Tragedi Kematian Noni: Cerita Duka yang Mengguncang Keluarga dan Masyarakat
Noni (14), seorang siswi SMP di Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, NTT, ditemukan meninggal secara tragis pada 23 Februari 2026. Ia dilaporkan hilang sejak 20 Februari setelah pergi mengambil gitar. Kepergian Noni meninggalkan luka mendalam bagi keluarganya dan warga sekitar.
Kakak korban, Inosensius Franklin Mula alias Echo, mengenang Noni sebagai sosok ceria yang sangat dekat dengan keluarga. Ia menyebut Noni sebagai adik bungsunya yang sangat pandai bermain gitar. Echo juga menjelaskan bahwa gitar yang menjadi barang bukti dalam kasus ini adalah gitar pertama yang ia beli dari hasil gaji pertamanya sebagai hadiah ulang tahun untuk Noni.
Kenangan tentang Noni
Echo mengungkapkan bahwa hubungan antara dirinya dan Noni sangat dekat. Mereka memiliki ikatan emosional yang kuat. Setiap kali ada masalah, Noni selalu menceritakan kepadanya. “Saya dengan Noni bisa dibilang orang yang paling dekat. Kami tiga bersaudara, dua laki-laki dan satu perempuan. Saya dengan Noni bisa dibilang orang yang paling dekat,” kata Echo.
Ia juga menjelaskan bahwa saat Noni hilang, kepanikan dan kecemasan melanda keluarga. Awalnya, mereka tidak menyangka hal yang aneh terjadi. Namun, ketidakhadiran Noni selama beberapa hari membuat keluarga semakin cemas.
Perasaan Saat Menemukan Noni
Pada Senin, 23 Februari 2026 sore, keluarga akhirnya menemukan Noni dalam kondisi yang menyedihkan. “Saya tetap tenang karena kita harus tetap positif. Saya berpikir semoga saja Noni murni hilang, bukan diculik atau dibunuh. Tapi kalau dari dalam hati, perasaan sebenarnya sudah berpikir ke mana-mana,” ujarnya.
Echo mengungkapkan bahwa kepergian Noni menjadi penderitaan yang tak tergantikan. Ia merasa sangat bersalah atas kejadian ini. “Kalau dulu saya tidak pernah mengajar Noni gitar, tidak pernah membeli gitar, mungkin sekarang tidak begini. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Hanya ada penyesalan,” katanya.
Harapan Keadilan
Echo menegaskan bahwa keluarga memohon aparat penegak hukum memberikan hukuman berat kepada para pelaku. “Kepada bapak-bapak yang berwenang, bapak polisi, jaksa, dan hakim, tolong berikan kami keadilan. Kami tidak menuntut Noni hidup kembali. Kami hanya ingin para pelaku dihukum seberat-beratnya, sesuai perbuatan keji terhadap adik saya,” tegasnya.
Ia juga berharap aparat yang berwenang memberikan rasa keadilan dengan tuntutan yang tegas. “Tolong berikan kami keadilan yang seadil-adilnya. Usut kasus adik kami secara tuntas. Berikan mereka hukuman seberat-beratnya. Walaupun dari kami tidak ada hukuman yang pantas selain mati, tapi kami sadar hidup di negara hukum. Kami harus mengikuti hukum yang berlaku, jadi kami sangat memohon. Berikan mereka hukuman seberat-beratnya. Berikan kami keadilan,” paparnya.
Kehilangan yang Mendalam
Kepergian Noni membuat keluarga merasa kehilangan sosok yang selalu membuat rumah terasa indah. Noni selalu menyapa sang kakak saat pulang dan pergi kerja. “Saya terus terang tidak ada firasat dan mimpi buruk tentang kematian adik saya. Saya bahkan berharap Noni datang ke mimpi saya, tapi sampai sekarang tidak pernah,” kenangnya.
Echo, sebagai kakak pertama, kini selalu menjaga ayah dan ibunya serta keluarga besar tetap kuat. “Kami dalam keadaan duka, semua terpukul. Tapi tanggung jawab saya sebagai kakak, anak pertama, tetap harus kuat. Walaupun hati saya hancur, saya harus menguatkan mama dan bapak. Kalau saya lemah, mereka juga ikut terpukul. Jadi dalam keluarga, saya selalu berusaha tetap kuat, tegar, selalu di samping mereka, mengajak ngobrol, menguatkan mereka. Kita belajar mengikhlaskan karena kami sayang dengan Noni,” ujarnya.
Hubungan dengan Keluarga Pelaku
Echo juga menyampaikan bahwa keluarga mereka dan keluarga pelaku tidak memiliki hubungan dekat, hanya tinggal di desa yang sama. “Tapi saya tidak bisa memastikan apakah kami keluarga atau tidak, mungkin ada sedikit hubungan, hanya satu desa. Kami tetap bersabar. Selama ini pun, sebelum kejadian, kami baik-baik saja. Tidak ada perselisihan. Latar belakang keluarga kami tidak pernah ada masalah dengan siapapun,” tuturnya.
Kenangan Terakhir
Echo mengisahkan kenangan terakhirnya bersama adik, termasuk pesan WhatsApp terakhir sebelum Noni meninggal. “Komunikasi terakhir via WhatsApp pada Januari. Noni kirim video terakhir saat main gitar lagu yang paling ingin dipelajari dan berhasil. Itu lagu terakhir dan petikan gitar terakhir yang saya dengar sebelum dia hilang.”
Pesan untuk Masyarakat
Mengenai keterlibatan masyarakat dalam aksi, Echo menegaskan keluarganya ingin mendapatkan keadilan hukum. “Bahkan orang yang tidak saya kenal pun saat turun ke jalan mengucapkan belasungkawa dan mendukung kami agar keluarga mendapatkan keadilan. Saya sampaikan kepada masyarakat Flores, NTT, dan Indonesia, cukup Noni, jangan sampai ada Noni-Noni lainnya. Tolong jaga anak perempuan kalian. Proses hukum sudah kami serahkan kepada kuasa hukum, keluarga, dan kepolisian. Kami tetap percaya pihak berwenang akan memberikan keadilan,” ujarnya.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











