Daerah  

Festival Balon Ponorogo dan Fasilitas Arus Balik Gratis ke Bekasi

Festival Balon Udara di Ponorogo

Sedikitnya 44 balon udara tanpa awak siap menghiasi langit Ponorogo dalam acara Reog Balon Carnival, yang akan digelar pada Minggu (29/3/2026) pagi. Acara ini menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi masyarakat Ponorogo dalam merayakan Lebaran dengan menerbangkan balon udara.

“Pesertanya membeludak. Kami batasi memang. Total ada 44 tim yang mengikuti Reog Balon Carnival,” ujar Kapolres Ponorogo, AKBP Andin Wisnu Sudibyo, Sabtu (28/3/2026). Dia menjelaskan bahwa setiap kecamatan mengirim satu perwakilan, sehingga terdapat 21 peserta. Namun, akhirnya jumlah peserta dibatasi hingga 24 peserta lokal dan 22 peserta eksebisi.

Kriteria penilaian mencakup keindahan, kekompakan, tema, dan lain sebagainya. Lokasi festival berada di lapangan motor cross di Jurang Gandul. Peserta bisa datang sejak pukul 04.00 WIB, dan balon udara akan diterbangkan pada pukul 05.00 WIB dengan cara diikat.

Festival ini bermula dari tradisi masyarakat Ponorogo setiap Lebaran. Kapolres mengungkapkan inisiatifnya untuk berkomunikasi dengan Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Pemuda Olahraga (Disbudparpora) agar hobi adik-adik dapat diwadahi. Tujuannya adalah untuk mengurangi penggunaan balon udara liar yang berpotensi membahayakan.

Polres bersama Pemkab Ponorogo menyelenggarakan Reog Balon Carnival sebagai upaya melestarikan tradisi dengan cara yang lebih aman dan tertib. Melalui festival ini, masyarakat diarahkan untuk menyalurkan kreativitas tanpa menerbangkan balon udara secara liar atau disertai petasan yang berisiko membahayakan.

Program Arus Balik Gratis

Meski di tengah keterbatasan anggaran, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo tetap berupaya memfasilitasi arus balik Lebaran bagi warganya di perantauan. Sebanyak sekitar 150 penumpang diberangkatkan menuju Bekasi menggunakan tiga armada bus. Salah satunya merupakan program balik gratis dari pemkab, sementara dua bus lainnya hasil inisiatif swadaya warga yang tergabung dalam panitia Sedulur Warok Ponorogo Bekasi.

Pemberangkatan dilakukan di depan Paseban Alun-alun Ponorogo, Kelurahan Mangkujayan, Kecamatan Ponorogo, Jatim, pada Jumat (27/3/2026). Pelepasan dilakukan langsung oleh Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita bersama Forkopimda, sebagai bentuk komitmen membantu masyarakat kembali ke perantauan dengan aman dan terjangkau.

“Ini arus balik dari Ponorogo menuju Bekasi. Ada 3 armada bus. Jumlah penumpang full 150-an,” kata Kabid Angkutan, Dinas Perhubungan (Dishub) Ponorogo, Riza Fitria, Jumat (27/3/2026). Menurutnya, Pemkab Ponorogo memfasilitasi untuk mudik gratis 1 armada dan balik gratis 1 armada. Sementara 2 armada lainnya berasal dari panitia sedulur warok ponorogo bekasi.

Dia menjelaskan bahwa rencananya setiap tahun ada, tapi tergantung anggaran. Tahun lalu, ada 4 armada. Namun, untuk Lebaran 2026 ini karena keterbatasan anggaran hanya 2 armada. “2 armada itu 1 untuk mudik gratis. Sedangkan 1 armada lainnya untuk balik gratis yang diberangkatkan hari ini,” paparnya.

Seleksi Sekda Ponorogo Disorot

Seleksi terbuka (selter) jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Ponorogo memasuki babak akhir dengan diumumkannya tiga besar kandidat. Proses ini mendapat sorotan dari anggota DPRD Ponorogo, Sunarto, yang menekankan pentingnya transparansi dan obyektivitas.

Tiga besar kandidat Sekda Ponorogo adalah Agus Sugiharto (Kepala BPPKAD & Plt Sekda), Henry Indrawardhana (Kepala DPPKB), dan Masun (Kepala Pelaksana BPBD dan Plt Kepal Dinsos P3A). Imam Bashori (Kepala Inspektorat) sebelumnya masuk dalam 4 besar, namun tidak lolos dalam fase uji gagasan dan wawancara.

Sunarto menegaskan bahwa seleksi sekda jangan sekedar formalitas saja. Ia menekankan bahwa setiap pilihan harus didasari kriteria yang sesuai, tanpa ada tedensi apapun, pesenan, atau pengaruh dari pihak manapun. Meski Plt Bupati Lisdyarita memiliki hak prerogatif, ia berharap proses tetap obyektif.

Ia juga berharap pengumuman hasil nilai tes para kandidat dapat diumumkan, sehingga masyarakat bisa mengetahui. Momentum ini menjadi krusial, dimana Pemkab Ponorogo harus menunjukkan perubahan paradigma pasca peristiwa hukum (OTT).

Sunarto juga menyesalkan pernyataan kepala BKD Jatim yang menyatakan proses seleksi hanya formalitas. Ia menilai pernyataan tersebut perlu diklarifikasi. “Jika proses ini hanya formalitas, mengapa proses seleksi terbuka terus dilanjutkan?” tanyanya.

Sorotan ini disampaikan lantaran banyak warga yang bertanya tentang proses seleksi dan nilai yang tidak diumumkan. Sunarto ingin seleksi sekda bukan sekadar formalitas, melainkan proses yang benar-benar transparan dan obyektif.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *