi PT Adlas Sarana Elektrik sebagai penyedia armada listrik. Peran anak usaha tersebut menjadi krusial dalam menyokong kebutuhan kendaraan untuk program strategis pemerintah.

Di balik proyek bernilai triliunan rupiah itu, perhatian publik justru semakin tertuju pada figur sang direktur utama. Alih-alih dikenal luas, keberadaan Yenna Yuniana justru menimbulkan tanda tanya besar. Warga di sekitar tempat tinggalnya pun mengaku tidak banyak mengetahui sosoknya. Di kawasan Grogol Petamburan, ia dikenal sebagai figur yang misterius meski namanya kini ramai diperbincangkan.

Kediaman yang Menyembunyikan Sosok Yenna

Pantauan langsung Tribunnews.com di kantor PT Yasa Artha Trimanunggal pada Sabtu (11/4/2026) menunjukkan situasi yang kontras. Gedung mewah bercat putih yang menjadi markas perusahaan pemenang tender itu tampak sepi di bagian lobinya, hanya dihuni dua unit kendaraan roda tiga hitam yang terparkir. Tepat di seberang gedung tersebut, kediaman pribadi Yenna yang terletak di wilayah RT 07/RW 06 juga tampak sunyi. Rumah bernomor 1850 itu dipagari bilah kayu rapat yang dipasang tinggi, lengkap dengan kanopi yang menutupi hampir seluruh halaman, terkesan mempertegas batas privasi sang pemilik dari dunia luar.

Meski tertutup, Catur, Ketua RT setempat, mencatat keberadaan lebih dari satu unit mobil listrik mewah bermerek BYD yang sering terparkir di sana. Ia juga mengenang momen pandemi Covid-19, saat rumah tersebut sempat dipasangi tulisan “Dijual”. “Enggak tahu itu rumah sudah berganti pemilik atau belum. Karena dulu sempat ada tulisan ‘dijual’ pas Covid kira-kira. Saya enggak tahu apa sudah dibeli atau gimana (oleh Ibu Yenna),” ungkap Catur.

Keberadaan yang Jarang Terlihat

Kesan eksklusif Yenna dirasakan betul oleh warga sekitar. Rena (bukan nama sebenarnya) membenarkan bahwa gedung putih di seberang rumah tinggal Yenna adalah kantor pusat PT Yasa Artha Trimanunggal. Meski sering melihat Yenna dari jauh, Rena mengaku tak pernah sekali pun berbincang dengannya. Nada serupa datang dari Cika (bukan nama sebenarnya). Ia mengaku sama sekali tidak mengenal Yenna meski bertetangga. “Dia tinggal di sini, tapi jarang kelihatan orangnya,” cetus Cika.

Ketertutupan ini menjadi kendala bagi perangkat lingkungan. Catur mengaku tak pernah bertatap muka dengan warganya itu meski jarak rumah mereka kurang dari 100 meter. Komunikasi selalu terputus di tangan perantara pegawai perusahaan yang berjumlah belasan orang. “Saya bentuknya gimana pun tidak pernah ketemu Ibu Yenna itu. Paling karyawan-karyawannya saja yang sering menyebut nama beliau. Sekarang orang susah ditanya-tanya, padahal giliran terjadi apa-apa, Ketua RT yang ditanya,” keluh Catur.

Sejarah Bangunan yang Berubah

Fakta menarik terungkap mengenai sejarah gedung kantor PT Yasa Artha Trimanunggal di wilayah RT 08. Sebelum berdiri megah dengan lobi yang kini dihuni dua kendaraan roda tiga hitam, bangunan itu merupakan aset sederhana bagi warga sekitar. “Dulunya itu cuma kos-kosan dan warung atau kafe milik Pak Haji. Baru direnovasi sekitar tahun 2025,” jelas Catur. Transformasi fisik ini sejalan dengan profil perusahaan yang berdiri sejak 2016 dan kini memegang kendali atas produksi 21.801 unit motor listrik merek Emmo JVX GT.

Pengamanan dan Jejak Masa Lalu

Ketegangan sempat menyelimuti kantor tersebut pada Jumat (10/4/2026). Personel kepolisian dari Polsek setempat tampak berjaga ketat menyusul informasi rencana aksi unjuk rasa terkait pengadaan motor listrik MBG. Ini adalah kali kedua kantor tersebut dijaga aparat tanpa koordinasi dengan Ketua RT, setelah sebelumnya terjadi saat demo Agustus 2025. Berdasarkan data Administrasi Hukum Umum (AHU), Yenna merupakan Beneficial Owner (pemilik manfaat akhir) yang memegang kendali penuh atas perusahaan tersebut.

Nama Yenna Yuniana bukan sosok asing dalam catatan hukum. Pada November 2025, ia tercatat pernah dimintai keterangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi kasus dugaan korupsi bantuan sosial (bansos) beras tahun 2020. Keterangannya diambil untuk tersangka Bambang Rudijanto Tanoesoedibjo, yang merupakan kakak kandung dari pengusaha sekaligus tokoh politik Hary Tanoesoedibjo.

Transparansi dan Realisasi Anggaran

Menanggapi isu yang berkembang, Kepala BGN, Dadan Hindayana, memberikan klarifikasi teknis guna menjamin akuntabilitas proyek motor listrik tersebut. Dadan menyatakan bahwa sebanyak 21.801 unit motor listrik akan disalurkan kepada Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penunjang operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG). Armada ini diprioritaskan untuk mobilitas petugas dalam menjangkau wilayah terpencil yang sulit diakses kendaraan roda empat.

Dadan menegaskan, seluruh proses pengadaan telah mengikuti aturan birokrasi yang ketat dan transparan. “Pengadaan ini telah direncanakan sejak anggaran 2025 dan melalui mekanisme Rekening Penampungan Akhir Tahun Anggaran (RPATA) sesuai regulasi keuangan yang berlaku,” tegas Dadan. Meski didatangkan dalam bentuk Completely Knock Down (CKD) atau komponen impor yang dirakit di dalam negeri, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) motor tersebut diklaim mencapai 48,5 persen. Pemerintah juga memastikan sisa anggaran yang tidak terserap dari target awal 25.644 unit telah dikembalikan sepenuhnya ke kas negara. Saat ini, seluruh unit yang dirakit di fasilitas manufaktur Citeureup tersebut sedang dalam proses administrasi sebagai Barang Milik Negara (BMN) sebelum didistribusikan secara bertahap ke berbagai wilayah Indonesia.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *