Bisnis  

Danau Kerinci Berkurang 70 Hektare, Warsi Kecam Kerusakan Hutan dan Ancaman Debit Air PLTA

Penyusutan Danau Kerinci dan Dampaknya terhadap Ekosistem

Danau Kerinci, yang terletak di Provinsi Jambi, mengalami penyusutan luas permukaan yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Lembaga konservasi KKI Warsi mencatat bahwa luas permukaan danau tersebut telah menyusut sekitar 70 hektare hingga Februari 2026. Direktur KKI Warsi, Adi Junedi, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari gejala ketidakseimbangan tata air di kawasan daerah aliran sungai (DAS) yang bermuara ke Danau Kerinci.

“Fenomena ini menunjukkan fluktuasi hidrologis yang ekstrem. Pada akhir 2024 Danau Kerinci sempat meluap hingga merendam desa dan persawahan di sekitarnya, tetapi di awal 2026 justru mengalami penyusutan drastis,” kata Junedi.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena fungsi resapan dan penyimpanan air di kawasan hulu semakin terganggu. Berdasarkan analisis Warsi, tutupan hutan di wilayah DAS yang bermuara ke Danau Kerinci terus menurun. Pada 2024, luas tutupan hutan di kawasan itu tercatat sekitar 24.225 hektare. Namun pada 2025 tersisa sekitar 22.480 hektare. Artinya, hampir 1.800 hektare hutan hilang hanya dalam kurun waktu satu tahun.

“Total luas DAS yang bermuara ke Danau Kerinci sekitar 97.306 hektare, tetapi tutupan hutannya kini hanya sekitar 23 persen. Padahal jika tutupan hutan di bawah 30 sampai 40 persen, maka DAS menjadi rapuh,” ujarnya.

Junedi menjelaskan hutan memiliki peran penting sebagai “spons alam” yang menyerap dan menyimpan air. Ketika hutan berkurang, air hujan tidak lagi tersimpan dengan baik sehingga memicu banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau. Selain itu, kerusakan hutan juga meningkatkan potensi erosi dan sedimentasi yang masuk ke danau.

Berdasarkan analisis Warsi, potensi material tanah dan pasir yang terbawa ke kawasan Danau Kerinci akibat erosi mencapai sekitar 3,2 juta hingga 4,2 juta ton per tahun. Material tersebut kemudian mengendap di sungai dan danau sehingga mempercepat proses pendangkalan.

“Sedimentasi ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan danau mengalami penyusutan,” katanya.

Dampak PLTA terhadap Ketersediaan Air

Junedi juga menyinggung keterkaitan kondisi Danau Kerinci dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di kawasan tersebut. Proyek PT Kerinci Merangin Hidro direncanakan memiliki kapasitas terpasang 350 megawatt dengan empat unit turbin. Untuk menggerakkan turbin tersebut dibutuhkan debit air sekitar 59,4 meter kubik per detik dari Sungai Batang Merangin yang hulunya berasal dari Danau Kerinci.

Namun menurut Junedi, menurunnya daya dukung lingkungan berpotensi mempengaruhi stabilitas debit air. “Kalau air danau terus menyusut, debit sungai tentu ikut berkurang. Ini bisa berdampak pada kemampuan pembangkit untuk mencapai kapasitas yang direncanakan,” ujarnya.

Ia menilai keberhasilan proyek energi besar seperti PLTA tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kondisi ekologi di wilayah hulunya. “Hutan menjaga air, air menggerakkan turbin, dan turbin menggerakkan ekonomi. Kalau hutan di hulu rusak, maka fondasi ekologis pembangunan itu juga ikut melemah,” kata dia.

Potensi Kebakaran Hutan dan Krisis Air

Selain persoalan air, Warsi juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan di Jambi yang mulai meningkat. Berdasarkan pemantauan sejak 1 Januari hingga 6 Maret 2026, terdeteksi sekitar 195 titik panas di berbagai wilayah Provinsi Jambi. Sebaran titik panas tersebut antara lain berada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebanyak 76 titik, Muaro Jambi 34 titik, Sarolangun 23 titik, Merangin 20 titik, Tanjung Jabung Timur 16 titik, Tebo 10 titik, Batanghari 9 titik, Kerinci 5 titik, Sungai Penuh 3 titik dan Bungo 2 titik.

Junedi menyebut kemunculan titik panas ini berkaitan dengan prediksi musim kemarau yang datang lebih awal di Sumatera. “Krisis air dan krisis kebakaran sebenarnya dua tanda dari masalah yang sama, yaitu melemahnya perlindungan terhadap alam,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan pada akhirnya akan berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari kesehatan, ekonomi hingga stabilitas sosial. Menurut Junedi, menjaga hutan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga keputusan ekonomi dan moral untuk masa depan. “Hutan menjaga air, air menjaga kehidupan,” katanya.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *