Daerah  

BPBD Umumkan Dampak Cuaca Ekstrem di TTU

Dampak Banjir di Empat Desa Kabupaten TTU

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) mencatat sedikitnya empat desa yang terdampak banjir akibat cuaca ekstrem. Keempat desa tersebut adalah Desa Tualene, Oekopa, Oepuah Utara, dan Luniup. Selain itu, longsoran juga terjadi di pemukiman warga Desa Banain A serta pada badan jalan desa di Desa Haumeni.

Di Desa Oepuah Utara, banjir merendam 18 rumah warga setelah air Kali Kaubele dan kolam tambak meluap. Meskipun demikian, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. BPBD melakukan pendataan dan koordinasi untuk penanganan bencana, serta mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap cuaca ekstrem.

Penyebab Banjir dan Dampaknya

Menurut informasi dari Pelaksana Harian (Plh) Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD TTU, Felismino Askeli, banjir pertama kali terjadi ketika air meluap dari Kali Kaubele dan menggenangi dua kolam atau tambak ikan milik dua perusahaan yang berlokasi tak jauh dari pemukiman warga. Kolam-kolam tersebut memiliki pemilik yaitu Nusantara Atambua dan Caritas Kefa.

“Air tertampung di kolam ini selama ini. Ketika terjadi hujan, dia tidak mampu menampung air hujan dan meluap. Sehingga debit air yang terakumulasi dari Kali Kaubele dan kolam ini kemudian merendam rumah warga,” ujar Felismino.

Saat ini, lahan sawah milik warga belum digarap. Oleh karena itu, banjir hanya merendam lahan kosong tanpa tanaman. Air dan lumpur masih menggenangi rumah warga hingga saat ini. Walaupun begitu, debit air mulai surut. Puncak banjir terjadi pada Senin, 23 Maret 2026 lalu.

Upaya Penanganan dan Komunikasi dengan Pemilik Tambak

BPBD Kabupaten TTU sedang melakukan pendataan terhadap jumlah warga yang terdampak. Selain itu, mereka juga akan membangun komunikasi dengan pemilik tambak atau kolam ikan tersebut. Rencananya, BPBD akan meminta pemilik tambak membuat tanggul untuk dinding kolam lebih tinggi agar saat hujan air tidak meluap dari kolam.

Selain itu, rencananya BPBD Kabupaten TTU akan membangun komunikasi dengan Dinas PUPR Kabupaten TTU agar bantaran Kali Kaubele dibuat bronjong untuk mencegah banjir meluap ke sawah dan pemukiman warga.

Terkait bantuan yang akan disalurkan Pemkab TTU, Felismino menyampaikan bahwa pihaknya masih menanti laporan tertulis dari Kepala Desa Oepuah Utara. Bantuan tersebut berupa bahan makanan dan lain-lain.

Pengalaman Warga Pasca Banjir

Sebelumnya, Penjabat Kepala Desa Oepuah Utara, Gaspar Manu mengatakan, sebanyak 5 unit sepeda motor milik warga rusak berat pasca banjir merendam rumah warga sejak Senin, 23 Maret 2026 lalu hingga detik ini. Selain sepeda motor, perabot rumah tangga milik warga juga rusak parah.

Ia menjelaskan, sebagian perabot rumah tangga milik warga terbawa banjir. Pasalnya, saat pertama kali terjadi banjir, ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa serta arus air cukup deras.

“Kalau mobil tidak ada yang terdampak. Karena tidak ada kendaraan mobil,” ucapnya.

Beras milik warga juga direndam banjir. Sedangkan hewan ternak milik warga tidak terdampak banjir. Menurutnya, banjir pertama meluap dari Kali Kaubele dan menggenangi sawah milik warga dan berlanjut ke rumah warga. Masyarakat bersyukur lantaran mereka belum mengolah sawah.

“[Masyarakat biasanya olah sawah di musim kemarau],” ungkapnya.

Pemerintah Desa Oepuah Utara telah melakukan pendataan menyeluruh terkait dampak dari banjir tersebut. Laporan ini telah disampaikan kepada BPBD Kabupaten TTU.

Situasi Terkini dan Kekhawatiran Warga

Desa Oepuah Utara terdiri dari 4 dusun. Bencana banjir terjadi di Dusun 2. Sedangkan warga di dusun 1, 3 dan 4 tidak terdampak. Banjir merendam 18 unit rumah warga di Desa Oepuah Utara, Kecamatan Biboki Moenleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hingga detik ini, banjir masih merendam rumah warga di Desa Oepuah Utara. Kendati demikian, debit air sudah turun perlahan. Warga terdampak banjir saat ini dihantui kekhawatiran apabila hujan lebat kembali melanda wilayah tersebut beberapa waktu ke depan. Hal ini bisa menyebabkan dampak yang lebih parah.

Gaspar menuturkan, banjir terjadi pada Senin, 23 Maret 2026 sekira pukul 05.00 WITA. Hal ini menyebabkan mayoritas warga tidak sempat menyelamatkan harta benda milik mereka masing-masing. Sampai detik ini banjir masih merendam rumah warga dengan ketinggian mata kaki sampai betis orang dewasa.

Banjir tersebut terjadi karena air meluap dari Kali Kaubele pasca hujan deras melanda wilayah tersebut beberapa hari terakhir. Saat pertama kali terjadi banjir, ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa. Warga tidak sempat menyelamatkan harta benda milik mereka karena sebagian warga masih tidur. Mereka kewalahan mengevakuasi harta benda lantaran air mengalir cukup deras.

Sejumlah perabot rumah tangga milik warga hanyut terbawa banjir. Pemerintah desa telah menyampaikan laporan bencana banjir tersebut kepada BPBD Kabupaten TTU. Beberapa orang warga terpaksa dievakuasi ke rumah keluarga yang selamat dari bencana banjir.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *