FLOQ: Gejolak Geopolitik Pengaruhi Risiko dan Peluang Pasar Kripto



Peran Bitcoin dalam Dinamika Pasar Global

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memengaruhi berbagai sektor ekonomi, termasuk pasar keuangan global. Hal ini juga berdampak pada aset digital seperti kripto. Pada awal eskalasi geopolitik, Bitcoin sempat mengalami penurunan. Namun, setelah itu, harga kripto tersebut mengalami penguatan sementara.

Pada Jumat (13/3/2026), Bitcoin mencatat kenaikan sebesar 2,2% menjadi sekitar US$ 72.000. Harga ini berhasil mempertahankan level psikologis US$ 70.000. Namun, pada hari berikutnya, Sabtu (14/3/2026), harga kembali turun sebesar 1,83%. Dalam sepekan terakhir, Bitcoin naik sebesar 4,06%, sedangkan dalam sebulan terakhir meningkat sebesar 6,18%.

CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis menjelaskan bahwa dampak konflik geopolitik terhadap Bitcoin tidak sederhana karena karakteristik aset kripto yang memiliki dua sisi. “Dalam jangka pendek, kripto diperlakukan sebagai aset berisiko. Tapi dalam jangka panjang, semakin dianggap sebagai alternatif penyimpan nilai independen dari sistem keuangan tradisional,” ujarnya.

Yudhono menambahkan bahwa dalam situasi eskalasi global, biasanya terjadi fase risk-off, di mana investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke aset aman seperti emas. Dalam jangka pendek, Bitcoin masih sering diperlakukan seperti aset spekulatif, mirip dengan saham teknologi.

“Ketika konflik meningkat, dolar AS biasanya menguat, yield obligasi naik, dan likuiditas global mengetat. Investor cenderung melakukan flight to cash, termasuk mengurangi eksposur pada kripto,” tambahnya.

Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, Bitcoin yang bersifat terdesentralisasi semakin relevan sebagai “digital gold” karena tidak bisa dibekukan secara unilateral oleh satu negara. Konflik AS-Iran yang meluas berpotensi memengaruhi harga energi dan inflasi global, yang akan berdampak pada kebijakan moneter dan pasar kripto.

Yudhono mengingatkan bahwa krisis likuiditas ekstrem pernah membuat Bitcoin jatuh lebih dari 40% pada awal pandemi COVID-19 Maret 2020. Namun, saat ini pasar kripto lebih matang dengan adanya ETF Bitcoin spot, partisipasi institusi, dan perusahaan yang menyimpan Bitcoin di neraca. Hal ini membuat probabilitas keruntuhan sistemik jauh lebih kecil.

Selain itu, Bitcoin sebagai aset paling likuid dalam ekosistem kripto, relatif lebih tahan terhadap tekanan dibanding altcoin berkapitalisasi kecil.

Di Indonesia, pasar kripto berkembang pesat. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah investor kripto pada awal 2026 mencapai lebih dari 20 juta orang dengan nilai transaksi sekitar Rp 482 triliun sepanjang 2025. Saat ini terdapat 29 entitas kripto berizin dan lebih dari 1.300 aset kripto terdaftar resmi.

Yudhono menilai bahwa meskipun tekanan global bisa memengaruhi nilai tukar rupiah atau harga energi, pengawasan OJK dan basis investor domestik yang besar memberikan stabilitas tambahan. Perilaku investor juga semakin matang, fokus pada manajemen risiko dan diversifikasi portofolio, bukan sekadar ikut tren spekulatif jangka pendek.

Ia menambahkan bahwa adopsi kripto tidak hanya dilakukan oleh generasi muda. Banyak investor di atas 45 tahun mulai menaruh alokasi portofolio ke aset mapan seperti Bitcoin, Ethereum, dan stablecoin, sementara generasi muda juga meningkat minatnya terhadap investasi digital.

FLOQ mencatat hingga kuartal pertama 2026 lebih dari 1,8 juta pengguna terdaftar dan lebih dari dua juta unduhan aplikasi. Menariknya, konflik geopolitik tidak selalu berdampak negatif bagi kripto. Dalam beberapa kasus, konflik justru mendorong adopsi, seperti terlihat pada perang Rusia-Ukraina, di mana Bitcoin digunakan untuk memindahkan aset ketika masyarakat harus meninggalkan negara.

Yudhono menekankan bahwa pasar biasanya melalui dua tahap: pertama fase risk-off dengan koreksi akibat tekanan likuiditas, kemudian fase penyesuaian narasi lindung nilai dan diversifikasi aset non-sovereign.

“Bagi investor Indonesia, pendekatan rasional adalah mengurangi leverage, fokus pada kripto likuid tinggi, dan menggunakan dana untuk investasi jangka menengah hingga panjang,” imbuhnya.

Dengan kapitalisasi pasar kripto global sekitar US$ 2-3 triliun dan basis investor domestik yang terus berkembang, volatilitas saat ini dinilai sebagai bagian dari pendewasaan industri, bukan tanda berakhirnya pertumbuhan sektor kripto.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *