Kursi Pelatih Semen Padang Panas: 3 Kali Ganti Pemimpin, Degradasi Mengintai

Perjalanan Semen Padang di Super League 2025/2026

Perjalanan Semen Padang dalam menghadapi kompetisi Super League 2025/2026 terlihat sangat berat, seperti yang terjadi pada musim-musim sebelumnya. Kini, manajemen klub telah melakukan pergantian pelatih utama sebanyak tiga kali. Tindakan ini jelas merupakan sebuah perjudian yang dilakukan oleh pihak klub agar bisa lepas dari ancaman degradasi, seperti yang terjadi pada musim lalu.

Pada musim lalu, Semen Padang berhasil lolos dari jeratan degradasi meskipun hanya terpaut dua angka dari PSS Sleman, yang harus turun kasta bersama Barito Putera dan PSIS Semarang. Di musim ini, situasi yang sama kembali terulang. Tim Kabau Sirah saat ini masih menempati posisi terbawah alias juru kunci di klasemen Super League.

Dari total 24 laga yang telah dimainkan, Semen Padang baru mengoleksi 17 poin (4x menang, 5x imbang, dan 15x kalah). Jumlah poin ini sama dengan Persis Solo yang berada tepat di atasnya. Dengan menyisakan 10 laga saja, ancaman degradasi jelas mengintai nasib Semen Padang di akhir musim ini.

Beberapa tim yang menjadi pesaing utama Semen Padang untuk lepas dari zona degradasi antara lain PSM Makassar (23 poin), Madura United (20 poin), Persijap Jepara (20 poin), PSBS Biak (18 poin), dan Persis Solo (17 poin).

Kursi Pelatih yang Panas

Hal menarik yang layak disorot dari Semen Padang musim ini adalah panasnya kursi pelatih tim tersebut. Manajemen klub telah mengganti pelatihnya sebanyak tiga kali. Terbaru, sosok Imran Nahumarury yang musim lalu mampu membawa Malut United tampil meledak, baru saja dipercaya untuk mengisi kursi pelatih Semen Padang per Kamis (5/3/2026) kemarin.

Hadirnya Imran Nahumarury jelas diharapkan bisa menambal kekurangan pelatih Semen Padang sebelumnya. Sebelumnya, sudah ada dua pelatih berdarah asing yang dipercaya melatih Semen Padang, namun gagal. Pertama, ada Eduardo Almeida yang hanya bertahan setelah mendampingi Semen Padang dalam 8 laga. Dalam 8 laga tersebut, pelatih asal Portugal itu hanya bisa mempersembahkan satu kemenangan saja. Tujuh laga sisanya berakhir dengan catatan satu hasil imbang dan enam kekalahan.

Semen Padang akhirnya memecat Eduardo Almeida dan menunjuk Dejan Antonic sebagai penggantinya. Dibandingkan Eduardo Almeida, Dejan Antonic tercatat dua kali lipat lebih banyak mendampingi Semen Padang. Namun secara hasil, Dejan Antonic tidak bisa berbuat banyak untuk mengangkat performa tim tersebut. Dari total 16 laga mendampingi Semen Padang, Dejan Antonic hanya bisa membawa timnya menang 3x dan imbang 4x. Sisanya, sembilan laga lainnya yang dilakoni Semen Padang berakhir dengan kekalahan.

Kini, keberadaan Imran Nahumarury sebagai salah satu pelatih lokal yang berprestasi diharapkan bisa menyelamatkan Semen Padang dari ancaman degradasi pada akhir musim ini.










Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *