Pembukaan Jalur Pendakian Rinjani Menghidupkan Ekonomi Warga Sembalun
Setelah tiga bulan ditutup akibat cuaca ekstrem, jalur pendakian Gunung Rinjani resmi dibuka kembali. Keberadaan jalur ini memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat sekitar, terutama para penyedia jasa ojek di kawasan lingkar Rinjani.
Kenaikan Pendapatan dan Kehidupan yang Kembali Berjalan
Ketua Ojek Lingkar Rinjani, Juliadi, menyampaikan rasa syukurnya atas pembukaan jalur ini. Menurutnya, aktivitas pendakian yang kembali ramai berdampak langsung pada pendapatan para anggota ojek yang sehari-hari mengantar pendaki menuju pos pendakian.
“Alhamdulillah, baru dua hari dibuka kami sudah mulai merasakan hidup kembali. Selama tiga bulan penutupan itu sepi, ada anggota yang jadi buruh tani, ada juga yang mengurus sawah sendiri. Sekarang mulai ada pemasukan tambahan lagi,” ujar Juliadi, Kamis (2/4/2026).
Juliadi menjelaskan, tarif jasa ojek untuk mengantar pendaki dari pangkalan Kandang Sapi menuju Pos 2 Rinjani dibanderol Rp200.000 per orang. Penggunaan jasa ojek ini sangat diminati karena mampu memangkas waktu tempuh secara signifikan.
“Kalau jalan kaki dari sini (pangkalan) ke lokasi bisa memakan waktu sampai 3 jam. Jika menggunakan ojek, pendaki hanya butuh waktu satu setengah jam saja,” jelasnya.
Dampak Sosial dan Kontribusi Komunitas
Menariknya, pendapatan para pengemudi ojek ini tidak sepenuhnya masuk ke kantong pribadi. Komunitas ini secara swadaya menyisihkan sebagian penghasilan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan.
Juliadi merinci, setiap pekan para anggota ojek menyisihkan dana yang totalnya bisa mencapai Rp2.100.000 untuk membantu pembangunan masjid di seluruh Kecamatan Sembalun.
“Uang dari tarif Rp200 ribu itu kami sisihkan secara swadaya. Kami pernah bantu material seperti semen ke desa-desa di Bumbung. Pokoknya kebutuhan masjid yang sedang membangun, kami usahakan bantu,” katanya.
Tak hanya untuk rumah ibadah, dana sosial tersebut juga digunakan untuk membantu warga yang sakit, keluarga yang berduka, hingga perbaikan jalur pendakian secara mandiri.
Sejarah dan Legalitas Komunitas
Sejarah Panjang dan Legalitas Komunitas
Mengenang awal berdirinya, Juliadi bercerita bahwa komunitas Ojek Lingkar Rinjani dibentuk pada tahun 2010 yang awalnya hanya beranggotakan lima orang. Seiring berjalannya waktu, jumlah anggota terus bertambah dari 12 orang hingga kini mencapai 42 orang.
Meski sempat mengalami masa-masa sulit dan kucing-kucingan dengan petugas saat masih berstatus informal, kini komunitas mereka telah resmi diakui oleh pemerintah.
“Dulu sering dipanggil (petugas), tapi kami terus berusaha membawa teman-teman ke arah yang positif. Sekarang kami sudah punya badan hukum dan diresmikan oleh pemerintah,” ungkap Juliadi bangga.
Harapan Masa Depan
Dengan kembalinya aktivitas pendakian, para pengemudi ojek berharap kunjungan wisatawan terus stabil sehingga kesejahteraan masyarakat di lingkar Rinjani tetap terjaga secara berkelanjutan.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”












