Peran Sulawesi Selatan dalam Transisi Energi
Konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak dunia dan gangguan pasokan energi global. Situasi ini menjadi peringatan terhadap rapuhnya ketahanan energi, khususnya bagi negara yang masih bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM) seperti Indonesia. Dalam konteks ini, transisi ke kendaraan listrik dinilai sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Rendra Anggoro, menyatakan bahwa krisis di Selat Hormuz berdampak langsung terhadap perekonomian domestik. Ia menilai bahwa krisis tersebut merupakan shock energi global yang mendorong kenaikan harga minyak dan tekanan biaya di dalam negeri. Menurutnya, kondisi ini memicu efek substitusi energi, di mana masyarakat dan industri mulai beralih ke sumber energi yang lebih efisien.
Dalam situasi ini, kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) menjadi semakin relevan sebagai solusi jangka panjang. Rendra menilai bahwa krisis energi global justru dapat menjadi momentum strategis bagi percepatan pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Namun, ia mengingatkan bahwa peluang tersebut tidak akan berjalan otomatis tanpa dukungan kebijakan dan kesiapan ekosistem.
Lebih lanjut, Rendra menyoroti pentingnya peran pelaku industri otomotif dalam mendorong adopsi kendaraan listrik secara masif. Kolaborasi antara pemerintah dan industri dinilai krusial agar target transisi energi dapat tercapai. Khusus untuk wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel), Rendra melihat potensi yang berbeda dibandingkan daerah lain.
Ia menilai Sulsel lebih tepat diposisikan sebagai pusat distribusi dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik di kawasan Indonesia Timur, bukan sebagai basis produksi otomotif. “Untuk Sulawesi Selatan, potensinya bukan sebagai pusat produksi otomotif, melainkan sebagai hub distribusi, pasar kendaraan listrik, dan pengembangan ekosistem seperti SPKLU dan energi terbarukan di Indonesia Timur,” katanya.
Infrastruktur dan Insentif untuk Kendaraan Listrik
Sebelumnya, penjualan mobil listrik di Indonesia, tidak terkecuali di Sulsel, diprediksi mengalami peningkatan. Prediksi ini seiring dengan adanya potensi kenaikan harga BBM akibat konflik di Timur Tengah. Sejumlah dealer mobil listrik di Sulsel pun optimis, akibat konflik itu membuat penjualan ‘laris manis’.
PT PLN (Persero) berkomitmen membangun ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Hingga 1 April 2026, PLN mengoperasikan 74 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di 54 lokasi di Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar).
Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Sulselrabar, Ahmad Amirul Syarif menjelaskan, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan layanan pengisian kendaraan listrik di wilayah Sulselrabar. “PLN UID Sulselrabar memastikan seluruh SPKLU beroperasi optimal, aman, dan andal untuk mendukung mobilitas pengguna kendaraan listrik, baik untuk aktivitas harian maupun perjalanan jarak jauh,” kata Ahmad Amirul.
Untuk mendukung ekosistem tersebut, PLN juga mengadakan Program Stimulus Percepatan Penggunaan KBLBB. Di antaranya berupa pemberian insentif biaya penyambungan pasang baru dan tambah daya sebesar 50 persen. Ada pula insentif diskon 30 persen pada home charging di waktu Luar Waktu Beban Puncak (LWBP) pukul 22.00 sampai 05.00 Wita. Seluruh promo ini berlaku mulai 1 Juli 2025 hingga 30 Juni 2026.
Ahmad Amirul mengatakan, hingga tahun 2025 sebanyak 219 pelanggan di Sulselrabar telah menikmati layanan Home Charging Service (HCS). Tingginya jumlah pelanggan menunjukkan antusiasme masyarakat yang semakin besar terhadap penggunaan KBLBB. Program HCS sendiri merupakan layanan PLN yang memungkinkan pemilik kendaraan listrik untuk mengisi daya baterai mobil mereka secara praktis dari rumah, tanpa perlu mengunjungi SPKLU.
Lewat layanan ini, penggunaan mobil listrik dapat menekan biaya operasional. Jika menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil, rata-rata biaya operasional per kilometer adalah Rp800. Namun, dengan mobil listrik, biaya operasionalnya hanya sekitar Rp200 per kilometer.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”












