Kisah Pilu di Balik Pembuangan Bayi di Pejaten, Jakarta Selatan
Sebuah kisah menyedihkan terjadi di Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Seorang bayi berusia dua hari ditemukan dalam kondisi terlantar di dekat gerobak nasi uduk. Kejadian ini menimbulkan banyak pertanyaan dan kekhawatiran terkait perlindungan anak-anak di tengah masyarakat.
Bayi perempuan tersebut ditemukan oleh seorang warga bernama Dinda. Ia mendengar suara tangisan bayi dari lantai dua rumahnya. Setelah memastikan sumber suara, Dinda memberitahu ibunya dan kemudian membawa bayi itu masuk ke dalam rumah untuk diamankan sebelum menghubungi pihak kepolisian.
Di dalam tas belanja hitam yang menyertai bayi, ditemukan sepucuk surat yang berisi permintaan tolong. Surat tersebut ditulis oleh seseorang yang mengaku berinisial Z. Dalam surat itu, Z menyebut dirinya berusia 12 tahun dan merupakan kakak dari bayi yang lahir pada Senin (2/3/2026). Ia juga mencantumkan nama lengkap sang adik, AR.
Dalam surat tersebut, Z menjelaskan bahwa ibu mereka meninggal dunia ketika melahirkan. Karena itu, ia memohon kepada siapa pun yang menemukan bayi tersebut agar bersedia merawatnya. Ia berharap adiknya dibesarkan dengan kasih sayang dan tidak mengalami masa depan seperti dirinya.
Kronologi Penemuan Bayi
Kapolsek Pasar Minggu, Anggiat Sinambela, mengatakan bahwa bayi perempuan tersebut diperkirakan berusia dua hari. Perkiraan ini didasarkan pada keterangan tertulis dalam surat yang ditemukan di lokasi. Menurut keterangan polisi, sumber suara tangisan bayi berasal dari gerobak nasi uduk yang terparkir di depan rumah Dinda.
Selain surat, di dalam tas juga ditemukan perlengkapan bayi berupa sekotak susu formula berwarna merah, tisu basah, serta sepasang sarung tangan bayi warna biru. Bayi tersebut selanjutnya dibawa ke Puskesmas Pasar Minggu untuk mendapatkan penanganan awal sebelum diserahkan kepada Dinas Sosial.
Hingga kini, kepolisian masih menyelidiki kasus tersebut. Aparat telah memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi kejadian serta meminta keterangan sejumlah saksi untuk mengungkap peristiwa ini secara menyeluruh.
Kesaksian Ati: Bukan Anak-Anak, Tapi Pria Dewasa
Ati (53), seorang warga yang tinggal tepat di depan lokasi, mengungkapkan kesaksian yang berbeda. Ia melihat seorang pria dewasa berjaket cokelat muda menenteng tas belanja hitam masuk ke ujung gang sekitar pukul 16.30 WIB. Tak lama kemudian, pria itu kembali tanpa tas di tangannya, sibuk berkutat dengan ponselnya.
“Bukan anak-anak, tapi orang dewasa,” tegas Ati, Kamis (5/3/2026). Hal ini memicu dugaan apakah surat tersebut merupakan upaya pengalihan tanggung jawab atau memang ada skenario lain di balik penelantaran bayi AR.
Respon Cepat Wagub Rano Karno: Anak Ini Tidak Salah Datang
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, memberikan respon hangat sekaligus tegas saat ditemui di Balai Kota. Sosok yang akrab disapa Bang Doel ini memastikan Pemprov DKI melalui Dinas Sosial telah bergerak untuk menjamin perlindungan bagi sang bayi.
“Mudah-mudahan anak ini tidak salah datang. Di Jakarta, Dinas Sosial akan turun langsung menanggulangi. Saya berterima kasih kepada media yang mengekspos ini, sehingga kita bisa cepat mengantisipasi,” ujar Rano.
Rano menegaskan bahwa Pemprov DKI tidak akan tinggal diam terhadap persoalan sosial yang melibatkan keselamatan anak di bawah umur. Saat ini, bayi AR telah mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Pasar Minggu dan sedang dalam pengawasan Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











