Kinerja Keuangan PT BUMA Internasional Grup Tbk. (DOID) pada 2025
Pada tahun 2025, PT BUMA Internasional Grup Tbk. (DOID) mencatatkan penurunan pendapatan yang signifikan akibat gangguan operasional dan kondisi cuaca yang tidak menguntungkan. Hal ini berdampak pada penurunan pendapatan bersih serta kenaikan kerugian perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis, DOID berhasil mencatatkan pendapatan neto sebesar US$1,48 miliar atau setara dengan Rp24,72 triliun (kurs Rp16.700 per dolar AS). Angka ini turun sebesar 15,71% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai US$1,75 miliar. Penurunan ini terjadi karena adanya penurunan volume pekerjaan, meskipun harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) kontraktor tambang relatif stabil (-1% yoy). Selain itu, porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi juga turut memengaruhi hasil keuangan.
EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) DOID pada tahun lalu turun menjadi US$175 juta dengan margin 14%. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan volume operasional, biaya pesangon yang meningkat, serta kenaikan biaya bahan bakar. Jika biaya pesangon tidak dihitung, EBITDA akan mencapai US$207 juta dengan margin 17%.
Rugi tahun berjalan DOID melonjak sebesar 93,74% yoy menjadi US$125 juta atau setara dengan Rp2,13 triliun. Sementara itu, rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk membengkak 89,54% yoy menjadi Rp116,25 juta atau setara dengan Rp1,94 triliun. Rugi yang semakin besar dipicu oleh penurunan EBITDA, penyisihan piutang usaha dari kontrak di Australia yang telah berakhir, serta penurunan nilai aset di operasional di Australia dan Amerika Serikat.
Namun, beberapa faktor positif turut mengimbangi kerugian tersebut. Di antaranya adalah keuntungan nilai wajar sebesar US$41 juta dari investasi Grup di 29Metals, seiring pemulihan harga sahamnya sepanjang tahun. Selain itu, keuntungan selisih kurs sebesar US$36 juta (berbalik dari kerugian US$19 juta pada 2024 menjadi keuntungan US$17 juta pada 2025), serta pembalikan pencadangan piutang di Australia setelah putusan Mahkamah Agung Queensland yang memenangkan BUMA Australia, dengan penyelesaian keuangan yang diharapkan terealisasi di 2026.
Total aset DOID pada akhir 2025 tercatat senilai Rp1,52 miliar atau setara dengan Rp25,51 triliun, turun 3,74% yoy dari sebelumnya US$1,58 miliar. Perinciannya, liabilitas bertambah 6,10% yoy menjadi US$1,47 miliar, sementara ekuitas anjlok 74,74% yoy menjadi US$48,87 juta.
Direktur DOID Iwan Fuad Salim menyebutkan bahwa kinerja perseroan di sepanjang 2025 telah terdampak signifikan oleh gangguan operasional dan cuaca buruk. Selain itu, ramp-down dan penyelesaian kontrak di Indonesia dan Australia turut menekan kinerja keuangan DOID.
“2025 merupakan tahun yang menantang bagi Grup. Gangguan yang kami hadapi pada kuartal pertama berdampak signifikan terhadap produksi dan pendapatan, sekaligus menunjukkan area-area di mana pendekatan kami dapat diperkuat,” ujar Iwan dalam keterangan resmi.
Dia menegaskan bahwa perseroan sudah merespons dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional, penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan, serta pengambilan langkah-langkah tegas guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan. Langkah-langkah tersebut mampu mendorong peningkatan produktivitas, biaya, dan arus kas sepanjang tahun, serta memberikan fondasi yang lebih kuat saat memasuki 2026.
Lebih lanjut, kinerja DOID pada tahun lalu juga dipengaruhi oleh biaya-biaya non-operasional (non-underlying charges), termasuk penyisihan piutang usaha dan penurunan nilai aset (asset impairment) di operasional Australia dan Amerika Serikat, yang sebagian diimbangi oleh keuntungan nilai wajar (fair value gain) sebesar US$41 juta atas investasi Grup di 29Metals.
Ditelisik lebih dalam, DOID membukukan volume overburden removal turun 19% yoy menjadi 439 juta bank cubic meters (MBCM), sementara produksi batu bara turun 6% menjadi 84 juta ton (MT). Realisasi ini mencerminkan gangguan operasional pada kuartal pertama, kendala cuaca, serta kontribusi yang lebih rendah dari site yang mengalami ramp-down dan yang telah selesai beroperasi.












